The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Jumat, 16 November 2018

Blitar, 17 Mei 2016. The Post Institute bersama gabungan kelompok tani (gapoktan) Desa Pasiraman, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya akan sumber hayati). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kelompok tani di Desa Pasiraman. Adapun kelompok tani di Desa Pasiraman ini terbagi menjadi sembilan kelompok yaitu kelompok Mitro Tani, Maju Tani, Mekar Makmur, Argo Mulyo, Tani Mulyo, Suron Tani, Puring Tani dan kelompok Langgeng Tani. Pelatihan ini sendiri bertempat di salah satu rumah anggota kelompok Tani Mulyo yaitu Endi, di Dusun Krajan, Desa Pasiraman.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi yang didukung oleh sumber anggaran dari Program Peduli dan Anggaran Dana Desa Pasiraman ini difasilitasi oleh Eko Nurwanto, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Eko Nurwanto juga dibantu oleh tiga orang PPL lainnya, yaitu Suprayitno, Heri Suyitno dan Ervan Widyanto yang merupakan PPL wilayah Desa Pasiraman.

Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi kali ini lebih berfokus kepada praktek pembuatan pupuk bokashi itu sendiri. Hal ini dikarenakan pada Rabu, 4 Mei 2016 di balai pertemuan warga Desa Pasirman para petani sudah mendapatkan pemaparan secara teori tentang pembuatan pupuk bokashi ini. Sehingga kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Eko Nurwanto yang juga menjadi pemateri pada pemaparan teori sempat melakukan penyegaran tentang materi yang diberikan sebelumnya. Beberapa petani sempat ditanya oleh Eko berkaitan dengan bokashi.

Dalam praktek pembuatan pupuk Bokashi ini, para petani Desa Pasiraman menggunakan media kotoran ternak yaitu srintil (kotoran kambing). Eko Nurwanto menjelaskan langkah-langkah pembuatan Bokashi, mulai dari penggunaan campuran air, bakteri fermenter dan tetes tebu. Bakteri fermenter memang dibutuhkan untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi yang dapat dimanfaatkan petani. Sebagaimana diketahui, kotoran ternak memerlukan waktu yang lama sekali untuk siap menjadi pupuk kandang. “Kira-kira satu tahun baru bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk” ungkap Eko.

Pupuk bokashi ini sangat menguntungkan bagi para petani jika mampu memanfaatkannya. Selain sumber bahan baku yang melimpah karena hampir semua petani memiliki ternak, biaya yang dibutuhkan juga sangat murah dan mudah dalam pembuatannya. Kemudian penggunaan pupuk bokashi ini juga dapat meningkatkan unsur hara tanah dan mengurangi zat-zat kimia yang merusak kondisi tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

TPI selaku lembaga mitra pelaksana Program Peduli ini mengadakan kegiatan pelatihan bagi petani tidak lain untuk mendorong penguatan kapasitas petani guna mencapai kedaulatan pangan. Sehingga masyarakat dapat menentukan sistem kebutuhan bahan pangan sesuai dengan kapasitas lokal desanya. Selain itu, pelatihan ini juga sebagai media inklusi sosial bagi masyarakat desa yang beberapa diantaranya adalah lansia penyintas pelanggaran HAM berat masa lalu. Selain penyintas, dalam pelatihan ini juga dihadiri oleh beberapa petani perempuan. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan petani mulai diperhitungkan di Desa Pasiraman. Semoga gerakan inklusi sosial ini dapat menjadi contoh di desa-desa lainnya.

Jum’at, 6 Mei 2016. Sekelompok petani sudah berkumpul di dekat Pantai Pasir Putih, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Bukan untuk menikmati libur panjang, sekelompok petani ini sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya sumber hayati) di salah satu kandang ternak milik Katiman, anggota kelompok tani Pari Seger. Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini terselenggara atas kerjasama para petani dengan The Post Institute dan didukung oleh Program Peduli dari Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini diadakan berdasarkan keadaan petani yang sangat bergantung pada pupuk bersubsidi yang memang jumlahnya mulai dikurangi oleh Pemerintah. Padahal kondisi di lapangan, para petani sangat membutuhkan pupuk dalam jumlah yang sangat banyak. Pelatihan ini sendiri difasilitasi oleh Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Eko Nurwanto dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Prayit dari Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Sebelum memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik, Eko Nurwanto mengenalkan BP3K Kecamatan Wonotirto pada para petani seabagi badan yang mewadahi para penyuluh.

Perwakilan kelompok tani di Desa Tambakrejo terlihat hadir dalam kegiatan pelatihan ini. Adapun petani Desa Tambakrejo ini terbagi dalam 5 kelompok tani yaitu kelompok tani Pari Seger, Bina Tani, Berkah Lestari, Sri Samudro, dan Subur Makmur. Dalam peserta pelatihan juga terdapat dua orang petani yang merupakan penyintas pelanggaran HAM masa lalu dan juga Babinsa Desa Tambakrejo. Namun sayang, dalam kegiatan ini tidak terdapat satupun aparat pemerintahan desa yang hadir untuk melihat kegiatan pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini, para petani disadarkan oleh BP3K jika bahan baku pembuatan pupuk bokashi ini sangat melimpah. Namun sayangnya pengetahuan petani dalam pengolahannya masih minim. Sehingga bahan baku tersebut tidak dapat digunakan secara maksimal oleh petani dalam produksi pertanian. “Kotoran ternak ini kalau masih mentah masih panas, kalau diproses sederhana butuh waktu lebih dari 1 tahun untuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk” jelas Eko pada petani. Namun saat ini ada teknologi menggunakan fermenter untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi.

Eko Nurwanto juga menyampaikan penggunaan pupuk organik ini akan banyak menguntungkan bagi petani karena selain harga yang sangat murah, bahan baku melimpah, pupuk bokashi juga dapat memperbaiki kualitas tanah yang terus berkurang karena penggunaan pupuk kimia. Bahkan Eko juga menjamin bahwa dalam dua tahun, petani bisa benar-benar meninggalkan pupuk subsidi. “Bapak-bapak semua kalau mau menggunakan pupuk bokashi sedikit-sedikit, setelah 6 kali tanam, saya jamin untuk tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali”.

Petani juga langsung mempraktekkan bersama BP3K cara mengolah kotoran ternak menjadi pupuk bokashi dengan media fermenter. Kotoran sapi yang berada di kandang Katiman menjadi bahan baku pembuatan bokashi. Kemudian para petani ini membagi tugas mencampur fermenter dengan air dan sebagainya dan adapula yang mencangkul untuk meratakan campuran fermenter dengan kotoran sapi. Setelah semuanya tercampur, kemudian ditutup agar tidak terkena air hujan. Eko menyampaikan, bahwa kotoran ternak yang sudah dicampur dengan  fermenter akan dapat digunakan sebagai pupuk setelah 2 minggu “Ini kalau sudah ditutup seperti ini, diusahakan tidak tertutup rapat karena fermenternya membutuhkan udara dan nanti 2 minggu lagi kita cek bersama perubahan setelah menjadi pupuk”.

Petani terlihat memperhatikan setiap penjelasan dan langkah-langkah pembuatan pupuk bokashi. Melihat biaya pembuatan yang lebih murah dan pembuatan yang tidak rumit, petani mulai tertarik untuk memulai beralih dari pupuk kimia. Bahkan fermenter yang digunakan sebagai bahan pelatihan langsung diminta oleh petani-petani untuk mempraktekkan sendiri pupuk bokashi. (ajian)

Ngrejo. Rabu, 13 April 2016. Jari-jari mungil itu “menari” lincah di atas instrumen gamelan. Ada yang menabuh gendang dan saron, ada juga yang memukul bonang. Para lansia Dukuh Prodo Desa Ngrejo itu terlihat kompak memainkan alat-alat musik khas Jawa tersebut. Begitulah aktivitas latihan seni karawitan Mekar Budoyo, Rabu (13/4) malam itu. Setiap Rabu, mulai sekitar pukul delapan malam hingga tengah malam, komunitas ini rutin menggelar latihan di salah satu rumah anggota kesenian, yang berada di Dukuh Prodho Desa Ngrejo.

Seni karawitan merupakan kebudayaan asli khas Jawa. Dulunya kesenian ini sangat berkembang pesat dan digemari oleh hampir seluruh warga Indonesia. Banyak acara atau pertunjukan yang menggunakan karawitan sebagai pengiringnya, semisal pertunjukan wayang kulit, ketoprak, campursari, dan lain sebagainya.  Tidak   hanya didalam negeri saja, seni karawitan juga sudah merambah sampai ke mancanegara. Banyak warga asing yang tertarik belajar cara memainkan kesenian ini, dengan cara datang ke Indonesia kemudian mempelajari kesenian ini dan kembali lagi ke negara asalnya untuk mengajarkannya ke teman- temannya. Tapi sayangnya kesenian ini mulai luntur dengan datangnya budaya budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Malam itu, warga Dukuh Prodho berkumpul di kediaman Bapak Sukoyo selaku ketua kesenian Karawitan Mekar Budoyo. Warga menyambut kedatangan dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo . Tujuan dari pemberian alat ini yaitu untuk mendorong agar kelompok kesenian Jaranan Pangesthu Budoyo  tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh sambutan dari Sukoyo ketua kelompok kesenian. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo. Setelah sambutan dari Sukoyo, dilanjutkan sambutan dari The Post Institute. The Post Institute menyampaikan pesan pesan kepada kawan kawan kesenian Karawitan Mekar Budoyo agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari The Post Institute menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada Sukoyo Ketua Kelompok Karawitan Mekar Budoyo. Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo.

Ngrejo. Rabu, 13 April 2016. Dahulu, organisasi karang taruna sangat berpengaruh dan terasa guyub dalam menghidupkan kegiatan dan aktivitas warga masyarakat. Namun, kegiatan-kegiatan karang taruna nampak berkurang. Sekarang inilah saatnya bagi para pemuda untuk kembali mengaktifkan kegiatan karang taruna.

Sementara itu Karang taruna, yang dahulu menjadi wadah berekspresi anak muda desa dalam mempercepat pembangunan di desa kini keberadaannya seolah seperti ada dan tiada. Aksi mereka hanya sering kita liat di momentum tertentu seperti 17 agustusan sebagai penyelenggara pesta kemerdekaan. Padahal karang taruna menjadi mesin terakhir yang menggerakkan semangat kepemudaan di desa, dan amat disayangkan jika keberadaannya hanya sebatas formalitas desa.

Malam itu Tim Post Institute mendatangi kediaman Paryoto selaku Ketua perkumpulan Pemuda Prodo Desa Ngrejo. Disana tim TPI ingin bersilaturahmi dengan pemuda Dukuh Prodo. Silaturahmi ini salah satu bentuk kegiatan yang akan mensinergiskan kegiatan Program Peduli dengan karang taruna yang bertujuan untuk membangun kapasitas karang taruna.

Paryoto yang mewakili pemuda prodho merespon dengan sangat positif kegiatan tersebut. Beliau mendukung kegiatan Program Peduli yang akan dilakukan di dukuh prodo ini. Beliau menyampaikan bahwa kurangnya kreatifitas pemuda salah satunya yang harus dikembangkan di daerah sini. Pengembangan SDM pemuda disini perlu menjadi perhatian khusus.

Program peduli ini mendorong untuk para pemuda berperan aktif dalam mendampingi pemerintahan desa. Untuk kedepannya dengan intensitas dan pelatihan yang akan dilaksanakan diharapkan para pemuda menjadi aktif mengawal pemerintahan desa.(aris)

Tambakrejo. Sabtu, 9 April 2016. Kesenian Jaranan sering muncul pada saat event atau peristiwa tertentu saja. Semisal di waktu warganya mengadakan hajatan, biasanya dengan mengadakan tontonan yang menghibur masyarakat setempat karena pada umumnya seni budaya jaranan, dilestarikan karena bukan hanya nilai komersil saja tapi ada juga nilai estetika, nilai budaya, nilai gotong royong serta nilai silaturahmi.

Kesenian jaranan sebetulnya memiliki sisi magis atau sarat dengan nilai-nilai spiritualitas masyarakat Jawa. Kesenian ini menampilkan aksi para penari nan melenggak-lenggok di atas kuda mainan atau sering juga disebut dengan istilah kuda kepang atau jaran kepang (jaran ialah bahasa Jawa buat kuda). Tarian kuda kepang diiringi oleh beberapa instrumen dari gamelan (seperangkat alat musik tradisional Jawa), seperti gong, kendang, adapula alat musik terompet, dan sebagainya.

Malam itu, sabtu 9 April warga Dukuh Krajan berkumpul di kediaman Bpk Supeno selaku ketua kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo. Seperti biasanya karena malam itu malam minggu di kediaman beliau ada banyak warga yang datang kesana untuk latihan rutinan ataupun hanya melihat saja. Warga menyambut kedatanagn dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo . Turut hadir juga dalam acara itu yaitu Bapak Kepala Desa Tambakrejo. Tujuan dari pemberian alat ini yaitu untuk mendorong agar kelompok kesenian Jaranan Pangesthu Budoyo  tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh sambutan dari Supeno ketua kelompok kesenian. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo. Setelah sambutan dari Supeno, dilanjutkan sambutan dari Deny Syahputra selaku perwakilan dari The Post Intitute. Deny menyampaikan pesan pesan kepada kawan kawan kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari Deny Syahputra yang mewakili The Post Institute  Menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada Supeno Ketua Kelompok Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo.  Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo.

Kesenian jaranan ini punya nilai eksotis yang sangat bernilai, Karena wilayah Desa Tambakrejo ini adalah wilayah wisata pantai. Peran kesenian ini juga bisa diarahkan sebagai nilai tambah untuk sector pariwisata. Pariwisata dari segi panatai sudah menjadi daya tarik wilayah ini. Tetapi lebih bagus untuk kedepannya Tambakrejo tidak hanya mengenalkan dari segi wisata pantainya tapi juga dari segi budayanya seperti kesnian jaranan ini.(aris)

Lorejo. Sabtu 26 Maret 2016. Pelestarian seni budaya tidak hanya menjadi tanggungjawab lembaga dan pihak terkait saja, melainkan menjadi tanggung jawab semua komponen masyarakat. Tak terkecuali para warga dukuh kedunganti Kecamatan Bakung. Warga diajak ikut melestarikan seni tradisi dan budaya lokal yaitu seni Sholawatan.

Perkembangan budaya di Indonesia selalu naik dan turun, pada awalnya Indonesia sangat banyak peninggalan dari nenek moyang kita. Itulah semestinya yang harus kita banggakan. Tetapi saat ini mulai memudar dan dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Semakin majunya arus globalisasi, rasa cinta terhadap adat dan tradisi budaya semakin berkurang, ini sangat berdampak tidak baik bagi budaya yang kita miliki. 

Malam itu, sabtu 26 maret warga dukuh kedunganti berkumpul di mushola miftahul jannah. Warga menanti kedatanagn dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Miftahul Jannah. Turut hadir juga dalam acara itu yaitu bapak RT setempat dan ketua Takhmir mushola. Tujuan dari pemebrian alat ini yaitu untuk mendorong agar kesenian sholawat miftahul jannah tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh kak Eka Eviana selaku ketua kelompok kegiatan sholawatan ini. Selanjutnya ada sambutan dari Ketua RT setempat dukuh Kedunganti. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Sholawatan miftahul jannah. Setelah sambutan dari pak RT, dilanjutkan sambutan dari Mas Deny Syahputra selaku perwakilan dari The Post Intitute. Mas deny menyampaikan pesan pesan kepada teman teman sholawat miftahul jannah agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari Mas deny yang mewakili The Post Institute  Menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada mbak Eka selaku Ketua Kelompok Sholawat Miftahul Jannah. Acarapun dilanjutkan dengan penyampaiakan pesan pesan dari ketua Takhmir sekaligaus ditutup dengan doa. Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian miftahul jannah.

Salah satu wargapun mengungkapkan bahwa, “para santri santri disini masih harus banyak bimbingan, kareana tabuhannya masih kurang harmonisasi”.(aris)

Senin, 28 Februari 2016. Kelangkaan pupuk bersubsidi yang seringkali dialami oleh petani diantisipasi oleh para petani dari kelompok tani Rahayu Lesatri Desa Ngrejo, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar dengan difasilitasi oleh The Post Institute melalui Program Peduli mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik. Kegiatan pelatihan ini sendiri dihadiri langsung oleh penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Bakung.

Pelatihan ini bertempat dibalai pertemuan milik kelompok  Rahayu Lestari yang berada di tengah ladang dan sawah milik petani. Pada kelompok tani Rahayu Lestari ini anggotanya memang tidak hanya petani lahan basah seperti sawah saja. Terdapat anggotanya yang merupakan petani lahan kering seperti petani cabai, petani sayuran, palawija dan sebagainya. Para petani ini memang seringkali terkendala masalah kelangkaan pupuk bersubsidi, sedangkan pupuk non subsidi harganya jauh lebih mahal. Hal ini belum lagi terjadi perbedaan dalam pembagian jatah pupuk antara petani basah dan petani lahan kering. “Disini, biasanya petani kebun (lahan kering), jatah pupuknya lebih sedikit dibanding petani sawah. Kadang malah tidak mendapatkan jatah pupuk karena udah abis dibeli sama petani sawah” ujar Ristanto, salah satu anggota Rahayu Lestari. Permasalahan inilah yang mendasari para petani untuk mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik ini.

Para petani ini diberikan pemaparan tentang pembuatan pupuk organik oleh Marjito, penyuluh pertanian lapangan BP3K kecamatan Bakung. Marjito menjelaskan jika salah satu upaya meningkatkan hasil produksi pertanian adalah penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan pupuk baik jumlah maupun kandungan pupuknya. Menurut Marjito dalam pemaparannya pupuk organik merupakan kebutuhan utama saat ini. “pupuk organik ini memang salah satu upaya mengantisipasi kelangkaan pupuk. Selain itu, pupuk organik ini diperlukan untuk memperbaiki kondisi tanah kita yang unsur haranya sudah sangat berkurang karena penggunaan pupuk kimia” Ucap Marjito dalam pemamaprannya. Terdapat satu metode yang sering digunakan dalam pertanian organik yaitu Bokashi atau bahan oganik kaya akan sumber hayati. Bokhasi ini merupakan bahan hasil fermentasi dari limbah pertanian atau peternakan seperti kotoran ternak, sekam padi, serbuk gergaji, rumput, samapah keluarga dan sebagainya.

Pada pelatihan kali ini, warga diberikan pelatihan singkat pembuatan pupuk Bokashi dari kotoran kambing. Bahan lain yang disiapkan adalah bekatul, bakteri fermentasi (EM4 atau Bio Tanah), Sekam padi, tetes tebu dan air. Sedangkan alat yang dbutuhkan cukup sederhana hanya cangkul, ember dan karung untuk penutup bahan pupuk setelah diolah. Marjito menjelaskan langkah-langkah pembuatan pupuk bokashi yaitu mencampur kotoran ternak dengan arang sekam dan bekatul. Kemudian bahan tersebut dicampur dengan dengan air yang sudah diberi bakteri fermentasi dan tetes tebu. Warga terlihat antusias mengamati pembuatan pupuk organik tersebut. Suyut salah satu anggota Rahayu Lestari yang pernah mempraktekkan pembuatan bokashhi menjelaskan “ngene iki srinthile dicampur ambek banyune teko rodo-rodo kenyal tapi ga lengket (seperti ini, kotoran kambingnya dicampur sama air sampai bahannya kenyal tidak lengket)” ucapnya.

Setelah mempraktekkan cara pembuatan bokashi, Marjito menjelaskan kepada para petanii manfaat yang didapat dengan menggunakan pupuk organik atau bokashi ini diantaranya yaitu meminimalkan biaya produksi. Dimana petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang mahal untuk pupuk karena sumber bokashi seperti kotoran ternak ada disekitar petani yang jauh lebih murah. Lalu penggunaan bokashi dapat mengurai sisa-sisa pupuk kimia yang tidak dapat diurai oleh tanah sehingga tanah akan menjadi lebih subur. Kualitas tanamanpun menjadi lebih baik dari pada menggunakan pupuk kimia seperti batangnya lebih kuat, produksinya lebih meningkat dan manfaat terakhir adalah menghasilkan bahan makanan yang sehat bebas dari campuran kimia apapun.

Kegiatan pelatihan ini sangat diapresiasi oleh para petani, ada beberapa petani yang langsung meminta bakteri fermentasi sisa pelatihan untuk mencoba mempraktekkan sendiri pembuatan pupuk bokashi. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat melindungi para petani Rahayu Lestari yang diantaranya terdapat kelompok penyintas yang mengalami trauma berat masa lalu.

Tambkarejo. Minggu, 27 Maret 2016. Warga Tambakrejo kembali diingatkan akan pentingnya air bagi kehidupan dalam momen World Water Day (Hari Air Sedunia) yang dirayakan setiap 22 Maret. Perlindungan dan pengelolaan sumber daya air yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi hal utama yang dikampanyekan kepada masyarakat luas.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber air. Mulai dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan sehari-hari, misalnya mematikan kran saat menggosok gigi, memilih mandi menggunakan shower dibanding gayung, atau memastikan telah menutup kran air dengan rapat. Tidak membuang sampah ke saluran air dan sungai juga salah satu cara menjaga sumber air.

Selain hal-hal kecil yang mudah dilakukan seperti yang disebutkan diatas, ada pula kgiatan nyata secara kolektif yang bisa dilakukan untuk menjaga ketersediaan sumber mata air. Salah satunya contoh aksi nyata yang dilakukan oleh warga Desa Tambakrejo Kecamatan Wonotirto pada  hari Minggu 27 Maret 2016. Melalui sebuah dukungan dari program peduli bertajuk “Konservasi Sumber Mata Air Sumberpucung”,warga desa Tambakrejo, The Post Institute dan Patria Kalong Klub bersama sama menyelamatkan sumber mata air yang ada di Kampung Ledhok Dusun Krajan Tambakrejo. Dimotori mbah kateno salah satuh sesepuh di kampung Ledhok, mereka bebarengan melakukan penanaman di sekitar sumberpucung. Adapaun bibit bibit yang ditanam oleh mereka yaitu bibit beringin, trembesi, bendo, saman, manga dan alpukat.

Menurut salah satu warga,” biyen iku wit witane isek akeh mas, lak saiki wes gundul kabeh”. Penuturan salah satu warga kembali mengingatkan kita bahwa pentingnya menjaga lingkungan. Terutama didaerah yang keadaan airnya sulit. Semakin banyak nya pohon juga semakin banyak resapan airnya. Melalui gerakan menanami kembali sekitar sumber mata air, harapanya kedepan adalah bahwa keberadaan pohon-pohon atau tanaman berkayu akan mampu menahan serta menyimpan air, mencegah bahaya longsor dan banjir bandang, dan mengembalikan debit air dari mata air yang sempat hilang atau mati. Dengan demikian, perlindungan sumber daya air dapat dilakukan secara berkelanjutan.(aris)

Pasiraman. Selasa, 22 Maret 2016.Malam itu gelap gulita menyelimuti kediaman Bapak Suyoto dan wilayah desa Pasiraman. Dari sore hari memang sudah terjadi pemadaman di wilayah ini. Meskipun begitu tak menyurutkan langkah para lansia desa tambakrejo untuk berkumpul di rumah bapak Suyoto, tempat latihan kesenian karawitan. Bapak sukiman yang memotori kegiatan kesenian ini turut mengundang Bapak kepala desa dan Post Institute untuk turut hadir dalam latihan rutin kesenian karawitan disini.

Memasuki pukul 19.30 listrik belum bisa menyala. Akhirnya salah satu warga disana menggunakan jetset sebagai tenaga untuk menyalakan lampu yang ada di tempat latihan. Jetset pun yang berbahan bakar bensin ini bisa menerangi tempat latihan yang sudah diananti nanti oleh kelompok kesenian. Acapun dibuka oleh bapak Sukiman, sebelum latihan dimulai ada sedikit sambutan dari Bapak Kepala Desa Pasiraman dan Mas Deny Syahputra sebagai perwakilan dari Post Institute. Bapak Sujut Hariyanto pun selaku kapala desa memberikan sepatah kata penyemangat bagi para lansia yang tetap berjuang untuk melestarikan warisan bangsa yang berupa kesenian karawitan. Beliau sangat mengapresiasi dan mendukung acara ini untuk terus dilestarikan dan harapannya bisa ditularkan ke genarasi muda disana. Beliau juga menyampaikan “ niki mengke kesenian bakal ditampilaken teng acara agustusan”

Setelah sambutan dari pak Lurah, dilanjutkan dari mas Deny selaku manager Program dar Post Institute. Mas Deny menjelaskan tujuannya bersilaturahmi dengan kesenian karawitan dan mensosialisasikan juga dukungan dari Program Peduli untuk kesenian kesenian Pasiraman. Dan harapannya dukungan dari Program Peduli nanti bisa memberikan sumbangsih agar kelompok kesenian karawitan ini bisa terus aktif. Karena dengan adanya kelompok kesenian karawitan ini juga akan menambah rasa kerukunan dan kegotong royongan di kelompok kesenian ini.

Acara dilanjutkan dengan latihan seperti biasanya. Warga sangat menikmati tembang tembang yang di tabuh oleh kelompok kesenian. Tak sedikit juga warga yang datang hanya unutk melihat latihan ini. Mas deny pun juga turut menyumbangkan suaranya untuk ikut bernyanyi dengan kelompok kesenian karawitan ini.(aris)

Lorejo.Minggu, 20 Maret 2016. Malam itu hujan mengguyur kawasan desa Lorejo dan sekitarnya. Hujan tak menyurutkan langkah para pemuda desa lorejo untuk berkumpul di balai dukuh kedunganti. Satu persatupun para pemuda mulai berdatangan pendopo kedunganti  atau yang sering diebut dengan balai dukuh Kedunganti. Tepat pukul 19.00 WIB mas Dwi ketua karang taruna Lorejo pun menghubungi teman temannya yang belum datang untuk segera menuju pendopo karena acara segera dimulai. Semangat kebersaan yang dibangun dimulai dengan pelan pelan, dan dengan sabar mas Dwi menunggu teman temannya sampai berkumpul semua. Post Institute juga turut hadir dalam acara tersebut sebagai fasilitator untuk memberikan masukan masukan terkait program kerja maupun acara. Karang taruna bersama sama post institute merencanakan gambaran kegiatan acara.

Tepat setengah delapan malam acarapun dimulai. Acara ini dihadiri sekitar 18 pemuda yang tergabung dalam karang taruna. Dipimpin oleh mas dwi dan didampingi oleh The Post Institute, para pemuda membahas kegiatan pertama yang ingin dilaksanakan. Yaitu mereka akan mengadakan kegiatan ”Pengajian Akbar dan Jalan Sehat Inklusi”. Esensi dari kegiatan ini yaitu untuk membangun semangat inklusi dan kebersaan desa Lorejo, selain itu juga untuk ajang peresmian balai dukuh dan peresmian kepengurusan baru karang taruna Desa Lorejo. Dalam pertemuan kali ini yang dibahas oleh kawan kawan karang taruna lorejo adalah tentang pembentukan struktur kepanitiaan dan konsep acara secara umum. Hasil dari kesepakatan forum pada malam itu memutuskan atas nama Andi Sebagai ketua pelaksana kegiatan “Jalan Sehat Inklusi Lorejo dan Pengajian Akbar”.

Mas Dwi menyampaikan “ Koncoku kabeh sing wes masuk daftar kepanitiaan , kudu ngerti karo tanggung jawab.e cek acara mengko berjalan lancar”. Rasa tanggung jawab harus dimiliki oleh masing masing personal , karena tanpa rasa tanggung jawab dan kesadaran dari masing masing individu kegiatan juga akan terbengkalai nantinya. Ta lupa juga “ komunikasi iku sing paling penting, yen enek opo opo sing dibingungne iku ndang takok ae” pesan mas dwi.

Setelah kepanitiaan terbentuk kegiatan diskusi langsung diambil alih oleh mas Andi . Gambaran acara agak berjalan alot karena masalah tempat kegiatan menjadi prioritas utama agar masyarakat desa bisa berpartisipasi semua dalam kegiatan nanti. Alhasil diputuskan bahwa untuk acara pengajian akbar sudah akan dilaksanakan sedangkan untuk jalan sehat inklusi masih akan dibahas di pertemuan selanjutnya. Kegiatan pengajian akbar dan jalan sehat inklusi adalah sebagai media eksistensi diri karang taruna.(aris)

Page 1 of 6