The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Sabtu, 21 September 2019

Malkan Junaidi* “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Mama, Anak Semua Bangsa)

Membicarakan Pramoedya Ananta Toer bukan saja mengenang Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Gadis Pantai, Arok Dedes, Bukan Pasar Malam, Mangir, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, namun juga mencermati sosok yang terus mengepalkan tangan menentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan sekadar menentang, tetapi melawan! Melawan pelecehan kemanusiaan. Membicarakan Pram berarti juga mempertanyakan segala usaha memapankan sebuah ideologi melalui sistem edukasi, mekanisme distribusi dan sirkulasi informasi, serta kekuasaan politik dan hegemoni militer. Pram bukanlah sekedar representasi dari utopia literer, Pram menghabiskan lebih dari sepertiga usianya dalam keringat, darah, dan dinginnya jeruji penjara. Ia hidup di puncak-puncak ketegangan kolonialisme, rasialisme, dan autokrasi berkedok demokrasi. Yang dilakukan Pram bukan cuma serangkaian usaha melawan imperialisme oleh bangsa asing, namun juga imperialisme oleh bangsa sendiri. Saat bedil tak lagi ia percayai sebagai alat juang, ia mengangkat pena, mengobarkan dan mengabadikan pikiran-pikirannya. Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia, demikian keyakinannya.

Labelisasi sebagai tokoh sayap kiri yang gencar dilakukan terutama sejak Angkatan Darat memegang nyaris seluruh kendali pemerintahan terbukti efektif mendiskreditkan lelaki yang selama 14 tahun dalam rezim Orde Baru menjadi Tapol tanpa proses pengadilan ini. Bahkan pengakuan blak kotang tanpa tedheng aling-alingnya sebagai penyokong Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) --- dan di saat yang sama penegasannya bahwa di tubuh Lekra sendiri ia teralienasi --- menjelma argumen legitimatif bagi pihak-pihak di seberangnya (terutama mereka yang ambisius mem-PKI-kan Lekra) untuk menghabisi kreatifitas dan karir intelektualnya. Namun dialektika historis pada saatnya menjungkirbalikkan doktrin dan opini abal-abal macam apapun. Sekarang tampak jelas bahwa Pram tidaklah berdiri di atas isme sebagaimana selama ini disangkakan dan dituduhkan. Saat orang mengutuk pemerintah kolonial Belanda, misalnya, ia justru berkata Orang Belanda itu nggak suka kekerasan. Dia suka perdamaian, atau saat orang berpikir Pram pastilah pendukung fanatik komunisme, ia malah enteng saja bilang Sosialisme itu ideologi. Ideologi bisa membosankan. Kalau bosan ya ditinggalkan. Ganti ideologi yang lain, atau meski ia berkali-kali menyatakan pemerintahan Soeharto hanya menyusahkan hidupnya, dan bahwa Mereka ini murid-murid Jepang fasis! Buat mereka, yang penting kekuasaan dan senjata!, namun ia cukup mendukung sistem kepartaian ala orde baru, karena menurutnya sistem multipartai hanya bikin kacau.

Paradoks? Mungkin saja. Namun bukan alasan yang cukup untuk menyimpulkan Pramoedya sebagai sosok yang plin-plan. Pram sebagaimana kesaksian teman-teman dan tulisan-tulisannya sendiri adalah pribadi yang sangat teguh dalam memegang prinsip. Dalam Anak Semua Bangsa, melalui tokoh Mama ia menyampaikan Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati. Agaknya bagi satu-satunya penulis Indonesia yang pernah dinominasikan untuk menerima nobel kesusasteraan ini berprinsip sama sekali tak boleh menafikan sikap kritis dan progresivitas ideologis-intelektual-estetis. Pramoedya bukanlah timur atau barat, kapitalis atau komunis, kuno atau modern, liberal ataupun konservatif. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis, katanya. Pram bukan sosok yang dikotomis dan linear, memadzhabkannya pada isme tertentu hanya akan meredupkan kemeriahan pemikirannya. Ia adalah manusia biasa, memang, namun juga yang berusaha untuk selalu setia pada katahati, di situ luar biasanya.

Pram melewatkan masa kecilnya dalam neraka kependudukan Jepang yang dilukiskannya sebagai “…kehidupan macet. Pasar tak ada lagi, toko-toko tutup, barang tak ada lagi. Harga-harga melonjak. Harga beras melonjak sampai tiga sen seliter.” Sebagai anak sulung ia mewujudkan rasa tanggung jawabnya pada adik-adiknya dengan berjualan tembakau, benang lawe, piring, dan sebagainya. Tahun 1945 masuk dinas kemiliteran dan bekerja di bagian perhubungan, namun memutuskan keluar pada tahun 1947 akibat tidak tahan melihat berbagai praktek korupsi dan kesewenang-wenangan militer pada waktu itu. Kalau menghadapi musuh mereka lari. Tapi kalau menghadapi bangsa sendiri kejamnya bukan main, katanya. Tahun 1950-an Pram tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra. Agaknya visi kebudayaan Lekra sangat bersesuaian dengan apa yang menggejolak di batinnya. Bahwa kebudayaan tak boleh hanya jadi suplemen dari kehidupan ekonomi dan politik. Pengekor tanpa tendensi atau diabaikan seperti makhluk tiada guna. Kebudayaan harus menjadi bidang utama yang menentukan bulat-lonjong- persegi raut Indonesia. Lekra memperjuangkan hidupnya tradisi riset intensif dalam kerja kepenulisan yang dikenal dengan istilah Turba (turun ke bawah); berbaur dan menyelami kehidupan tani-nelayan-buruh; golongan dan atau kelas yang disebut Presiden Soekarno sebagai Sokoguru Revolusi, lalu merefleksikannya secara memadai melalui karya sastra dan kerja budaya yang lain. Bahwa kebudayaan memiliki posisi tawar dan merupakan cara paling damai mengajak dan memobilisasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif mendongkel kekuasaan kolonial dan feodal yang menghambakan rakyat. Lekra membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat. Lekra menganjurkan untuk mempelajari dan memahami pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia, mempelajari dan memahami gerak perkembangannya serta hari depannya. Lekra menganjurkan pemahaman yang tepat atas kenyataan-kenyataan di dalam perkembangannya yang maju, dan menganjurkan hal itu, baik untuk cara-kerja di lapangan ilmu, maupun untuk penciptaan di lapangan kesenian. Semboyan dan azas kerja kreatif Lekra “politik adalah panglima” muncul dari pemahaman bahwa politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan, tapi kebudayaan tanpa politik tidak bisa sama sekali.

Semua ini berkecocokan dengan sejarah kehidupan dan pemikiran Pram, dan oleh karenanya senantiasa menjadikan Pram konsisten “memadukan kreativitas individual dengan kearifan massa” dalam kerja budayanya. Suara-suara dari kelas yang tersisih dan tertindas yang ia dengar sendiri dengan jelas di sepanjang hidupnya digaungkannya dengan keras dan lantang melalui cerpen, novel, dan artikelnya. Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini. Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya. Pram menulis seperti bernapas, tak kenal waktu dan tempat. Ia menulis karena percaya banyak hal yang tak bisa dicapai melalui penyelenggaraan partai politik, pabrik, ketentaraan, juga demonstrasi, bisa dicapai dengan kesusasteraan. Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan. Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. Demikianlah keyakinannya atas kemampuan fungsional sastra dalam membawa perubahan dan memberikan makna lebih dalam hidup. Perampasan naskah, pembredelan buku, dan pelarangan menulis tak pernah menyurutkan semangat atau menciutkan nyalinya. Malahan sikap represif, menolak untuk menjadi dewasa semacam itu, sebagaimana terbukti di manapun, justru semakin mengibarkan namanya di kancah internasional. Dengan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing agaknya belum ada hingga kini tandingan sosok penulis nusantara yang sekaliber Pramoedya. Hingga menjelang wafat Pram tetap berusaha kreatif; selain rutin melakukan hobi bakar sampah, ia pun masih rajin mengkliping artikel-artikel dari koran. Berkurangnya pendengaran dan deraan kepikunan seiring senjanya usia agaknya bukan berarti redanya tekad untuk melawan dengan segala kemampuan dan ketakmampuan.


19 April 2012
Sastrawan Tinggal di Blitar

Senin, 14 Mei 2012 23:29

Pertemuan Jaringan NGO di Blitar

Kamis(14/04/11), di kantor The Post-Institute diselengarakan pertemuan antar jaringan NGO lokal seluruh  Blitar. Acara ini merupakan pertemuan bulanan yang digagas oleh semua NGO di seluruh Blitar, acara dimulai pukul 19.00- 23.oo wib.


Acara tersebut dihadiri oleh beberapa perwakilan dari The Post-Institute, GMNI, Leskia, SBMB, Sitas Desa, MNKP, serta perwakilan dari golongan masyarakat. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama antar jaringan, dan mengkritisi kebijakan pemerintah daerah serta melakukan tindakan praktis atas permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.


Dalam pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan di antaranya yakni pertama, melakukan monitoring dan pengawalan terhadap RANPERDA Kabupaten Blitar, yang nantinya juga meliputi wilayah kotamadaya. Kedua, usulan perda partisipatif dan transparansi. Ketiga  usulan pembentukan konsorsium antar jaringan lembaga (NGO) dalam menngupayakan tindakan pemberdayaan masyarakat demi terciptanya masyarakat sipil yang adil dan makmur.(rif)

Saya pernah percaya puisi merupakan sejenis politik bahasa, pernah meyakini bahwa dengan seperangkat teori, sejumlah peranti linguistik, saya bisa menyiasati bahasa, dapat melakukan kerja arsitektural mewujudkan sebuah bangunan menawan bernama puisi. Namun waktu menyuapi dengan paksa kenyataan yang lain; misalnya betapa ternyata puisi tak selalu bisa saya tulis setiap hari, sering tak dapat saya selesaikan pada tenggat yang saya inginkan. Meski saya pada waktu yang bersangkutan merasa tak kurang teori, tak kehilangan sedikit pun peranti yang saya pikir saya butuhkan.

Dalam perjalanan juga kemudian saya dengan sengaja ataupun tidak menemukan beberapa orang yang memiliki kegemaran membuat asersi-asersi subyektif dan sentimentil, men-judge karya-karya orang lain dengan pseudo-kritik, berlagak seolah ia paus sastra dengan puluhan karya monumental, yang berwenang memberi tahbis dan legitimasi predikatif pada seseorang, misalnya sebagai seorang penyair. “Tak ada kebaruan, gelap, nir-koherensi, sekedar curhat, prosa belaka, tak ada sedikitpun kemungkinan untuk dapat disebut sebagai puisi.” Asersi-asersi semacam ini mau tak mau kemudian membangunkan kembali pertanyaan klise “Apa itu puisi?” dari tidur siangnya. Pertanyaan yang mungkin kita sangka telah mendapat jawaban yang mapan dan pasti, dan oleh karenanya membuat kita kehilangan rasa penasaran untuk menguliknya lagi.

-------ooOoo-------

Puisi, saya percaya, merupakan salah satu ranting kesusasteraan (lisan maupun tulis) yang paling tua. “Epos Gilgamesh” yang dicipta sekitar 3.000 tahun SM cukuplah menjadi bukti. Sebuah puisi “Ia yang Melihat Kedalaman" (ša nagbu amāru) dari epik tersebut bagian awalnya berbunyi: “Ia telah melihat segala sesuatu, sudah mengalami segala rasa, dari kegembiraan yang meluap-luap hingga harapan yang remuk-redam, Ia diberkahi penglihatan untuk menyelami misteri besar, tempat-tempat rahasia, hari-hari purba sebelum Air Bah. Ia telah berkelana ke ujung dunia dan pulang dengan selamat. Kelelahan tetapi tetap utuh. Ia telah mengukir kisahnya di lempeng-lempeng batu.”. Apakah kita bisa menyebut terjemahan ini sebagai puisi? Jawabannya bisa beragam. Yang jelas sejak itu puisi berkembang, menyebar, dan mengalami hibridisasi estetis seiring persebaran dan percampuran manusia di seluruh penjuru dunia.

Kita yang hidup di akhir abad 19 dan awal abad 21 kiranya cukup beruntung sekaligus mungkin terkutuk mendapati kenyataan betapa puisi di masa ini mengalami mutasi genetis sedemikian rupa sehingga ia muncul di hadapan kita sebagai salah satu ras kesusasteraan yang paling heterogen dan ruwet karakteristik-nya. Kita pernah percaya puisi adalah wilayah yang dibatasi oleh kehadiran-kehadiran rima, irama, larik, dan bait. Namun kehadiran Guillaume Apollinaire (Perancis), misalnya, dengan puisi-puisi visual/konkret-nya, juga Afrizal Malna (Indonesia) dengan puisi-puisi prosa posmo dan surealis-nya menggetarkan dan meremukkan kepercayaan ini. Kita pernah mendapati keagungan dan kesakralan puisi yang diperkenalkan Khalil Gibran (Lebanon-Amerika) dan Rabindranath Tagore (Bengali). Tetapi Charles Baudelaire (Perancis) dan Binhad Nurrohmat (Indonesia), misalnya, membuat kepercayaan ini goyah dan limbung akibat banjir kata tabu dan tema profan dalam puisi-puisi mereka. Kita mengenal Chairi Anwar dengan puisi-puisi padat dan lantangnya, WS Rendra dengan balada-balada dan pamfletnya, Sutardji Calzoum Bachri dengan mantra-mantranya, Joko Pinurbo dengan parodi tubuhnya.

Jadi, apa itu puisi? Sekali lagi saya dibuat blangkemen (kesulitan bicara) oleh pertanyaan pendek ini. Begitu banyak jawaban di luar, namun juga sering tak memuaskan hati. Pada akhirnya saya cuma bisa membayangkan beberapa penulis puisi; kenapa mereka menulis dalam bentuk ini dan bukannya bentuk itu, kenapa menulis dengan gaya ini, bukannya gaya itu. Saya bertanya (lebih sering pada diri sendiri) bukan untuk mencari kebenaran sejati, namun sekedar untuk menggaruk rasa gatal yang mengusik sekian masa, sekedar melerai rasa penasaran yang menganggu sekian waktu.

Pertama, saya melihat (mungkin dalam suasana kepahaman yang remang-remang) puisi sebagai entitas yang getol menyuguhkan berbagai pesta ambiguitas dan paradoks; seakan saya dimasukkan ke dalam semacam rumah yang sengaja tak diselesaikan pembangunannya, atau didamparkan di semacam jalan multi-simpang tanpa rekomendasi arah mana yang mesti ditempuh, atau didudukkan di bawah semacam pohon yang akarnya menghunjam ke batok langit sedang cabang-cabang dan dedaunnya menelusuri dan melebati rabu bumi. Sungguh keadaan yang membuat saya merasa sangat istimewa dan idiot sekaligus.

Kedua, saya memandang penyair sebagai salah satu spesies yang paling serius dalam mengoptimalkan pendayagunaan otak kanannya. Ia memandang dan menilai segala sesuatu tidak hanya dengan logika matematis, namun juga (bahkan lebih sering) dengan rasio estetis. Impresi-impresi inderawi dalam diri penyair bertransformasi sedemikian rupa menjadi pengalaman puitik. Di sini penguasaan teknis-teoritis kepenulisan mengambil peran menentukan berhasil tidaknya pengalaman tersebut diderivasi/diturunkan menjadi apa yang kita sebut sebagai puisi. Sayang, tak ada yang bisa menjamin bahwa setiap kesan inderawi akan bisa dikonversi menjadi bentuk verbal dan literer bernama puisi. Ada banyak variabel dan determinan yang mempengaruhi terciptanya kondisi ideal kreatifitas kepuisian. Karena itu masuk akal jika tak setiap hari puisi bisa ditulis. Pengalaman puitik pun, bagai hantu, kerap muncul dan hilang tanpa disangka dan diharap. Ia mungkin tak benar-benar hilang, hanya bagai folder yang ter-hidden secara otomatis oleh sejenis virus. Tak heran jika penyair mengalami “macet ide” secara tiba-tiba. Kadang baru bisa melanjutkan lagi tulisannya setelah sekian hari, bulan, bahkan mungkin tahun.

Ketiga, saya menilai kedudukan dan sikap pembaca dalam merespons sebuah teks sangat menentukan predikat apa yang akan disandang teks tersebut; apakah puisi, igauan di siang bolong, atau sekedar curahan hati. Pembaca pun biasanya memiliki tendensi tertentu; ada yang hanya ingin mengapresiasi, ada yang ingin menyalurkan hobi-menghujat-dan-mencela, dan ada pula yang ingin memberi kritik yang fair. Saya percaya untuk melakukan ketiganya secara sukses orang butuh bakat, nyali, dan keahlian. Khusus untuk memberi kritik yang bertanggung jawab tentu seseorang butuh pengetahuan yang cukup akan sejarah sastra, linguistik, psikologi, filsafat, teologi, dan tentunya agama dan politik.

Seseorang tak bisa memberikan penilaian (baca: kritik) hanya berdasarkan selera dan kecenderungan pribadi. Seorang juga tak bisa memakai metode dan standar estetis yang sama persis saat berhadapan dengan dua atau lebih karya dari jenis yang berbeda. Di dunia lukis misalnya kita tak bisa menilai Pablo Picasso dari sudut pandang Salvador Dali atau Van Gogh, karena ketiganya berada di relnya masing-masing. Pembaca tak bisa mengapresiasi Afrizal Malna dengan cara yang sama saat mengapresiasi Sapardi Djoko Damono. Pembaca yang semantic oriented kemungkinan akan gagal saat menghadapi teks-teks surealis yang berisi juxtaposition dan non sequitur, lalu tergesa menilainya sebagai permainan metafora yang absurd, bahkan lebih lanjut menuduh penulisnya menghindar dari tanggung jawab moral atas nasib dan kondisi kontemporer masyarakatnya. Pembaca semacam ini biasanya juga akan menolak keras pernyataan bahwa penyair adalah jubir dirinya sendiri, bukan jubir masyarakat.

-------ooOoo-------

Hubungan penulis dan pembaca bukanlah hubungan hierarkis di mana yang satu lebih tinggi dan unggul dibanding yang lain, namun hubungan timbal-balik yang sejajar dan saling menguntungkan (mutualisme). Toh pada dasarnya tak ada yang berhak menentukan definisi final dan valid dari puisi. Setiap yang ditulis dengan maksud sebagai puisi berhak disebut sebagai puisi, meski tidak puitis kecuali bagi seorang pembaca saja. Inilah kemerdekaan bagi penulis. Lantas di mana letak kemerdekaan pembaca? Setelah sebuah karya di-publish, maka di situlah dimulai the death of the author di mana pembaca mendapatkan kuasa yang nyaris mutlak untuk melakukan penilaian sesuai dengan radius pemahaman yang dimilikinya. Bagaimana dengan etika kritik? Etika kritik dirasa perlu hanya ketika sebuah karya dipandang sebagai bagian inheren dan integral dari kemanusiaan. Jika tidak maka yang terjadi adalah “pembaca menggonggong penulis berlalu”.

Puisi bisa sangat sederhana, bisa pula sangat pelik. Puisi kadang pula tak berbeda dari daftar menu di sebuah restoran atau jadwal keberangkatan kereta di sebuah stasiun. Yang membedakan pada akhirnya adalah siapa pembacanya. Puisi akan mendapatkan kepenuhan eksistensialisnya saat berada di depan pembaca yang membuka diri sedemikian rupa terhadap teks, yang bersedia melakukan korespondensi memori secara total. Pembaca yang me-lewat-i dan meng-atas-i referensi leksikal setiap kata, yang merespon setiap ujaran tidak cuma dengan rasio empiris, namun juga rasio estetis. Hal ini tentu tak menafikan adanya standar nilai dalam seni, namun bahwa standar adalah perkara yang relatif dan tak begitu saja bisa semena-mena, haruslah juga jadi fakta yang mesti diterima. Kritik struktural memang keren, namun sering tak manusiawi dan tentunya a-historis. Pembaca yang menutup diri dari mengenal siapa penulis sebuah karya (laki-laki atau perempuan, dewasa atau masih kanak-kanak, mahasiswa atau murid SD, tinggal di kota atau di pegunungan, dsb dst) pada hakekatnya sedang menyulap dirinya sendiri menjadi badut sastra. Karena bukankah sangat lucu menagih murid kelas 3 SMP menulis semengesankan WS Rendra? Salam

Penulis: Malkan Junaidi, penyair tinggal di Lodoyo-Blitar.

Mengundang ada para pengiat photo pada Beasiswa Workshop Photo Mulitikultural yang diadakan oleh The Post Institute, syarat dan ketentuan bisa di unduh

Kamis, 10 Mei 2012 17:08

Strategi Mengali Isu Komunitas

Pada 08/04/2012 di cafe Friend, JRKB++ dan Post Institute mengadakan diskusi radio bertajuk strategi mengali isu komunitas untuk produksi program radio. Hadir dalam diskusi tersebut diantaranya Rakom Bumi FM, Java FM, Nirwana FM, Jitu FM, Grast FM. Sedangkan untuk perwakilan dari radio komunitas Harmoni FM tidak dapat hadir, hal ini disebabkan jadual pertemuan yang berbenturan dengan kegiatan di yayasan Harmoni.

Poin yang muncul dari diskusi adalah latar belakang permasalahan dan isu komunitas yang nantinya layak untuk diangkat menjadi tema. Kecermatan dan kejelian dalam memetakan kebutuhan komunitas, merupakan salah satu strategi untuk mengangkat sebuah permasalahan menjadi tema. Pentingnya memilih sebuah tema, tentunya juga berdasar bagaimana sebuah permasalahan komunitas untuk digali dalam memenuhi kebutuhan komunitas. 

Kamis, 10 Mei 2012 04:12

Memahami Spiritual Pekerja Seks

Siapapun tidak mengingkari bahwa dunia prostitusi bukanlah pilihan utama di dalam bahtera sosial manusia. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang memiliki cita-cita itu. Kerasnya kehidupan sosiallah yang mengantarkan sesorang menjalani kehidupan kelam. Mereka berani mengorbankan masa depan dan kehidupannya yang tidak lain hanyalah untuk dapatkan uang bahkan pencarian “jati diri”. Namun realitasnya hidup tidak sekedar butuh uang atau “jati diri”. Ada juga dimensi kerohanian yang tetap menggelegak dan butuh ruang untuk mengekspresikannya.

Ada sebuah anggapan yang sangat aprioristik bahwa para pekerja seks adalah orang-orang pinggiran (terpinggir) dari tindakan keagamaan. Mereka dianggap sebagai orang yang telah berada di luar ajaran agamanya. Padahal sesungguhnya mereka adalah sama sebagaimana manusia lainnya, yang tetap butuh pada dunia keyakinan Tuhan yang misterius dan amal kebaikan. Tetapi, stigma negatif yang sudah terlanjur melekat demikian kuat dan dibangun secara terstruktur (terutama oleh kaum agamawan) telah menjadikan mereka ini sebagai orang-orang terbuang secara struktural dan kultural.

Agama selalu menyangkut persoalan kehadiran yang kudus dalam kehidupan manusia. Agama selalu terkait dengan misteri ketuhanan. Tuhan dapat hadir dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Ini adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak dapat diintervensi oleh manusia. Tuhan dapat saja hadir di hati manusia macam apa pun. Sebut saja Rini, 30 tahun, seorang perempuan dari lumajang. ”Saya datang ke lokalisasi ini agar dapat banyak menabung untuk dikirim kepada keluarga di daerah. Bahkan saya ingin memberangkatkan ibu pergi haji.”tuturnya. Ketika ada yang mengatakan bahwa uang dari bekerja di  lokalisasi tidak sah dipakai untuk ibadah, Rini hanya tertawa kecil. ”Jangan bicara halal atau haram ah! Apakah pejabat yang naik haji pakai duit korupsi juga halal?”selorohnya.

Gelegak spiritual juga dapat disimak pada kisah Murti, 25 tahun berikut ini: Murti memang sengaja tidak menerima pelanggan di malam Jumat agar memiliki cukup waktu untuk meratapi nasibnya. Meskipun tidak menjalankan sholat lima waktu secara teratur, namun ia mengaku tertekan dengan keadaannya saat ini. Ia meyakini bahwa meskipun dirinya kotor, suatu saat akan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Ia berkeyakinan bahwa urusan doanya diterima atau tidak, itu urusan Tuhan. Saat malam Jumat ia mengaji yasin, tahlil dan Alquran. Serta setiap hari Kamis, ia juga menitipkan sedikit uang pada pelayan lokalisasi untuk infaq di masjid terdekat. Demikian juga dengan Sarah, 28 tahun yang tidak menerima tamu hari Minggu karena pada hari itulah dia melakukan ibadah pagi di gereja dan kegiatan kerohanian lainnya. Dan saat romadhon tiba, sebagian besar dari mereka mengkhusukkan diri untuk menjalankan ibadah puasa beserta amalan-amalannya, bukan semata-mata karena razia aparat namun lebih dari itu karena dimensi spiritualitas yang menggelegak dalam diri mereka.

Namun segala kebaikan yang mereka lakukan, mengikuti rutinitas ibadah, acara-acara keagamaan, sering dipandang negatif dan dicurigai oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindakan semu, tidak sungguh-sungguh dan munafik. Padahal mereka juga manusia yang punya spiritualitas dan bahasa sendiri dalam mengapresiasikan dan berdialog dengan Tuhan. Dari perspektif inilah, diketahui bahwa pekerja seks  memiiki ruang agama  di ruang belakang yang tersembunyi, berada dalam kesadaran hakiki, pengakuan keberagamaan, doa, harapan,takdir dan kepastian Tuhan yang mereka yakini sebagai realitas menakjubkan. Indahnya memandang dunia tanpa prejudice dan sudah saatnya semua berlapang dada bahwa di balik kehidupan yang gemerlap dengan noda hitam ternyata ada sesuatu yang masih berwarna putih, ada mutiara di dalam debu. Namun konstruksi sosial tentang pekerja seks meyebabkan stereotipe mereka selalu berada dalam ruang sosial yang tidak menguntungkan, selalu terpinggirkan, dikonstruksi negatif dan berada di ruang tulisan tercecer, berita diuber-uber, diperiksa dan ditangkap.

Pengkajian terhadap spiritualitas para pekerja seks sesungguhnya adalah usaha untuk memahami kenyatan sosial yang selalu dipandang sebelah mata, terutama oleh kaum agamawan, bahwa pekerja seks adalah makhluk kotor dan seabreg simbolisasi miring lainnya. Kajian ini justru akan mengungkap tentang "rasa" beragama para pekerja seks yang sebenarnya sama dengan lainnya, yaitu memiliki harapan kepada Tuhan tentang hidup yang layak sebagai manusia sehingga harus memahaminya dengan empati dan lebih ramah dalam relasinya dengan para pekerja seks terutama bagi kaum agamawan dan pembuat kebijakan juga masyarakat pada umumnya.Allahu a’lam bishoab.

Penulis: Titim Fatmawati, (Divisi Perempuan dan Anak, The Post-Institute)

Senin, 07 Mei 2012 09:28

Renungan

Bagaimana aku tidak memikirkanya
Sebegitu dalamnya kau menjangkarkan cinta ini
Cinta yang kau tulis dalam lembaran hidupku
Cinta yang kau lukis dalam kanvasku
Begitu besarnya kau mencintaiku
Wajahmu yang selalu kau hiasi dengan senyum
Bahkan saat kau meninggalkankupun
Kau persiapkan segalanya dengan cinta
Kau tinggalkan segalanya dengan kasih
Aku disadarkan saat ketiadaanmu
Aku tidak dimampukan menghapus penyesalan
Dengan memberikan sisa hidupku untuk cintaimu
Tanpa kamu pernah mengerti
Bahwa ketulusan yang kau beri
Tertanam kuat dalam relungku

Senin, 07 Mei 2012 08:55

Parade Film Indie

Sabtu (26/03/11), di Balai Desa Kawedusan diselengarakan parade film indie yang merupakan lounching radio Track FM Ponggok-Blitar. Kegiatan ini  diselenggarakan oleh radio Track FM bekerjasama dengan The Post-Institute Blitar, yang dimulai pukul 19.00- 24.oo wib.

Menurut Agus Track FM koordinator acara, bahwa kegiatan pemutaran film indie merupakan salah satu cara untuk merangsang masyarakat khususnya pemuda dalam berkreatifitas dalam  karya seni film. Selain untuk mendorong dalam mempelajari teknik pembuatan film, kegiatan ini juga bertujuan untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat lewat isi film, serta menegaskan bahwa film bukan hanya sebagai hiburan belaka.

Jum'at, 04 Mei 2012 02:58

Nyaleg: Jadi Kaya Atau Jadi Gila

Suatu siang, pada tanggal 11 April, saya dating ke warung bakso langganan di kota Blitar. Tanpa sengaja, teman sesama penggemar bakso yang kebetulan nyaleg di legeslatif kota Blitar nongrong sambil melahap bakso dengan enaknya. Tanpa basa-basi penulis langsung menanyakan “gimana bos suaranya?”. Masih sambil menyantap bakso beliau menjawab” wah berat, sekarang ini harga satu lidi mahalnya minta ampun, tetap saja kalah sama yang uangnya banyak” ungkapnya. Maklum beliaunya cumin habis puluhan juta jadi kalau cuman dapat 360 suara saja dirinya bisa menerima.

Untuk menjadi caleg secara umum memang harus aktif terlebih dahulu. Minimal aktif dibeberapa organisasi kemasyarakatan, paling tidak ikut yasinan lah, jadi minimal orang satu RT memilih. Herannya, caleg sekarang tidak tahu berasal dari mana langsung ngasih aja. Jujur saya personal dapat barang bermacam-macam selama masa kampanye, kaos, madu satu botol, bawang putih seperempat kilo, dua kalender, satu botol pupuk organik, dua pak rokok dari dua partai dan banyak tanggalan. Sayangnya tidak ada yang ngasih duit hehe…Yah, apapun itu, yang jelas kami masyarakat tidak memilih berdasarkan banyaknya materi yang diberikan. Saya memilih caleg yang rasional. Rasional disini bisa juga karena pengaruh ibu-ibu tetangga waktu belanja dipagi hari. Yang jelas pemberian tersebut tidak begitu dihiraukanlah.

Tidak bisa dibayangkan lagi, masing-masing caleg tersebut harus menghasilkan berapa juta untuk kampanye. Salah satu ketua partai tingkat kabupaten bahkan mengaku menghabiskan dana 1 M.  bagi mereka yang tidak punya cadangan dana biasanya mengusahakan dengan menjual tanah atau property lainnya. Lantas ketika mereka berhasil menduduki kursi legislative bukankah otomatis langsung mencari-cari cara bagaimana uang yang telah diinvestkan bisa balik hanya dengan mengandalkan gaji.

Pemahaman menjadi dewan adalah cara untuk hidup makmur meruakan pemahaman yang tidak salah tetapi berbahaya. Sebab embrio untuk korupsi berasal dari sini. Dewan untuk rakyat berubah menjadi dewan untuk kaya. Lantas kalau tidak korupsi dari mana mereka bisa mengganti uang kaos yang begitu banyak? Kalau tidak korupsi dari mana mereka mengganti uang pemasangan banner?

Ingin bukti? Simak saja cerita-cerita bahwa banyak caleg yang gagal mendatangai RSJ. Pasca pileg RSJseluruh indonesia mengalami lonjakan penerimaan pasien sekitar 100%. Bagi mereka yang mendekatkan diri secara spiritual, berbondong-bondong ke kyai untuk terapi jiwa. Lebih tragis lagi ada caleg yang bunuh diri. Jika mereka benar-benar memperjuangkan hak rakyat seharusnya berwawasan bahwa walaupun tidak menjadi dewan masih banyak cara untuk berjuang, atau paling tidak banyak cara untuk kaya. Berjuang tidak harus menjadi dewan. Dan menjadi kaya juga tidak harus menjadi dewan.

Untuk Blitar sendiri, kasus yang masih ditemui pada caleg gagal biasanya menghilang atau sakit tidak jelas. Tapi apaupun itu, kesiapan mental caleg haruslah kuat. Jika siap menang maka juga harus siap kalah. Yah kalu dipikir-pikir ini tidak seperti pesta demokrasi, tetapi lebih mirip judi atau untung-untungan. Semoga saja para legislative yang berhasil medduki kursi DPR merupakan mereka yang benar-benar siap secara mental. Tidak untuk membohongi rakyat tetapi untuk membantu rakyat menemukan kemakmuran dan keadilan (redaktur).

Jum'at, 04 Mei 2012 02:50

Refleksi Pemberontakan PETA di Blitar

Pendudukan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun menyisakan cerita sejarah yang menarik. Masa pendudukan di mulai pada tahun 1942, selisih dua tahun dengan bersamaan  dimulainya perang dunia ke II pada bulan Mei 1940. Ekspansi jepang ke Indonesia juga merupakan sebab akibat dari terjadinya perang dunia kedua tersebut. Di daratan Eropa Jerman dengan rezim nazinya mencoba melakukan ekspansi besar-besaran, Jepang sebagai Negara sekutu Jerman juga melakukan pendudukan di Negara-negara Asia timur lainnya.

Pendudukan jepang di Indonesia membawa implikasi bagi kehidupan rakyat Indonesia. Jepang melakukan segala upaya untuk memusnahkan apa-apa yang berpengaruh barat, seperti melarang pemakaian bahasa Belanda dan inggris, mensosialisasikan pemakaian bahasa Jepang, meruntuhkan patung-patung Eropa, serta jalan-jalan diberi nama baru dan pengembalian nama Batavia menjadi Jakarta kembali.    

Jepang juga merangkul tokoh-tokoh nasionalis, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat. Hatta dan Syahrir sebenarnya sangat menentang Jepang, dikarenakan Jepang ber-ediologi fasis. Strategi Hatta untuk mencari jalan kemerdekaan bagi rakyat, adalah bekerjasama dengan pihak Jepang. Berbeda dengan Syahrir yang lebih memilih membentuk jaringan bawah tanah guna melawan musuh. Sementara Soekarno lebih menganggap kedua Negara seperti Belanda dan Jepang sebagai imperialis, tetapi Soekarno juga bersama-sama dengan Hatta melakukan strategi bekerjasama dengan Jepang.

kebijakan Jepang untuk memobilisasi rakyat, adalah membentuk tentara pembela tanah air atau disingkat PETA. Berdiri pada bulan Oktober 1943, ini merupakan tentara sukarela yang dimaksudkan sebagai pasukan gerilya pembantu guna melawan serbuan pihak sekutu. Disiplin PETA sangat kuat sekali dan ide-ide nasionalis sangat dimanfaatkan untuk indoktrinasi.

Pemberontakan PETA Blitar dan Hari Valentin

Pemberontakan PETA di Blitar, terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Soeprijadi. Dengan, melakukan serangan terhadap gudang senjata. Tetapi, pemberontakan mampu  dipadamkan oleh pihak jepang, serta semua yang terlibat dalam pemberontakan dijatuhi hukuman mati termasuk pemimpin lapangan yang banyak dilupakan yaitu Moeradi. Sementara, Soprijadi yang paling bertanggungjawab akan pemberontakan menghilang tanpa diketahui sampai saat ini.

Peringatakan pemberontakan PETA seharusnya menjadi tonggak bangsa dalam memahami nilai-nilai sejarah. Sejarah pemberontakan PETA di Blitar lebih banyak dilupakan, masyarakat  saat ini lebih mengingat tanggal 14 Februari sebagai hari valentine. Dari hal tersebut diatas, dapat terlihat bahwa  ditinggalkan dan dilupakannya sejarah bangsa sendiri merupakan peristiwa yang terjadi di masyarakat. Pengadopsian budaya barat cenderung marak terjadi, daripada belajar akan pentingnya sejarah bangsa.

Sebuah refleksi tentang semua ini adalah, bahwa kurangnya pemahaman sejarah yang benar, karena sejarah juga menjadi manipulasi pihak penguasa, serta Negara tidak melakukan pendidikan karakter individu pada masyarakat yang cenderung dipengaruhi oleh sistem global (Arief A. Setiawan, Staf Peneliti The Post-Institute).

  

Page 6 of 6