The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Sabtu, 21 September 2019

Pengobatan Cek Kesehatan Geratis bagi lansia di Dusun Kampung Ledok Desa Tambakrejo Kec. Wonotirto

Kegiatan ini atas kerjasam TPI-Bidan Desa-Puskesmas Wonotirto-Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar

Hari: Kamis

Tanggal: 3 maret 2016

Tempat : Masjid Dusun Kampung Ledok Desa Tambakrejo

 

 

Lorejo - Kelestarian sumber mata air dimulai dari cara warga merawat dan melindunginya. Sabtu (27/02) Masyarakat Desa Lorejo, Kecamatan Bakung, menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian sumber mata air dengan cara melakukan aksi penanaman pohon disekitar sumber mata air desa. Dengan semangat nguri-nguri mata air bebarengan, sekitar pukul 07.00 WIB warga, pemuda dan anggota komunitas motor Patria Kalong Club (PKC) serta The Post Institute telah berkumpul di balai Desa Lorejo, untuk melakukan persiapan penanaman pohon di salah satu sumber mata air di Desa Lorejo yaitu sumber mata air Njurug yang berada di Dusun Krajan. Sumber mata air Njurug adalah salah satu sumber mata air di Desa Lorejo yang seringkali mengalami kekeringan pada musim kemarau. Padahal sumber mata air ini sangat diperlukan oleh warga Dusun Krajan, Desa Lorejo.

Aksi penanaman pohon ini adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk menghindari desanya dari bahaya kekeringan. Desa Lorejo yang terletak di daerah perbukitan kapur di Blitar Selatan menjadi salah satu daerah yang rawan mengalami kekeringan. Kepala Desa Lorejo Narson dalam sambutannya mengatakan “kegiatan penanaman pohon yang akan dilakukan pada hari ini, adalah kegiatan yang sangat positif, karena ini adalah upaya untuk melindungi sumber mata air dari kekeringan”.

Setelah diberikan briefing, kelompok warga dan komunitas klub motor serta The Post Institute berangkat bersama-sama menuju sumber mata air Njurug yang berada tidak jauh dari Kantor Desa. Dilokasi penanaman, warga dan anggota komunitas motor dikoordinatori langsung oleh kepala dusun Krajan melakukan penanaman disekitar sumber mata air. Teriknya matahari serta lokasi sumber mata air yang berada dilereng bukit tidak menyurutkan mereka untuk melakukan penanaman pohon. Beberapa bibit pohon yang ditanam diantaranya adalah tanaman yang berfungsi sebagai tanaman konservasi sepert beringin, trembesi, bendo. Selain itu, mereka juga menanam beberapa tanaman produktif seperti mangga dan alpukat yang dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar nantinya.

Setelah melakukan penanaman disekitar sumber mata air Njurug, warga juga mengajak para anggota komunitas PKC serta The Post Institute untuk mengunjungi air terjun yang tidak jauh dari sumber mata air Njurug. Air terjun yang belum memiliki nama ini menjadi salah satu potensi alam yang dimilki oleh Desa Lorejo. Air terjun yang memiliki tiga undakan ini akan menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan warga jika segera mendapatkan perhatian pemerintah. Kepala Desa Lorejo Narson juga mengatakan “Kita sedang mendorong karang taruna untuk terlibat aktif, agar nantinya air terjun ini dapat dikelola oleh mereka”.

Aksi penanaman pohon yang dilakukan kali ini mendapatkan apresiasi dari warga Lorejo. Aksi penanaman ini juga akan dilanjutkan oleh warga Desa Lorejo di sumber mata air lainnya. “Sumber mata air lainnya nanti juga akan dilakukan penanaman, kegiatan ini harus terus dilakukan oleh seluruh masyarakat, agar kebersamaan dan keterbukaan terpelihara apalagi dapat sekaligus mempromosikan air terjun” ungkap Kepala Dusun Nanang Karmudji. (Ajian)

 

 

 

Pasiraman. Kamis, 25/02 upaya dalam menata dan melestarikan lingkungan hidup tidaklah hanya dilakukan oleh pemerintah saja namun peran serta masyarakat sangat jauh dibutuhkan untuk mewujudkan hal itu. Seperti masyarakat Desa Pasiraman Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar dan The Post Institute mengadakan penghijauan atau konservasi di sekitar sumber mata air Mbeji. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Sosialisasi yang dilakukan BLH dan The Post Institute pada tanggal 3 Februari 2016.

Kegiatan penghijauan ini mulai pukul 07.30 pagi dan dimotori oleh Pak Sukiman dan Pak Yateman. Warga sangat antusias menyambut kegiataan ini apalagi dihadiri oleh Perangkat desa seperti Pak Suyadi selaku Kepala Dusun Krajan, Pemuda Desa dan juga lansia yang mengalami trauma berat masa lalu. Perwakilan Polsek Wonotirto dan juga Pak Lurah sebanrnya sudah datang pukul 07 karena ada persoalan lain didesa pasiraman mereka izin dulu, namun jika urusannya sudah selesai akan nimbrung jika belum selesai kegiatannya. Pak Didik (perwakilan polsek Wonotirto datang lagi pada pukul 10.00 WIB saat penanaman pohon sudah selesai lalu dilanjutkan ngobrol-ngobrol di rumah bapak Sukiman.

Kegiatan Penghijauan atau konservasi sumber mata air adalah solusi utama untuk mengatasi kekeringan yang terjadi pada musim kemarau di desa Pasiraman, khususnya untuk para lansia yang mengalami trauma masa lalu. Selain berfungsi sebagai area resapan air ,konservasi sumber mata air juga penting artinya dalam mendukung program Go Green dalam rangka mengatasi pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) yang dialami bumi kita, sekarang ini. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini masyarakat tidak perlu resah dengan bencana kekeringan yang sering melanda masyarakat desa Pasiraman. Selain itu juga mendorong sikap positif masyarakat desa Pasiraman untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar.

Setelah penghijauan selesai, masyarakat desa Pasiraman berkumpul untuk musyawarah dengan tim The Post Institute . Musyawarah yang dibahas adalah terkait dengan bahwa nantinya akan direncanakan kegiatan yang akan mempertemukan Gapoktan di desa Pasiraman dengan dinas pertanian. Rencana kegiatan tersebut adalah untuk memberikan wawasan masyarkat desa Pasiraman terhadap wawasan bertani dan layanan yang bisa didapatkan masyarakat dalam hal pertanian.(Aris)

 

Penghijauan Sumber mata air Jurug Desa Lorejo Pada:

 

Hari Sabtu

Tanggal 27 Pebruari 2016

Pukul 08.00 WIB Selesai


Kegiatan ini akan di ikuti oleh Pemerintah Desa Lorejo, Komunitas sepeda Kalong, TPI, Karang Taruna dan masyarakat Lorejo.

 

 

Jum'at, 19 Februari 2016 06:53

Tes

jgkd kvc klhcdlchldwhcldwhcl dwckdwhckldwhcldwhc dwckhdwlchdwlhcldwgc dwcjgwdkcgwkjgcd

Ngrejo. Rabu, 17/02 warga Dusun Prodo, Desa Ngrejo, Kecamatan Bakung bersama pemerintahan desanya serta The Post Institute bersama-sama melakukan konservasi di sumber mata air (mbelik) Ngembul. Konservasi yang dilakukan atas dukungan Program Peduli ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sosialisasi tentang konservasi sumber mata air dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar pada tanggal 26 Januari 2016. Dalam sosialisasi yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga sumber mata air membuat warga menyadari dan perlu melakukan upaya konservasi segera di desanya.

Kegiatan konservasi ini dimulai pada pagi hari sekali sebelum warga melakukan aktivitas bekejanya yang memang sebagian besar warganya adalah petani. Pada penghijauan di sumber mata air (mbelik) Ngembul ini, dihadiri oleh perangkat desa, kelompok karang taruna dan para lansia yang pernah mengalami trauma masa lalu. Adapun jenis tanaman yang ditanam pada penghijauan ini adalah tanaman konservatif yang dapat menampung cadangan air seperti trembesi, beringin dan bendo. Selain itu, warga juga menanam beberapa bibit pohon produktif seperti alpukat dan mangga yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh warga disekitar sumber mata air.

Kegiatan penghijauan ini bertujuan untuk melindungi para warga Desa Ngrejo, khususnya para lansia yang mengalami trauma masa lalu dari ancaman kekurangan air pada musim kemarau. Dengan keadaan wilayah Ngrejo yang berada di perbukitan kapur menjadikan daerah ini seringkali dilanda kekeringan pada saat musim kemarau. Dengan adanya penghijauan ini, nantinya dapat melindungi warga dari kekeringan di musim kemarau. Penghijauan ini juga tidak hanya dilakukan di sumber mata air Dusun Prodo saja, namun juga dilakukan di sumber mata air dusun lainnya seperti sumber mata air di Dusun Krisik dan Dusun Krajan, Desa Ngrejo. Rencananya kegiatan penghijauan ini juga akan dilaksanakan di tiga desa lainnya yang menjadi sasaran Program Peduli.

Setelah dipagi hari melakukan penghijauan, TPI juga di ajak oleh warga Dusun Prodo untuk mengikuti latihan rutin kelompok keseniannya di malam hari. Kelompok kesenian yang bernama Paguyuban Mekar Budoyo dan diketuai oleh Bapak Sukoyo ini mewadahi para warga yang menyukai kesenian khususnya kesenian khas jawa yaitu karawitan. Pada latihan ini banyak dimainkan lagu-lagu yang sarat makna dan penuh nilai-nilai kehidupan. Latihan rutin kelompok kesenian ini sering dimanfaatkan oleh warga prodo untuk melepas lelah setelah seharian beraktivitas.(ajian)

Pasiraman. Rabu, 3/2. Kondisi cuaca hujan deras tidak mengurangi semangat warga untuk berbondong-bondong datang ke kantor desa mengikuti sosialisasi konservasi sumber mata air. Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan The Post Institute yang bekerjasama dengan Pemerintah Desa Pasiraman atas dukungan program peduli. Desa pasiraman adalah sebuah desa dimana kelompok lansianya kebanyakan mengalami trauma masa lalu dan kondisi kesehatanya sangat lemah. Maka akses air bersih adalah salah satu hal yang harus dipenuhi untuk dalam menjaga kondisi kesehatannya.

Seperti yang telah diketahui, jika wilayah Desa Pasiraman, Kec. Wonotirto berada di wilayah Blitar Selatan yang keadaan geografisnya adalah perbukitan dengan kondisi tanah berupa batuan kapur. Keadaan geografis inilah yang menyebabkan hampir semua masyarakat Blitar Selatan, khususnya warga Pasiraman seringkali mengalami kekeringan.

Sosialisasi konservasi sumber mata air ini sendiri dihadiri pemateri dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar yang diwakili oleh Bapak Ainu Rofiq, Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. Kegiatan yang dimulai pada 09.30 ini, dibuka langsung oleh Kepala Desa Pasiraman yaitu Bapak Sujud Harianto. Pada sambutannya, Bapak Sujud Harianto sangat berharap pada kegiatan yang dihadiri oleh BLH ini dapat memberikan titik terang terhadap permasalahan kebutuhan air di wilayahnya.

Bapak Ainu Rofiq sendiri dalam pemaparannya tentang konservasi sumber mata air menjelaskan tentang siklus hidrologi seperti evaporasi (menguapnya air di laut) dan presipitasi (turunnya hujan) serta dijelaskan juga tentang pergerakan air sejak turun hujan hingga kembali lagi ke lautan. Kemudian Bapak Ainu Rofiq juga menjelaskan tentang keadaan-keadaan sumber mata air di beberapa wilayah kabupaten Blitar. Pada penjelasannya, Bapak Ainu Rofiq mengatakan jika perlindungan dan pelestarian sumber mata air dapat dilakukan dengan melakukan konservasi dengan beberapa teknik, yaitu menjaga dan memperbanyak resapan air, pengendalian penggunaan air dan pengendalian kawasan sekitar sumber mata air. Khusus yang terakhir, BLH menjelaskan tentang Perda Jawa Timur No. 12 Tahun 2011 pasal 9 yaitu kawasan sumber mata air adalah daerah sekitar sumber mata air dengan jari-jari 200 meter.

Perda tersebut menjadi dasar bagi pemerintah, dimana untuk kepentingan konservasi dan melindungi sumber mata air maka pemerintah dapat memberikan ganti rugi kepada warga yang lahannya masuk dalam kawasan konservasi. Melalui pemaparan ini, semoga warga dapat memahami pentingnya konservasi usmber mata air. Sehingga nantinya dalam kegiatan penghijauan yang akan dilakukan The Post Institute dan Pemerintah Desa atas dukungan Program Peduli dapat diterima oleh para warga karena untuk kepentingan bersama.

Tidak hanya sosialisasi, dalam kesempatan kali ini, The Post Institute juga diajak untuk mensurvey 2 titik sumber mata air yang akan menjadi sasaran penghijauan yaitu sumber mata air (mbelik) waong dan sumber mata air (mbelik) mbeji. Didampingi oleh Bapak Endi selaku ketua Hippam (Himpunan Pengelola Pemakai Air Minum). Lembaga ini dibentuk desa untuk mengatur air bersih didesa. Selain Endi juga didampingi oleh Bapak Yateman warga salah seorang warga korban pelanggaran HAM berat masa lalu.

Pada sumber mata air (mbelik) waong, Bapak Yateman menceritakan jika sumber mata air ini memiliki sejarah bagi Desa Pasiraman. Nama Pasiraman (Pemandian) yang dijadikan nama Desa berasal dari sumber mata air ini, yang dulunya memang digunakan oleh Putri dari pada jaman Pangeran Diponegoro di Jogjakarta untuk tempat dia mandi. Namun sayang, keadaan sumber mata air ini kini memprihatinkan, mulai dari tempat pemandiannya yang sudah tidak digunakan lagi serta volume sumber mata air yang mulai berkurang apalagi pada saat musim penghujan. Pada survey ini, the post institute juga sempat ditunjukkan salah satu potensi wisata alam di Desa Pasiraman, yaitu Air Terjun Njurug. (ajian)

Ngrejo, Selasa 27/10 sebagai rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana bagian dari tradisi bangsa yang telah terbangun menjadi fondasi budaya nusantara, wajar kiranya jika diwarnai dalam banyak upaya dan melestarikan hal tersebut.  Pelastarian itu sejalan dengan kondisi masyarakat yang sangat majemuk yang sekaligus menjadi identitas suatu kelompok.

Bersih desa,  dalam hal ini adalah agenda rutinitas yang telah melekat erat dan tak mungkin dapat dipisahkan dari semangat budaya masyarakat. Sejalan dengan ini komplekstitas acara berperan masif dalam pelaksanaan acara yang telah dikemas. Lebih dari itu, desain yang diusung tak hanya bermuara pada satu aspek, lebih-lebih hal ini berjalan dengan semangat kebutuhan yang ada di masyarakat. Sehingga dalam massa yang serba plural ini, kegiatan bersih desa juga bisa menjadi bagian dari silaturrohim dan upaya atas respon terhadap permasalahan yang ada di masyarakat.

Pendekatan Budaya menjadi salah satu pintu strategi pelaksanaan kegiatan Program Peduli agar tidak mendapatkan resistensi. The Post Institute (TPI) Blitar menggelar layanan kesehatan untuk komunitas korban 65 menjadi bagian dari acara Bersih Desa. Kegiatan Bersih Desa merupakan kegiatan tahunan bagi masyarakat Jawa di bulan Suro (Muharram) (bulan ke 1 perhitungan kalender Jawa) agar kondisi desa senantiasa penuh keberkahan dan keselamatan. Dengan menggelar beberapa kegiatan budaya antara lain nyadran di ndanyangan (mendoakan para leluhur di yang membuka desa) pentas wayang kulit dan acara keagamaan seperti pengajian, salawatan, bakti sosial periksa kesehatan dan pengobatan geratis bagi lansia.

Dalam kegiatan periksa kesehatan dan pengobatan geratis untuk korban 65, TPI bekerjasama dengan  Dinas Kesehatan Kab Blitar, Puskesmas Kecamatan Bakung, STIEKES PATRIA HUSADA Blitar. Bahkan, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bapak Muhammad Irwan dari Dinas Kesehatan Blitar. Ada tujuh petugas kesehatan yang hadir di Puskesdes Ngrejo yang ikut mensukseskan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi lansia.

Kegiatan periksa kesehatan dan pengobatan geratis ini melibatkan mayoritas korban 65 juga beberapa warga berusia lanjut sebanyak 78 orang dengan mengemas sebagai kegiatan layanan kesehatan untuk lansia. Kegiatan yang di mulai pukul 14.00 WIB juga di hadiri oleh Bapak Kepala desa Ngrejo (Imam Suyadi) beserta beberapa staff desa. Acara di tutup pukul 17.00 WIB oleh Ibu Siti Farida (Bidan desa Ngrejo dan Perwakilan dari Puskesmas Bakung).

Bakung. Senin (24/8). The Post Institute dalam kerjanya kali ini yang diwakili oleh coordinator penerimaan sosial mengadakan kegiatan halal bihalal dan sosialisasi posyandu lansia di wilayah kecamatan bakung. Kegiatan ini berlangsung atas kerjasama dari The Post Institute, Radio Nirwana, Puskesmas Kecamatan Bakung, Pemerintah Kecamatan Bakung, Pengurus Lansia Kecamatan Bakung. Dalam kegiatan ini juga mengundang Tokoh Agama di Blitar Selatan, Kyai Syahson yang juga alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Latar belakang menyelenggarakan kegiatan ini berdassarkan hasil Talkshow  pada tanggal Selasa, 28 Juli 2015 bersama Puskesmas Kecamatan Bakung dan Karang Taruna Desa Lorejo yang bertempat di Radio Nirwana. Dari hasil tersebut ada beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti  antara lain antusias masyarakat yang kurang maksimal terhadap program Posyandu Lansia. Selain itu ada beberapa program yang memang belum tersampaikan kepada masyarakat.
Bapak Murtalam, beliau adalah salah satu penyintas yang juga menjadi salah satu  pengurus lansia di kecamatn Bakung menyampaikan, bahwasannya kesehatan para lansia ini sangat penting.  Beliau juga mengapresiasi  kegiatan tersebut, bahkan beliau berharap The Post Institute dapat membantu dalam memaksimalkan program posyandu lansia di wilayahnya.
Bapak Imam, selaku Kepala Desa Ngrejo menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada The Post Insitute atas program tersebut. Beliau juga membuka pintu yang lebar kepada the post institute untuk bekerjasama dengan desa Ngrejo, yang mana de Ngrejo tersebut adalah salah satu desa dampingan The Post Instiutute.
Bu Farida sebagai perwakilan puskesmas kecamatan bakung memberikan sosialissasi kepada para lansia untuk terus aktif mengikuti program tersebut. Karena dengan mengikuti program posyandu lansia akan sering mendapatkan binaan terkait kesehatan bagi mereka.
Selain beberapa tokoh diatas, turut hadir juga bapak Kyai Shyason dari kecamatan Bakung yang notabene beliau adalah alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang saat Ini beliau adalah Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri cabang Sidomulyo Bakung. Sebagai tokoh agama beliau memeberikan beberapa arahan terhadap lansia untuk selalu menjaga kesehatan fisik, kesehatan psikologinya dan juga menjaga  kekuatan spiritualnya. Karena walau bagaimanapun kekuatan spiritual sangat penting dalam menjaga kesehatan.
Dengan adanya kegiatan ini di harapkan akses layanan kesehatan terhadap masyarakat yang dalam hal ini adalah lansia dan hususnya para penyintas dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu di harapkan juga ketertarikan masyarakat terhadap program posyandu lansia ini bisa maksimal sehingga kesehatan mereka bisa terjaga. ayin

 

Blitar, Senin (27/7) . Suasana yang sejuk kiranya terpancar ketika para peserta berdatangan masuk ke ruangan pelatihan Psikososial Bagi Pendamping Pelanggaran HAM. Bertempat di café atau rumah makan Joglo, pelatihan yang berlangsung selama lima hari itu berjalan lancar sekaligus sangat menyenangkan dan memuaskan. Hal itu terpancar dari kesan positif para peserta yang mengikuti pelatihan tersebut. Setidaknya ada 13 peserta yang hadir dalam pelatihan itu, selain dari staff dan direktur TPI (The Post Institute) pelatihan itu juga dihadiri perwakilan dari Lembaga Sapuan (Sahabat Perempuan dan Anak) dan juga perwakilan dari Fatayat NU.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan Pulih dari Jakarta, yang berkoordinasi langsung dengan IKa (Indonesia Untuk Kemanusian) Jakarta, adapun TPI sendiri sebagai pelaksana lapangan teknis.
    Nirmala Ika, yang menjadi co dari Yayasan Pulih membuka pelatihan itu dengan konsep yang sangat menarik. Berbagai macam metode sengaja dibuat dengan dalih agar penyerapan materi bisa diterima dengan baik. Satu hal misalnya, adanya konsep “surat cinta” yang ia buat, dengan dalih bahwa setiap peserta bebas memberikan pesan kepada para peserta, tidak tertutup dalam hal apapun. Pun sama halnya dengan Danika Kalista, sebagai fasilitator kedua, ia juga memberikan desain forum yang segar dan terbuka.
Dalam pelatihan yang berlangsung dari 10.00-16.00 WIB selama lima hari itu, terdiri dari banyak bahasan. Setidaknya ada 18 materi yang disampaikan oleh dua Fasilitator dan Yayasan Pulih. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana para peserta dikenalkan dengan istilah-istilah dalam dunia psikolog, seperti Resiliensi, Bias, Trauma Sekunder, Burnout dan masih banyak lagi. Yang tak kalah menariknya adalah ketika fasilitator menyampaikan materi tentang Teknik Pernafasan. Ini merupakan materi yang sangat berguna bagi para pendamping ketika mereka mengalami kelelahan. Teknik pernafasan dapat menjadi alternatif untuk menjaga emosi bagi pendamping ketika mereka tengah berada pada kondisi yang labil.
    Bukan hanya materi yang menarik, akan tetapi desain penyampaian materi dan konsep diskusi yang terbuka sekaligus menjadi teknik bagus dengan target agar para pendamping betul betul menguasai materi yang disampaikan. Konsep diskusi, pembahasan tentang peta kondisi, table rujukan, dan konsep pengisian table kondisi menjadi salah satu model yang diterapkan dalam pelatihan itu.
Satu hal yang menarik dari pelatihan ini, bahwa dalam dunia psikologi setiap orang ataupun pendamping mempunyai kecerendungan yang tidak bisa lepas dari sifat manusiawinya. Maka materi tentang simpati-empati adalah hal yang bagus menyoal tentang memahami posisi antara pendamping dan pihak dampingan kita. Dalam pembahasanya, sebagai pendamping hal yang sangat dibutuhkan adalah empati. Dalam artian pendamping harus senantiasa berada pada garis komitmen atau etika moral pendamping, maka membangun jarak adalah rumus bagus agar pihak dampingan tidak tergantung pada pendamping, termasuk dalam hal pengambilan keputusan.
    Selanjutnya akhir dari acara pelatihan ini  adalah dengan pengisian table rencana tindak lanjut. Fasilitator berharap bahwa dengan diberikannya pelatihan selama lima hari ini, terbangun ide sekaligus kesiapan para pendamping manakala dihadapkan pada titik dimana para pendampinng tengah sukar menyelesaikan masalah. halim