The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Sabtu, 21 September 2019
Selasa, 16 April 2013 15:13

Pendekar Ayu Sabrang Lor

Kaki-kaki kecil ini terus membuatku ingin tetap melangkah menuju ke luar dari hutan lembab dan dingin ini. Hanya masih kubawa ditangan kananku sebilah golok yang menemani. Hutan terlihat sangat lebat. Apabila semakin menuju gelap, suara-suara hewan buas mulai melengking dan menunjukkan diri mereka. Tubuhku yang kecil tak pernah berpengaruh dengan mental kuatku. Ribuan kali Ibuku yang merupakan seorang pendekar selalu melatih untuk membentukku menjadi seorang ksatria tangguh. Pendekar ayu sabrang lor adalah julukan Ibuku dalam dunia persilatan. Kini Ibuku melakukan pertapaan di sebuah bukit di balik gunung raksasa ini. Aku masih mengitari gunung ini untuk menuju ke bukit dimana ibuku berada. Sebuah berita tentang tentang Gerombolan Maling Abang yang telah melakukan perampokan besar-besaran di desa harus didengar oleh Ibuku. 

Masih terus berjalan di antara pepohonan besar dan semak-semak. Terkaget aku dengan suara auman kucing besar. Benar. Tiba-tiba meloncat dari arah semak seekor harimau besar yang sedang kelaparan. Meloncat aku kebelakang. Aku amati tingkah polah hewan raksasa itu. Mencoba dia menerkamku. Kembali aku meloncat ke arah kiri. Kutangkupkan tangan di depan dada. Kurasakan aliran tenaga dalam mulai mengalir deras dalam tanganku. Begitu luar biasa besar. Tidak menunggu waktu lama harimau itu meloncat dan ingin menerkamku. Tanganku segera aku ubah menjadi dorongan ke depan. Tepat mengenai perat harimau itu. Seketika harimau itu terpelanting dan mati.

Sekelebat bayangan putih bertebangan di atas peohonan. Tak berapa lama muncul di depanku.

"Siapa kisanak" Tayaku

"Maaf denbagus, saya tidak bermaksud mengganggu denbagus. Saya melihat jelas perkelahian den bagus yang masih berusia sangat muda mampu menewaskan seekor harimau. Maaf saya lancang den bagus, Ada hubungan apa den bagus dengan Pangeran Warendrajati. Jurus yang kisanak keluarkan tadi adalah jurus beliau"

Aku termenung. Ayahku yang sejak kecil melatih jurus ini padaku. Ayahku adalah orang kampung biasa dan bernama suparmin. 

"Maaf kisanak saya tidak mengenal nama yang anda sebutkan. Ayahku yang mengajarkan ini padaku."

Kulihat irang dengan baju-baju putih dan terlihat kuat ini terdiam dan tersenyum. 

"Den bagus akan menuju kemana"

"Saya akan menuju ke bukit di balik gunung ini kisanak. Aku harus memberikan sebuah berita kepada ibuku yang sedang melakukan pertapaan"

"Siapakah nama ibumu den bagus"

"Pendekar Ayu Sabrang Lor"

Ku lihat raut wajah orang itu tersentak kaget. 

"Ada apa kisanak, apakah kisanak mengenalnya"

"Siapakah pendekar yangtidak mengenal nama itu. Sosok wanita yang memiliki kharisma luar biasa dan sakti. Seorang wanita yang mampu memberikan sebuah perngorbanan besar untuk orang yang membutuhkan. Dia adalah seorang wanita satu-satunya di dunia persilatan yang tak terlihat sebagai seorang pendekar. Namun beliau adalah seorang wanita yang meneteskan air-air penenang dalam panasnya dunia persilatan"

------CERPEN MENYAMBUT HARI KARTINI-------------- BERSAMBUNG.

Penulis adalah Erwin Sidatta Kontributor Kolom Sastra Post Institute tinggal di Kediri 

Laki-laki tua itu tanpa baju. Hanya celana hitam kumal yang menempel di badannya. Kumis dan brengos tumbuh tak terawat membuatnya terlihat garang. Dia duduk di bawah pohon beringin kembar yang tumbuh di tengah hutan yang gersang. Rambut hitam khas asia sudah tak terlihat lagi, tergantikan dengan warna putih mengiringi lamanya dia berada di alam nyata ini. Tangan kanannya memegang sabit sembari di asahnya pada batu besar yang ada tepat di bawah salah satu pohon beringin kembar itu. Aku mencoba berjalan dan mendekatinya. Semakin dekat dan dekat. Benar-benar terlihat kesederhanaan yang kuat. Kengerian itu kurasakan saat kulihat rambut-rambut yang memenuhi wajahnya. Kuhentikan langkah kakiku saat kulihat dia juga menghentikan mengasah sabit.
"Nak mas, kenapa berhenti. Apakah tampang saya sangat mengerikan. Apakah begitu menjijikan untuk didekati seorang anak manusia"
Sangat terkaget aku mendengar orang tua itu berbicara. Perkataanya begitu mengena. Belum sekalipun aku berbicara dia sudah dapat mengatakan apa yang aku fikirkan.
"Kenapa nakmas masih berdiri, silahkan kesini. Istirahat sebentar"
Segera kulangkahkan kaki kembali menuju arah orang tua itu. Tempat yang sejuk kurasa untuk istirahat.
"Nakmas dari mana, mau kemana"
"Saya Panji, dari Padepokan Kyai Bumi. Saya di utus guru saya untuk mencari ringin kembar. Setelah sampai ringin kembar nanti akan bertemu dengan seorang raja memakai mahkota kasat dan Jubah Indah. Tapi yang saya temui anda disini dan tidak ada orang lain"
Kulihat orang itu tersenyum manis. Matanya memperlihatkan ketenangan dan kedamaian, dan tidak berkata apapun.
“Apa yang ingin kamu cari setalah bertemu dengannya”
“Saya ingin belajar darinya”
“Baiklah nakmas. Saya tahu dimana dia berada.”
Tak lama kemudian orang tua itu berdiri. Meminta izin untuk meminjam udeng yang aku pakai. Kemudian melipat-lipatnya hingga berbentuk panjang dan pas dengan mataku.
“Nuwun sewu nakmas, biarkan orang tua ini untuk menutup mata nakmas dengan ini ya”
Aku mengangguk begitu saja sebagai pertanda aku mau. Sebelum mataku tertutup, di tuntunnya aku menuju ke arah selatan tepat 100 meter dari arah jalan menuju di antara beringin kembar tersebut. Dengan segera orang tua itu menutup mataku. Dia menyuruhku untuk segera melangkah menuju ke antara beringin dan melewatinya. Semua tak terlihat sama sekali. Gelap. Tak ada cahaya satupun.
“Silahkan berjalan nakmas, dan temui sang raja”
Aku mencoba melangkahkan kaki perlahan tapi pasti untuk melewati di antara beringin kembar tersebut. Tak kuduga, tiba-tiba suara-suara aneh bermunculan. Aku seperti berada di tengah pasar. Aku terdiam. Bagaimana mungkin dalam fikirku. Suara keras, tangisan anak-anak, dan beragam suaran lainnya muncul disini. Aku terus melangkahkan kaki mencoba menenangkan diri dan terus melihat ke dalam ketengan diri. Suara itu tiba-tiba tak terdengar. Sungguh ajaib. Terus aku langkahkan kaki dengan tenang.
“Sudah nakmas berhenti”
Tangan tua itu mengelus bahuku, kemudian membuka kain yang menutup mataku. Begitu terkejut aku. Sama sekali aku tidak berpindah dari tempatku. Sejak tadi perasaan aku sudah melangkah melewati pohon itu. Apakah penglihatan batinku salah. Baru kali ini batinku salah. Orang tua itu kembali terlihat tersenyum.
“Apa yang nakmas rasakan”
“Saya merasa tadi saya sudah berjalan. Mendengar beragam hal. Mengikuti hati. Dan terus berjalan. Kenapa saya masih berada pada tempat saya”
“Mahkota kasat adalah apa yang ada dalam fikiranmu pertama kali saat kamu mencoba untuk melewati pohon beringin kembar. Kamu akan menggerakkan tubuhmu untuk mencoba melewati beringin itu hanya dari fikiranmu yang belum tentu itu akan kau dapatkan. Sedangkan Jubah Indah adalah apa yang kamu lihat saat aku menutup matamu. Semua begitu gelap. Tapi terasa indah saat kamu dapat melihat cahaya, gambar, menuju ketenangan hatimu. Tak mudah terpengaruh dengan apapun untuk menuju tujuanmu. Itulah sang raja dengan mahkota kasat dan jubah Indah”
Angin tiba-tiba bertiup kencang. Mataku berkedip. Orang tua itu hilang seperti terbawa angin. Aku seperti orang linglung. Pelajaran yang singkat nan dalam dari seorang tua yang sederhana namun terlihat sangar dari penampilannya tapi mampu memberikan pelajaran yang dalam. Tak ku ketahui nama beiau. Apakah beliau wali, Auliya’, Pendekar, atau apa. Beliau telah memberikan pelajaran hebat.

Penulis adalah Erwin Sidatta Mahasiswa STAIN Kediri Jurusan Ilmu komunikasi pernah PKM di Post Institute

Blitar, post-institute.org - Keberadaan media di Kota dan Kabupaten Blitar memiliki perkembangan yang besar. Tercatat lebih dari 15 radio yang bersifat komersil dan komunitas berdiri. Tentu para politisi mencoba menggunakan media radio sebagai penunjang kebutuhan popularitasnya.

Keberadaan sistem demokrasi yang dianut oleh Indonesia saat ini, menjadikan media memiliki peran sebagai bagian dari civil society. Opinion Creator. Peran media tentu dapat memberikan dampak yang kuat bagi publik. Maka media memiliki amanat yang besar dalam penyampaian informasi yang benar dan objektif. Kekuatan media tersebut membuat para politisi berusaha memfaatkan untuk menunjang kepentinganya. Sebuah kisah tragis, apabila media kehilangan fungsinya.

Pemilukada Jawa Timur pada tahun 2013 dan Pemilu Legislatif dan Presiden 2014 sudah semakin dekat. Pertarungan politik akan segera terjadi, mulai dengan penentuan jadwal kampanye, pengajuan usulan calon legislatif, hingga ke pemilihan presiden 2014. Pelaksanaan kampanye juga sudah diatur, mulai dengan pertemuan terbatas, kampanye melalui rapat umum dan iklan media massa (cetak dan elektronik) hingga ke kampanye terbuka. Saat ini partai-partai politik besar di Blitar sudah gencar mensosialisasikan nomor urut pemilihan kepada warga.

Peran media komunitas harus tetap kritis dan independen. Upaya-upaya untuk menghindarkan media komunitas dengan kepentingan politik praktis terus dilakukan. Pada, sabtu (2/3) The Post Institute memfasilitasi JRKB++ untuk melakukan pemahaman tentang peran dan fungsi media dalam menyikapi pemilukada. Jika pengelola media komunitas menayangkan kampanye politik oleh salah satu calon maka hal ini melanggar Undang-Undang Penyiaran No.32 tahun 2002 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) 2012 yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Selanjutnya, menurut Mawan Mahyuddin direktur Post Institute menyatakan kekuatan pers hendaknya digunakan untuk kemaslahatan rakyat yang berdaulat dan bersifat independen. Independen disini berarti media memberitakan peristiwa atau fakta sesuai realita tanpa campur tangan, paksaan dan intervensi pihak lain termasuk pemilik perusahaan. Hal ini tentu sangat diharapkan pelaksanaan dalam realita bermedia. Selain itu penawaran-penawaran yang di tawarkan oleh pemilik modal/politisi yang bersifat kampanye harus dihadapi secara bijak. Pertemuan itu pula menghasilkan langkah yang harus dilakukan untuk menghadapi pemilu, yakni kontribusi JRKB++ dalam mencerdaskan masyarakat untuk menghadapi pemilihan umum. Seperti pembuatan ILM (Iklan Layanan Masyarakat) yang didalamnya tentang pemimpin yang bersih, reportase live saat proses pemungutan suara, relay program jaringan, dan sebagainya.(Erwin, PKM STAIN)

Jum'at, 01 Maret 2013 10:44

Ideologi Soekarno Gagal?

Blitar, post-institute.org – Selasa 26 Februari 2013 di Post Institute diadakan diskusi teras untuk yang kesekian kali. Pada diskusi kali ini mengangkat tema Soekarno dan Ideologi, sebagai pembicara Nurani Soyomukti (penulis buku Soekarno dan Nasakom) serta dimoderatori oleh saudara Deni Syahputra. Acara tersebut dihadiri sebanyak 25 an orang dari unsur NGO, kampus lokal dan luar kota, media serta dari beberapa masyarakat.
Diskusi lebih banyak membahas ideologi Nasakom yang coba dipopulerkan oleh Soekarno. Kegagalan Soekarno dalam mengusung ideologi tersebut juga menjadi perdebatan yang cukup seru diantara para hadirin dalam diskusi. Perseteruan antara komunis dan agama menjadi kendala Soekarno dalam menyatukan kedua ideologi tersebut disampai akhir kekuasaannya. Diskusi yang dimulai jam 10.00 WIB dan berakhir jam 14.00 WIB, namun demikian perbincangan yang bersifat informal masih terjadi dalam acara tersebut (rif)

 

 

 

Rabu, 06 Februari 2013 03:42

Post Institute Putar The Act Of Killing

Blitar, post-institute.org – Pemutaran film dokumenter yang sempat tertunda karena tidak mendapat restu dari pihak kepolisian, akhirnya dapat diputar pada hari Senin malam 04 Februari 2013. Dari rencana awal memang pemutaran film dokumenter “The Act of Killing” akan diputar bersama pada hari Jumat 01 Februari 2013. Tetapi dari sekian kendala tersebut acara tetap dilaksanakan walaupun undangan hanya bersifat tertutup (mengenai berita pro dan kontra pemutaran film dapat dilihat di http://regional.kompas.com/read/2013/02/04/20274425/Polisi.Datangi.Panitia.Pemutaran.Film.The.Act.of.Killing).
 
Pemutaran dan diskusi menghadirkan dari berbagai elemen seperti NGO/LSM, organisasi mahasiswa, kampus, media dan masyarakat. Film yang mengisahkan seorang algojo peristiwa 1965 memang memakan durasi waktu 180 an menit, meskipun demikian hal tersebut tidak mengurangi antusiasme penonton sampai berakhir sesi diskusi.

Pada sesi diskusi Doddy Wisnu Pribadi (wartawan senior Kompas) sebagai pembicara dan saudara Deni Syahputra sebagai moderator. Pembahasan mencermati sisi sinematografi, tetapi tidak kalah pentingnya adalah bagaimana para audien melihat isi dari film tersebut. Bagaimana sebuah perjalanan sejarah bangsa ini ada yang ditutup-tutupi, lembar hitam tersebut digambarkan dalam film “The Act of Killing”. Sebuah sejarah yang sepatutnya untuk diluruskan dan harusnya diketahui oleh bangsa ini (rif).  

Nara Sumber Talkshow

1. Muthar lubby (Pimpinan PP. Bustanul Muata`alimin)
2. Ustadz Ganang (ketua FPI Blitar)
3. Wahidul Anam (Pengajar STAIN Kediri)

Moderator: Habib Mustofa

Tanggung, post-Institute.org - Instu (inspirasi jitu) merupakan salah satu program acara talkshow yang ada di radio komunitas Jitu FM. Program tersebut, menjadi program unggulan dalam memberikan pencerahan kepada para pendengarnya khususnya komunitas pengrajin kayu yang ada di kelurahan Tanggung. Instu  biasanya diadakan pada hari Rabu pagi, tetapi untuk kali ini diadakan pada hari Jumat 10 Agustus 2012 pukul 16.00 sampai menjelang berbuka puasa bersama. Pada kali ini, tema yang diangkat mengenai dinamika pengrajin kayu dan paguyupannya serta usaha dalam mengembangkan menjadi kampung wisata. Untuk narasumber dihadiri oleh Bapak Priyowidigdo selaku perwakilan dari paguyupan, Bapak Petrus dari Deperindag kota Blitar dan juga menghadirkan beberapa pengrajin kayu serta dihadiri Michelle J. Morales yaitu tamu dari  Pejabat Ekonomi & Politik US Embassy. Sementara itu selaku moderator adalah Bapak Permadi, sedangkan operator ada Wawan Sugiarto dan Wisnu Tipung.

Pada kesempatan Instu tersebut dibuka oleh pemaparan Bapak Priyowidigdo selaku perwakilan dari paguyupan. Beliau menjelaskan bahwa diakui paguyupan kurang maksimal dalam menjalankan rencana kerjanya, hal ini disebabkan para anggota yang sulit dikoordiner seperti ketika ada pertemuan semua selalu beralasan sibuk untuk menghadirinya. Mengenai koperasi paguyupan pun menurut beliau juga tidak berjalan, mengenai hal tersebut karena kurang serius dan kompak antar pengurusnya. Sedangkan, mengenai pengembangan menjadi kampung wisata memang sudah dijalankan dan ketika tahun 2007 menurut Bapak Priyowidigdo, kelurahan Tanggung menjadi nominasi 5 besar di propinsi Jawa timur. Beliau juga menuturkan, untuk yang diperkenalkan adalah proses produksi bubut kayu dan budaya kerjanya. Bapak Petrus selaku perwakilan dari Deperindag, juga menegaskan bahwa pihaknya tidak jemu-jemu untuk mengadakan pelatihan kepada para pengrajin, tetapi persyaratannya harus mengajukan proposal terlebih dahulu sebelum ditindaklanjuti. Mengenai pengembangan kampung wisata, menurutnya di kota Blitar khusunya di kelurahan Tanggung harus ada semacam pemandu atau gaet. Hal ini menurut beliau kurang maksimal dan selama ini belum pernah ada, maka setiap pengunjung akan kesulitan ketika akan mengakses tempat-tempat mana saja yang akan disinggahinya.

Sementara, beberapa pengrajin dalam acara Instu tersebut menyampaikan keluh kesah selama menjadi pengrajin sampai saat ini seperti pengrajin rata-rata adalah keluarga kurang mampu, jadi sering terkendala fasilitas peralatan dan kurangnya permodalan. Dari hal tersebutlah, pengrajin mengharapkan adanya sebuah pelatihan, pemberian bantuan peralatan dan modal dari pihak pemerintah. Sedangkan, Bapak Gatot selaku Humas paguyupan menyampaikan selama ini paguyupan tidak berfungsi. Dari keluh kesah pengrajin diatas, beliau mengharapkan paguyupan mampu menjadi pihak yang berperan dalam memediasi pengembangan usaha para pengrajin. Di tengah perbincangan acara Instu tersebut,  Michelle J. Morales menambahkan pentingnya promosi baik dalam mengembangkan usaha pengrajin dan kampung wisata. Menurutnya, hal ini penting karena promosi dapat menjadi media dalam memperkenalkan kepada dunia luar dan ini dapat dilakukan melalui media-media internet seperti wibesite dan lainnya. Pada terakhir kalinya Bapak Priyowidigdo juga menambahkan jika ada permasalahan apapun, pengrajin dapat menyampaikannya di kantor paguyupan dan nanti  ada pengurus yang akan mengakomodir usulan atau keluh kesah tersebut untuk ditindaklanjuti (rif).