The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 24 September 2018

Berita

Pada Kamis 31 Mei 2012 pukul 19.00 WIB di kantor The Post-Institute jalan Patimura 39 Bendogerit Blitar, diadakan kegiatan Diskusi Teras. Diskusi yang kesekian kali ini, menghadirkan Bambang Prasetya (alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, jurusan Hubungan Internasional) sebagai narasumber dan Jaka Wandira sebagai moderator. Menurut koordinator Diskusi Teras (Arif A. Setiawan), kegiatan ini merupakan salah satu agenda titik balik dalam mengupayakan kembali kultur diskusi, berpendapat, berdebat dan berwacana lewat goresan-goresan pena. Kegiatan ini juga bertujuan sebagai media dalam mengasah setiap individu untuk terus belajar ketika praktis dan pragmatisme sudah menjangkit baik di kalangan dosen, mahasiswa, aktivis pergerakan, praktisi, maupun masyarakat di kota kecil seperti Blitar.

Pergerakan ekonomi yang semakin memanas sampai saat ini, tentunya membawa implikasi yang krusial bagi seluruh masyarakat. Bisnis otomotif yang saat ini luput dari sorotan publik, coba untuk diungkap dalam diskusi kali ini. Menurut Bambang Prasetya ada beberapa alasan mengapa mengangkat tema ini pertama, industri otomotif merupakan bisnis dengan ekspansi modal besar. Dalam hal ini, sebuah regulasi dan kebijakan yang kurang tegas tentunya menguntungkan penanam modal asing dalam menguasai industri otomotif. Kedua, industri otomotif juga menerangkan kondisi perekonomian Indonesia. Lemahnya diplomasi dan peran pemerintah untuk menarik keuntungan ekonomi dari industri otomotif, menjadi sebuah pekerjaan rumah yang tentunya harus mampu diselesaikan. Belum lagi dampak lainnya seperti, kuantitas jalan yang sudah tidak lagi memadai dalam menampung jumlah kendaraan dan polusi udara yang mengganggu kesehatan.

Dalam diskusi ini, muncul beberapa pertanyaan seperti bagaimana dampak jika industri otomotif dibatasi. Hal ini tentunya akan berakibat pada permasalahan lapangan pekerjaan, mengingat banyaknya masyarakat saat ini yang bekerja di sektor industri otomotif. Tentunya juga pertanyaan yang sering muncul, mengenai bagaimana peran negara dalam menghadapi ekspansi penanam modal asing. Pembahasan yang menjadi perdebatan cukup hangat ini, menjadi sebuah tukar pendapat dan pikiran dalam menuangkan gagasan-gagasan dimana menangani permasalahan ekonomi dan regulasi bukanlah hal mudah, karena banyak implikasi yang ditimbulkan dari hal tersebut.

Dari diskusi tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan pertama. Munculnya penanam modal asing seperti industri otomotif tidak serta merta menimbulkan kerugian, tetapi bagaimana pemerintah mampu menjalankan perannya dalam menentukan kebijakan yang tegas untuk menarik keuntungan dari pasar tersebut. Kedua, kedaulatan ekonomi yang selama ini tergadaikan, seharusnya mampu untuk lebih mandiri dalam menghadapi persaingan global. Peran negara menghadapi globalisasi ekonomi, menjadi posisi tawar dalam menentukan sebuah kebijakan kedaulatan ekonomi (rif).

Pada hari Jumat 25 Mei 2012, Jaringan Radio Komunitas Blitar (JRKB++) atas dukungan The Post-Institute mengadakan pertemuan di lesehan d`Dadoz jalan Cakraningrat kota Blitar. Acara tersebut dihadiri oleh 4 perwakilan radio komunitas, diantaranya Harmoni FM, Jitu FM, Java FM dan Grast FM. Sedangkan ada beberapa perwakilan radio komunitas yang tidak dapat menghadiri acara tersebut, diantaranya Nirwana FM dan Bumi FM. Kesibukan dan aktivitas para penggiat kedua radio tersebut, yang menjadi kendala ketidakhadiran pada acara kali ini.

Berbicara peningkatan ekonomi masyarakat tentu tidak lepas dari sarana yang dapat mendukung percepatan kegiatan perekonomian. Jika berbicara peningkatan ekonomi akan tetapi masyarakat tidak dapat

Senin, 14 Mei 2012 23:29

Pertemuan Jaringan NGO di Blitar

Kamis(14/04/11), di kantor The Post-Institute diselengarakan pertemuan antar jaringan NGO lokal seluruh  Blitar. Acara ini merupakan pertemuan bulanan yang digagas oleh semua NGO di seluruh Blitar, acara dimulai pukul 19.00- 23.oo wib.


Acara tersebut dihadiri oleh beberapa perwakilan dari The Post-Institute, GMNI, Leskia, SBMB, Sitas Desa, MNKP, serta perwakilan dari golongan masyarakat. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama antar jaringan, dan mengkritisi kebijakan pemerintah daerah serta melakukan tindakan praktis atas permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.


Dalam pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan di antaranya yakni pertama, melakukan monitoring dan pengawalan terhadap RANPERDA Kabupaten Blitar, yang nantinya juga meliputi wilayah kotamadaya. Kedua, usulan perda partisipatif dan transparansi. Ketiga  usulan pembentukan konsorsium antar jaringan lembaga (NGO) dalam menngupayakan tindakan pemberdayaan masyarakat demi terciptanya masyarakat sipil yang adil dan makmur.(rif)

Kamis, 10 Mei 2012 17:08

Strategi Mengali Isu Komunitas

Pada 08/04/2012 di cafe Friend, JRKB++ dan Post Institute mengadakan diskusi radio bertajuk strategi mengali isu komunitas untuk produksi program radio. Hadir dalam diskusi tersebut diantaranya Rakom Bumi FM, Java FM, Nirwana FM, Jitu FM, Grast FM. Sedangkan untuk perwakilan dari radio komunitas Harmoni FM tidak dapat hadir, hal ini disebabkan jadual pertemuan yang berbenturan dengan kegiatan di yayasan Harmoni.

Poin yang muncul dari diskusi adalah latar belakang permasalahan dan isu komunitas yang nantinya layak untuk diangkat menjadi tema. Kecermatan dan kejelian dalam memetakan kebutuhan komunitas, merupakan salah satu strategi untuk mengangkat sebuah permasalahan menjadi tema. Pentingnya memilih sebuah tema, tentunya juga berdasar bagaimana sebuah permasalahan komunitas untuk digali dalam memenuhi kebutuhan komunitas. 

Senin, 07 Mei 2012 08:55

Parade Film Indie

Sabtu (26/03/11), di Balai Desa Kawedusan diselengarakan parade film indie yang merupakan lounching radio Track FM Ponggok-Blitar. Kegiatan ini  diselenggarakan oleh radio Track FM bekerjasama dengan The Post-Institute Blitar, yang dimulai pukul 19.00- 24.oo wib.

Menurut Agus Track FM koordinator acara, bahwa kegiatan pemutaran film indie merupakan salah satu cara untuk merangsang masyarakat khususnya pemuda dalam berkreatifitas dalam  karya seni film. Selain untuk mendorong dalam mempelajari teknik pembuatan film, kegiatan ini juga bertujuan untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat lewat isi film, serta menegaskan bahwa film bukan hanya sebagai hiburan belaka.

Page 5 of 5