The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Sabtu, 21 September 2019

Tambakrejo, Rabu (27/05), di pantai Tambakrejo yang indah mempesona, pertemuan The Post Institute dengan Muspika kecamatan Bakung dan Wonotirto pun digelar. Diiringi dengan suara ombak yang mengalun merdu, acara sosialasi lanjutan itupun berjalan agak molor. Pasalnya, acara yang didalam jadwal dimulai pada pukul 09.00 WIB baru bisa dimulai pada pukul 11.00. WIB. Itupun dengan kehadiran di luar ekpektasi karena tingkat kehadiran yang berbeda dengan pertemuan sebelum-sebelumnya. Tercatat dari sekitar sepuluh undangan yang dikirim, meliputi Muspika dari dua kecamatan dan seluruh kepala desa dari desa dampingan hanya 4 undangan yang hadir.
Dalam acara yang hampir sepola dengan pertemuan sebelumnya di salah satu rumah makan ternama di Kota Blitar itu di moderatori oleh Halim Nur Yahya selaku coordinator layanan publik, lengkap dengan para personil dari The Post Institute mencakup Mas Deny Syahputra (manager program) Mawan Mahyudin (direktur) dan Dayat (coordinator  penerimaan social, dan juga segenap perwakilan coordinator dari empat desa.
Lagi-lagi dengan penyampaian yang detail dan tegas, Mas Deni menyampaikan maksud dan tujuan dalam pertemuan tersebut, sekaligus juga memberikan penjelasan terkait tentang Program Peduli yang tengah dilaksanakan.
“bahwa program ini adalah program resmi dari pemerintah, yakni dari Kementrian PMK, Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dari Ibu Puan Maharani”, kata Mas Deni dalam penyampainnya di hadapan perwakilan Muspika Bakung dan Wonotirto.
Dalam acara yang dikemas santai dan terbuka, Mas Mawan juga menuturkan bahwa dengan adanya sosialiasi semacam ini ia berharap agar semua pihak bisa memahami dan terbuka, bahwa meskipun isu tentang pelanggaran HAM berat ini sudah berlalu akan tetapi dampak psikologis bagi warga masih membekas sampai sekarang.
Seiring waktu, acara yang kemudian lebih dikemas dengan diskusi terbatas itu pun menghasilkan saran dari pihak aparat, yang dalam hal ini dari perwakilan Polsek Bakung. Dalam penyampaiannya beliau menuturkan bahwa sekiranya hal semacam ini layak untuk diadakan. Karena dengan diadakannya  kegiatan ini semua pihak tentu akan tahu, sehingga tidak lagi muncul rasa kecurigaan diantara satu sama lain, itu semata mata agar kegiatan pun dapat berjalan dengan baik.
Dari penyampaian saran atau masukan itu pun langsung direspon oleh Mas Deni, selain dengan ucapaan terimakasih, ia juga menuturkan bahwa pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait, utamanya dengan Muspika kecamatan. Karena mengingat tema yang diangkat cukup berat dan harus membutuhkan kerja sama yang massif dari semua pihak.
Dari pertemuan singkat itupun, setidaknya The Post Institute telah menyampaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab mereka, sehingga kedepan program Peduli dapat berjalan dengan baik lancar. Halim

 

Blitar,Jumat,21/5/2015. Bertempat di rumah makan Bu Mamik Jalan Kalimantan, acara pertemuan The Post Institute dengan SKPD di kabupaten Blitar berjalan dengan kondusif dan lancar. Hadir pula dalam acara itu perwakilan dari polres maupun Kodim  sehubungan dengan perwakilan dari lembaga militer.
Acara yang dimoderatori oleh Halim Nur Yahya sebagai koordinator layanan publik merupakan kegiatan inisiatif menyusul pentingnya kesepahaman berbagai lembaga terkait tema program peduli, yakni tentang pelanggaran HAM. Selain itu keterbukaan dan kebutuhan informasi juga menjadi ide awal adanya pertemuan itu.
Dalam Acara yang berakhir pada pukul 11.00 WIB, Mas Deny Syahputra selaku manager program peduli  juga hadir dan memberikan banyak penjelasan atas program yang tengah dilaksanakan oleh The Post Institute yakni tentang pemdampinganya terhadap masayarakat korban HAM berat yang berada di Wonotirto dan Bakung. Terlebih Mas Mawan Mahyudin selaku direktur The Post Institute turut  memberikan banyak sudut pandang dalam memahami isu program peduli yang oleh banyak pihak dinilai berat.
Akan tetapi,  banyak apresiasi yang juga lahir dalam acara diskusi itu. Misal dari Bapak David selaku perwakilan dari Kapolres Kab Blitar, beliau menuturkan meskipun isu tentang pelanggaran HAM sudah mulai dinormalisasikan akan tetapi tidak ada salahnya jika harus berhati hati dalam menjalankan program itu, karena bagaiamanapun ini adalah program dari negera. Selebihnya, Bu Sri dari Dinsos turut juga memberikan apresiasi setelah mendengar banyak pemaparan dari Mas Deny maupun Mas Mawan. Dalam penyampainnya Bu Sri memberikan Informasi terkait adanya bantuan psikologis yang bisa digunakan menyangkut para korban pelanggaran HAM berat yang masih trauma.  Adapula dari Bapak Edy dari Dinas Ksehatan yang memberikan informasi tentang subtansi bantuan kesehatan yang dapat diakses secara menyeluruh oleh masyarakat.  
Tentunya informasi yang telah disampaikan oleh berbagai Lembaga adalah hal yang sangat dinantikan oleh The Post Institute. Dalam arti lain hal itu menunjukkan adanya respon positif bagi semua kalangan terkait program peduli yang tengah dijalankan oleh The Post Institute.
Di akhir acara, moderator pun mengucapkan banyak terimakasih atas masukan yang telah disampaikan yang tentunya memberikan bahan pendukung demi suksesnya acara yang tengah dilakukan oleh The Post Institute. Halim

 

Wonotirto, Jumat 15/5 2015. Untuk kedua kalinya The Post Institute Blitar yang diwakili oleh Mawan Mahyudin, Deni Syahputra, dan Hidayat berkunjung ke desa Pasiraman dalam  acara   sosialisasi program dan jaring aspirasi Program Peduli.  Sebagaimana pada  pertemuan sebelumnya, acara tersebut diselenggarakan di kediaman Bapak Sukiman yang sekaligus menjadi koordinator Desa Pasiraman. Hadir pula di acara itu  Bapak Munib Waloyo selaku MWC NU Kecamatan Garum yang ikut berpastisipasi atas program ini.
Dalam pertemuan yang mayoritas dihadiri oleh korban langsung Pelanggaran HAM Berat itu berjalan dengan damai dan hangat.  Selain menjadi pertemuan komunitas yang sekaligus senantiasa memberikan sosialisasi ataupun informasi lanjutan terkait program peduli,  pertemuan tersebut juga menjadi wadah aspirasi bagi segenap anggota komunitas. Salah satu yang sempat dibincangkan oleh anggota komunitas adalah besarnya harapan bagi mereka supaya program ini dapat segera terealisasikan. Harapan itu  sejalan dengan semangat para anggota yang datang dalam pertemuan komunitas tersebut. Selain itu, salah seorang anggota komunitas, yakni Bapak Yatman mengajukan sebuah harapan bahwa The Post Institute kiranya dapat memfasilitasi adanya pertanian dibidang sagu. Ide ini muncul karena  keadaan gegorafis di wilayah Pasiraman yang sering kelabakan ketika musim kemarau tiba. Besar harapan bapak Yateman agar ini menjadi suatu inovasi dalam penanggulangan atas ketahanan pangan.
Selanjutnya, dalam pertemuan yang kurang lebih dihadiri oleh 25 orang anggota komunitas itu segera direspond oleh The Post Institute. Mawan Mahyudin, selaku direktur The Post Institute merespon itu dengan antusias. Aspirasi –aspirasi yang lahir dalam pertemuan itu akan segera ditindak lanjuti, semisal dengan mencari informasi terkait tentang pertanian sagu. Tidak menutup kemungkinan nantinya akan bekerjama sama dengan Dinas Pertanian, atau pihak lain demi terealisasinya ide itu. Bahkan dalam penyampaiannya, Mawan juga berharap terjadinya kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas para petani di Pasiraman dengan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan di bidang pertanian.
Di sesi terakhir dalam pertemuan tersebut, The Post Intitute berharap bahwa mereka yang hadir dalam pertemuan itu tetap sejalan dengan program yang tengah berlangsung. Karena sinergitas antara pihak satu dengan pihak lain merupakan salah satu kunci keberhasilan program peduli.  dayat

Mengundang kawan pengiat gerakan sosial dalam mengikuti pelatihan analisis jejaring media yang diselenggarakan oleh The Post Institute pada:

Hari       : Senin

Tanggal  : 11 Mei 2015

Waktu    : 18.00 - 22.00 WIB

Tempat   : Kantor The Post Institute

Fasiltator : Sobirin (Direktur Desantara Jakarta)

Peserta dibatasi Maksimal 10 orang


Syarat Peserta

1. Membawa laptop Sendiri

2. Bersedia mengikuti pelatihan dari awal sampai selesai

3. Berkomitmen dalam melakukan gerakan sosial/perubahan

 

Rabu, 06 Mei 2015 05:21

Kisah Tuan Tanah

Kaki itu masih terangkat dimeja ukir tua yang sudah mulai pudar warna pliturnya. Seperti biasa, tangan kanannya lekat lekat memegang sebatang cerutu yang sesekali disadapnya dalam dalam. Dan dikeluarkan asapnya yang seketika itu berhambar mengudara. Membuat risih burung gagak yang sudah  tiga tahun selalu menemani gelak tawa dan candanya. Burung gagak pemakan daging yang sengaja dibelinya dari Hutan Arizona itu baginya mungkin lebih mahal dari pada seluruh nyawa orang di desanya. Atau bahkan lebih mahal dari pada semua petak tanah yang terhampar luas di kanan kiri bangunan rumahnya yang bercokol megah tanpa ada pesaing berat.
Sebut saja namanya Raharjo. Tuan Tanah, demikianlah kebanyakan orang memanggilnya. Kepongahannya mungkin membuat para penduduk berfikir seribu kali kenapa dia harus di panggil Tuan Tanah. Dengan sebutan mentereng demikian. Dialah Tuan Tanah yang berkuasa se jagad negerinya, dia memiliki hampir semua tanah yang ada didesanya. Permainan dagang Tanah murahan yang tak jarang dilupakan orang. Membelinya dengan murah meriah, kemudian menjualnya dengan mahalnya.
 Tak heran kalau hedonis sudah menjadi tabiatnya yang sulit dikaburkan. Meskipun dia mendapatkannya dengan cara buruk, seburuk tabiatnya. Dan seram, seseram mukanya yang dipenuhi dengan bulu kriting. Di godeknya, jenggotnya dan kumisnya yang lebih mirip diibaratkan dengan ulat api.
”Jikalau dia tak mau bayar, tangkap dia. Suruh menghadapku. Bagaimanapun caranya. Biar dia jadi makanan anak kesayanganku satu ini” getar lidahnya sambil mengelus elus bulu gagak, dan  menyuruh ajudannya untuk memanggil orang orang yang tak kuat membayar upeti.
Setelah lahan mereka dimanipulasi habis habisan, giliran nyawa mereka yang digerogoti dengan sejuta alasan. Tak kuat bayarlah, tak disiplinlah. Dan seterusnya.
Dan praktis, jika salah seorang sudah masuk dalam catatan merahnya. Tak selamatlah dia. Paling nyaman mungkin dia akan mati minum obat tikus, didepan keluarganya sendiri dan orang orang banyak, sampai bebusa busa. ”Matilah kau. Dasar pribumi kolot” sumpah serapahnya mungkin bisa diartikan ”Jika mau mati dengan keadaan demikian, turuti perintahku”
Atau, memilih mati dengan cara yang lain. Yakni dipenggal kepalanya, kemudian bagian tempurung otaknya dibelah, dan dimasukkan kedalam sangkar burung gagak. Dan segeralah, burung burung itu menyergapnya seperti sayur mayur. Sengsara sekali rasanya hidup bersama orang aristokrat yang berhati serigala. Berbudi tapi tak bernurani.
”Lebih baik aku memilih hidup di alam kebebasan dalam keadaan miskin, dan lapar, daripada harus kenyang namun tak nyaman. Dirongrong dengan suara samar samar. Dengan dada yang membusung kedepan?” mungkin itu satu cerminan warga pribumi yang muak dengan tabiat dan norma norma tirani yang menyisakan pundi pundi sejarah kelabu.
 
Terang saja, mereka hanya berani mengaitkan pembicaraan tentang Tuan Tanah dikesunyian, atau sesama orang yang juga didera ketakutan. Kalau tidak demikian, orang perorang berlomba mencari kesalahan masing masing. Kemudian melaporkan kepada Tuan Tanah. Lantas dia dapat imbalan, sedangkan yang dilaporkan, paling ringan dimasukkan kesarang burung gagak dan merasakan cabikan cabikan yang berakhir sengsara dan mati.
Jikalau Tuan Tanah itu lewat dengan mobil Williys, mirip sekali dengan kisah Hitler, atau mungkin Stallin, berbaju necis dan berdasi kupu kupu, dengan tongkat dan cerutu yang tetap terjaga. Segera, warga pribumi menyerbunya, berjejer rapi disepanjang jalan dengan lutut berjajar dengan tanah. ” Tuan Tanah yang mulia” demikian suara gemuruh itu bila disamarkan.
Jelas, bukan keihklasan yang mereka pancarkan, namun hanya paksaan, tidak lebih. Selebihnya mungkin tentang. ”Kapan dia akan menemui ajalnya, mati dan dikubur. kemudian akan kita hentak sekuat kuatnya.” hanya itu, tak lebih.
Pernah juga mereka merencanakan pemberontakan masal yang ditujukan padanya. Tapi tak kuasalah, justru pencokol utama rencana itu tertangkap duluan.
” Berani beraninya kau merencanakan pemberontakan untuk menghancurkanku” ujarnya lantang. Pimpinan itu tak menjawabnya. Namun hanya menyimbolkan kebenciannya lewat ludahan yang tepat mengenai jidatanya. Mungkin dia sudah yakin bahwa maut datang hari ini, tapi jika kekuasaan tak dapat ludahan seperti ini. Mungkin nyali penduduk pribumi akan mati selamanya dan terpendam.
Seketika itu, tongkat Tuan Tanah pun segera ditusukkan ke salah satu matanya, sampai keluar, kemudian dilemparkannya ke lantai. Segera, gagak hitam yang ditangannya  meluncur mematuknya. Selanjutnya, tongkat yang berujung lancip itupun ditusukkan ke pangkal tenggorokanya. ”Matilah kau, dasar pribumi kurang ajar”lantangnya. Dan hal itu mungkin terjadi berpuluh puluh kali dalam hidupnya. Sayangnya mereka semua mati konyol ditangan burung gagak yang berantai emas. Tak ada yang lebih.
 
Hari demi hari bagi penduduk pribumi semakin terasa mencekam, hujan hujatan dan lain sebagainya juga tak kunjung reda. Masalah demi masalah pun menjadi pelik, mulai dari rentannya wabah penyakit dan kelaparan yang membabi buta. Lantas hal demikian lah yang diharapkan Tuan Tanah ?.
Jika ada orang yang hendak mati, dia justru menghampirinya, kemudian menolongnya, dengan syarat dia mau menjadi budaknya seumur hidup jika sudah sembuh. Tak pelak, banyak dari mereka yang memilih mati daripada mengabdi kepada Tuan Tanah yang pongah. Ogahan ogahan mereka memang cukup beralasan, setidaknya kehidupan kedua mereka tak seburuk kehidupan pertamanya.
 
Dan, ambisi menundukkan Tuan Tanah sebenarnya masih tertancap pula, mungkin bukan menjadi rencana besar yang bisa dimusyarahkan. Itu tidak mungkin. Hanya senjata kondisional yang mungkin sangat manjur, konsep mereka jelas kalah praktis dengan Tuan Tanah. Niat itupun diurunkan daripada nanti harus mati konyol, di paruh gagaknya mungkin, atau ditongkatnya, atau mungkin di tangan penduduk pribumi sendiri yang menjadi ajudannya, kemudian sok etis. Padahal jabatan mereka hanya sebagai ajudan yang tak punya harga diri. Mengabdi hanya sebatas menjual diri.
Tak ayal kalau penduduk pribumi sendiri geram kepada mereka yang bersikap ketus dan pembuat onar.
 
Seperti biasanya, mungkin bagi Tuan Tanah, hari ini adalah hari yang istimewa daripada biasanya, karena keberhasilannya meringkus tikus tikus ajudaannya yang berusaha memperdaya rezimnya. Jelas, meskipun pongah, dia punya jiwa disiplin dan anti nepotisme atas rezimnya. Dia lebih pada bersikap hedonis, dan egois.
 
Akhirnya diapun berkeliling ke seluruh penjuru desanya, mungkin dengan simbol ”Jangan berani melawan kekuasaan Tuan Tanah, atau kalian mati konyol”
Tapi, ada satu hal yang kali ini membuat aneh beberapa orang pribumi yang selalu menyambutnya dengan senyuman paksaan. Ya, saat mobil Wiilysnya tengah berjalan pelan, diiringi dengan suara dentupan langkah ajudannya yang berirama, datang menghadang seorang bocah ingusan kecil tepat sepuluh meter dari depan mobil. Badannya kurus kering, tak berotot sama sekali, berbaju compang camping. Simbolis sekali dengan keadaan pribumi saat itu. Namun jangan salah, tatapan matanya lebih tajam daripada tatapan mata gagak yang tengah Tuan Tanah bawa. Di tangan kanannya memegang erat sekepal batu yang disembunyikan dibalik badannya. Mulutnya nyengar nyengir sambil mengupil. Keherananpun muncul tiba tiba, baik Tuan Tanah dan semua pribumi. ” Siapa gerangan anak isungan tak tahu diri ini” pikirnya. Kemudian Tuan Tanah turun dan mendekatinya. Tak ayal, batu sekepal itupun langsung dia layangkan kemuka Tuan Tanah dan tepat mengenai pelipisnya, anak itu segera lari antah barantah, menyatu dengan kepungan pribumi dan ajudan, Tuan Tanah merah padam. ” Bangsat, tangkap dia hidup hidup, biar kucincang dia” geramnya. Suasanapun tak terkendali. Penduduk pribumi yang sebelumnya berjejer rapi pun berhamburan, ajudannya pun berlarian mencari anak ingusan tersebut.
 
”sekaranglah saatnya” ujar pemuda bertubuh kekar sambil mententeng sebilah golok yang diselipkan di pungungnya. Yang sedari dulu menunggu saat yang tepat.
Tuan Tanah yang masih merah padam nampak kebingungan, celintutan tak tahu arah. Ajudanya juga antah barantah menghambar, dia menoleh ke kanan, berbalik badan dan seterusnya. Burung gagaknya yang berada dipundaknya pun juga nampak kebingungan, namun tak kuasa, takut akan keramaian. Tuan Tanah masih kebingungan, melayangkan pandangan, ke Utara, dan ke....
”clllrarkkkkk” sabetan golok pemuda itupun mengenai bahu sebelah kanannya, dia tersungkur di daratan. Gagaknya hampir terlepas. ”bedebaaaahhhh.... tangkap dia” serak Tuan Tanah yang sekarang berdarah dan mengerang kesakitan. Tapi sia sia, pemuda itupun sudah mempunyai banyak kawan, sedangkan ajudan Tuan Tanah berhamburan tunggang langgang melihat dalangnya tersungkur.
”aku lebih merasa kesakitan dari pada kau, Tuan Tanah yang pongah” ucap pemuda itu. Dengan sigapnya, dia menendang kepala Tuan Tanah, hingga terpental. Kemudian pemuda yang lain menyabetkan goloknya di pelipisnya, dan berdarahlah semua. Dia mengerang ngerang kesakitan. Hingga sabetan terakhir pemuda itupun mengakhiri hidupnya, tepat mengenai setengah tengkorak dan keluarlah bagian otaknya.
Gagaknya yang sedari tadi mondar mandir pun kegirangan, tanpa disuruh dia pun segera mematuk mata Tuan Tanah yang menemani bersenda gurau disaat senja. Mencakar cakar muka Tuan Tanah, dan memakan bagian dalam tempurung otaknya. Pribumi pun kegirangan melihat tuan Tanah telah tergeletak. Berhuru hara menyambut kegembiraan mereka. (Halim NY. Blitar-2012)

Wonotirto, post-institute.org -  Pertemuan komunitas penyintas yang diadakan hari jumat (1/5) bertempat di kantor desa Tambakrejo, Blitar selatan. Pertemuan dihadiri oleh Pak Surani (Mantan Kepala Desa Pak Santoso ( Kepala DesaTambakrejo), BABINSA, BABINKAMTIBMAS dan juga korban-korban dari kejadian pelanggaran HAM berat, baik korban langsung maupun tidak langsung. Kegiatan ini di fasilitasi oleh The Post Institute yaitu Deni Syahputra (manager program), Mawan Mahyudin (direktur), Hidayat (koordinator penerimaan sosial) dan Beni Jusuf dari IKA (Indonesia Untuk Kemanusiaan).

Deni Syahputra selaku manager program dalam hal ini memaparkan bahwa program tersebut berasal dari KEMENKO PMK (Kementrian Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan)  yang bertujuan memberikan pelayanan publik khususnya di bidang kesehatan kepada masyarakat yang mungkin selama ini belum mendapatkan informasi atau akses terkait layanan tersebut. Selain itu The Post Institute  selaku pelaksana program peduli nantinya juga berupaya untuk memfasilitasi dan memediasi terkait adanya kelompok usaha bersama seperti halnya di bidang pertanian agar dapat lebih maksimal lagi.

Dalam Pertemuan Komunitas tersebut, Pak Santoso yang mewakili masyarakat Tambakrejo sekaligus sebagai Kepala Desa  berpesan kepada The Post Institute, bahwa  masyarakat Tambakrejo menginginkan adanya sebuah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Kelautan, dengan harapan adanya sekolah kelautan di daerah Tambakrejo para siswa-siswi lulusan SMP dapat melanjutkan disana. Pesan ini ditujukan dengan alasan agar potensi kelautan yang ada di Tambakrejo dapat dikelola lebih maksimal lagi (dayat)

 

 

Bakung, post-institute.org - Kamis 09 april 2015 Hidayat dan Mawan menghadiri acara sosialisasi program Program Peduli dan persiapan pendataan. Acara yang diadakan dirumah Bapak Tristanto selaku koordinator pendamping  desa Ngrejo. Dalam kegiataan tersebut dihadiri oleh warga korban Pelanggaran HAM berat baik yang langsung maupun tidak langsung sebanyak 26 laki-laki 5 orang perempuan. Pada kesempatan tersebut Mawan selaku direktur The Post Institute menyampaikan maksud dan tujuan program PNPM-Peduli dengan tema inklusi soisal. Para korban menyambutnya dengan terbuka, dan beberapa orang  dari mereka menceritakan apa yang mereka alami selama ini,meskipun ada beberapa diantara mereka  yang masih tertutup atau masih trauma dengan kejadian 65.

Trimonas salah satu anak korban mengatakan kalau yang dibutuhkan para korban saat ini yaitu bukan hanya bantuan moril saja, tetapi harus yang berupa nyata yaitu bantuan materiil seperti bantuan kesehatan atau bantuan tunai. Ia juga mengatakan, pemerintah harus mencabut cap mantan PKI atau korban 65, yang diberikan kepada dia dan korban-korban yang lainya. Karena dia merasakan pendiskriminasian yang sangat nyata, dia ditolak kerja dimana baik instansi negeri maupun swasta, padahal ia mempunyai ijazah S1,ujar alumni mahasiswa disalah satu perguruan tinggi negeri di Malang.

Selain itu Rismaji mantan sekdes Ngrejo menyampaikan uneg-unegnya bahwa data pemerintah itu bukan lah data yang actual tapi yang pemerintah gunakan  merupakan data lama. Sehingga bantuan untuk keluarga miskin sendiri kurang merata.  Ia mengatakan dari 700 kk (keluarga miskin) yang mendapatkan bantuan raskin tidak lebih hanya 43 kk saja.  Para warga desa berharap kepada Mawan selaku perwakilan dari TPI, bisa memfasilitasi agar warga masyarakat di desa Ngrejo bisa mendapatkan perhatian dari Pemerintah secara layak.  Mereka berharap kalau apa yang mereka ceritakan pada pertemuan malam hari itu, akan menjadi sebuah kerja nyata, dan para warga pun siap untuk membantu. (dayat)

 

 

 

Blitar, post-institute.org - Sabtu (04/04) beberapa tokoh lintas agama berkumpul di rumah makan Bu Mamik jalan Kalimantan Kota Blitar dalam rangka silaturrohim dan sosialisasi Program Peduli dari Kemenko PMK. Kegiatan yang diselenggarakan oleh The Post Institute ini di fasilitasi oleh Mawan Mahyuddin. Dalam penjelasannya mawan mengatakan bahwa Program Peduli yang dilaksanakan oleh the post institute ini mengambil lokus Pelanggaran HAM berat masa lalu.

Program peduli ini memakai pendekatan TOC (theory of change) dengan indikator pelayanan publik dan penerimaan sosial. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa korban pelanggaran ham berat masa lalu untuk mendapatkan akses layanan public dan penerimaan sosial di masyarakat. Agar warga masyarakat tidak ada lagi yang didiskriminasikan.

Respon dari para tokoh lintas agama cukup baik, nyonya Tan Lan Hwa (konghuchu) menyampaikan bahwa dia sangat setuju dengan adanya program ini, karena sebagai media menjembatani korban dengan masyarakat sekitar. Sehingga tidak ada lagi pendiskriminasian terhadap korban/kelompok tertentu. Selain itu Fx Sumadi (Katolik) menyampaikan bahwa sejak dini kita harus mulai belajar memahami perbedaan. Menyambung dari FX Sumadi Pdt candra mengusulkan bahwa kita mendidik anak-anak muda belajar di pesantren, di Vihara, di Klenteng agar meraka bisa memahami perbedaan. Usulan terakhir ini menjadi rekomendasi agar The Post Institute untuk memfasilitasi kegiatan tersebut.(yat)

Pertemuan koordiniasi Tokoh Lintas Agama merespon radikalisasi berbasis agama


Hari      : sabtu

Tanggal : 4 april 2015

Waktu   : 14.00 WIB-selesai

Tempat : Rumah Makan Bu Mamik Jl. Kalimantan

 

 

 

Selasa, 03 Maret 2015 09:08

Begal Bakar

Seandainya kita nggak punya asosiasi terhadap makna kata "begal", judul di atas kedengaran seperti nama makanan nggak sih? Jagung bakar, roti bakar, ayam bakar, begal bakar...
Nah, berhubung karena begal itu adalah dari jenis orang, maka ngebayanginnya pasti bakal menjijikkan.
Berdasarkan pemantauan sekilas yang hanya bisa saya pertanggungjawabkan dengan akal pendek saya, kebanyakan orang setuju kalau begal dibakar. Saya baca di komentar-komentar atas posting soal begal yang dibakar kemarin hari itu, nampaknya orang-orang pada semangat mendukung pembakaran. Yang menolak hanya segelintir saja. Yang menolak itu lebih suka begal direbus atau dicincang. Lantas ada berapa yang meneriakkan suara semacam "Jangan Main Hakim Sendiri", "Apakah balas dendam bakal menyelesaikan persoalan?" dan semacamnya? Wah lebih sepersegelintir lagi...
Bantai begal bukan hal yang baru dalam tatacara hukum rimba di Indonesia. Metodenya pun macam-macam. Ada yang dibakar, dimutilasi, ditumbuk dan lain-lain. Budaya ini juga berjalan seiringan dengan jargon keramahan dan kesantunan nusantara. Jangan kaget sama orang kita yang ramah tamah namun begitu disakiti bisa beringas mencacah. Ada yang mau macam-macam sama massa marah? Wah hancur dah. Bahkan sampai-sampai ada kosakata Inggris soal amarah yang diadopsi dari bahasa bangsa ini....amok. Amok alias ngamuk.
Memang sebagai rakyat kecil yang hatinya diliputi kegelisahan dan kegemasan (terhadap kondisi bangsa), tidak mudah untuk menjadi seorang pemaaf. Ketika aparat sudah tak bisa dipercaya, rakyat akan kembali kepada hukum dasar balas dendam; sakiti bagi yang menyakiti, bunuh bagi yang membunuh.
Akan tetapi kenapa kok begal dibakar tapi koruptor maha begal tidak?
Nah, barangkali rakyat punya perhitungan sederhana. Koruptor punya banyak pengacara yang bisa merepotkan, sedangkan begal kelas nyamuk tidak. Makanya tidak ada masyarakat bakar koruptor.
Kalau bakar koruptor, ntar bakal ada yang diperkarakan. Ada tuntutan ini dan itu. Lagian kurang heroik dan repot. Mau nelanjangin repot karena pake jas. Bakar sekalian jas-nya? Eman-eman. Bandingin ama nelanjangin begal motor. Tangkep, tumbuk, lucuti, bakar. So simple....semacam membantai tikus got nyasar. Sekali kita teriak "begaaaaaallll" yang kedengarannya seperti kata "bakaaaar", masyarakat akan otomatis sigap lahap beringas dan tuntas.
Kalau mereka 9pembakar begal) ditanyain, "Nah kalau begal dibakar tapi kok koruptor dibiarkan? Di mana keadilan?"
Mungkin jawabnya pragmatis, "Coba keluarga situ jadi orban begal...."
Rasanya masyarakat pembakar begal punya alibi cukup. Mereka merasa legal membakar begal karena ngerampok secara langsung. Langsung dirasakan dampaknya dibanding koruptor. Lebih mudah melampiaskan rasa ingin keadilan dengan jalan vigilante, yang tidak melewati proses politis. Kayaknya sih...
Kita ini masyarakat yang terlatih dalam mobilisasi massa. Kalaupun susah dilacak sejarahnya sejak jaman Gajah Mada, paling tidak bisa kita mulai sejak tahun 65an lah. Ketika dalam kerumunan dipenuhi gejolak emosi, masyarakat dengan mudah gampang bisa diajak main bunuh. Perkara salah sasaran itu lain lagi.
Kalau ada yang menggugat kenapa kok tidak diserahin polisi, masyarakat akan jawab...emangnya itu bakal menjamin nggak akan ada begal lagi? Apakah membakar begal juga akan menjamin rakyat aman dari begal? Ya nggak tahu...pokoknya puas aja bisa bakar begal.
Masyarakat bukan hanya butuh keadilan, mereka juga butuh pelampiasan akan kegeraman. Geram ketika aparat sibuk bertikai dan mereka serasa tak ada harapan untuk berlindung. Siapa yang akan melindungi masyarakat dari monster yang lahir karena ketimpangan-ketimpangan? Tak semua bisa melampiaskan kegeraman dengan menulis, menggambar, membuat musik. Lho kok?....
Hey...jangan tudang-tuding saya! Saya tidak hendak membela pembakaran begal. Saya cuma mencoba memahami fenomena yang timbul ketika kami...iya kamiiiii....kami yang kehilangan kepercayaan pada aparat dan institusi yang harusnya menjadi pelindung kami.
Sekarang ini jujur aja kami terus waswas ketika keluar malam. Di pinggang terselip kerambit. Buat jaga-jaga meskipun kami juga belum tentu bisa menggunakannya. Nanti kalau dibegal, kalau kami berhasil membeladiri, apa jaminan kami tetap selamat dari perkara? Gimana kalau kami malah dituduh jadi pembunuh? Gimana kalau kami malah diperkarakan?
Kami butuh kepercayaan bahwa kami baik-baik saja dengan aparat yang itu-itu dan itu. Di POLRI maupun KPK.
Mbuh lah...wis mbuh obong wae begalmu...tapi jangan di depan mataku.

Tentang bakar begal itu saya tidak memahaminya dari kacamata norma sosial maupun nilai-nilai keluhuran budi perilaku, melainkan dari sudut pandang holistik saya tentang konsep "energi" smile emotikon (cieee ndasku amoh...) belum nemu istilah yang lebih spesifik jadi saya pinjam istilah umum...energi.

Energi yang tertahan dan tidak termanifestasikan, akan mencari jalan sebanding dengan besarnya upaya menahannya. (catet tuh!...cieee)

Sudah berapa lama "energi" primitif dalam diri bangsa ini tidak termanifestasikan sehingga menjelma menjadi tindakan yang terkesan barbar dalam peradaban post modern?

Kita dicekoki dengan mitos sebagai bangsa yang menjunjung kesantunan, keramahan, kealusan blah blah...tapi di lapangan?

Kejahatan kerah putih kita maafkan, kejahatan kampung insidental kita sikapi secara ganas. Tapi kalo dipikir dan dirasakan secara primitif...ncen luwih kroso ngajar begal ngiahahahaha...

Sementara itu tak sadar kesempatan hidup kita yang sulit sebenarnya karena dikeroposi ama begal-begal cerdas di ruang sana. Mereka masih menikmati AC di kantor-kantor, hotel dan kafe.

Ya gitu lah...karena dampak yang mereka timbulkan itu lebih sistemik alias nggak keroso secara langsung.

Energi kita ditekan terus dalam mitos-mitos kesantunan sementara jika terjadi pelanggaran, rasa adil kita masih belum dipenuhi. Nggak salah juga ada yang bilang begal masuk penjara itu justru untuk bermutasi jadi lebih ultra begal lagi.

Konon kalo di negara maju, energi primal tadi itu dikelola oleh institusi dalam wujud tanggungjawab profesional.

Kriminal diadili, ada yang harus kerja sosial buat penebusan, ada hak-hak yang dilindungi tanpa membayar di luar pajak. Yaaa bukan berarti nggak ada penyimpangan loh...namanya juga manungsa kan...

Setidaknya masyarakat terayomi...energi mereka tidak akan mudah dipancing untuk mengamuk. Nah kan biasanya hal-hal gini merambat berbarengan dengan isu-isu tertentu. Abis ini jangan kaget kalo energinya mrambat ke beberapa tempat, lalu berhenti dengan sendiri....kayak monster yang keluar musiman.

So guys...ini bukan soal benar dan salah grin emotikon this is about the energy! Kuwi rumangsaku dhewe loh yo.

Paling tidak untuk perbandingan enteng-entengan....Coba tanyakan pada Senpai saya Jack Idrus, soal peristiwa pengejaran maling celana dalam di Jepang kemarin. Tidak ada bakar-bakaran kan? Padahal celana dalam adalah kehormatan hakiki. Bayangin aja naik motor tanpa celana dalam....dan tanpa SIM. (Ckkk ngawur wae mbandingke begal motor karo begal sempak...rumangsanya itu loh)

Once more kaping pisan maning...bukan soal salah dan benar. Ini siklus energi.

Penulis: Gugun Arief Gunawan alumni sastra jepang UGM