The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 17 Desember 2018

Berita

Pasiraman, Minggu 12/07 kali ini The Post Institute yang di wakili Halim Nur Yahya (coordinator layanan publik) dan Iftitakhul  Muhlasin (coordinator penerimaan sosial) berkunjung ke desa Pasiraman. Kegiatan ini dalam rangka koordinasi  Program PNPM Peduli dengan Perangkat desa Pasiraman. Acara yang mengambil tempat di balai desa itu,  dihadiri oleh Perangakat Desa, Tokoh Agama, dan masyarakat khususnya penerima manfaat Program Peduli.
Selain buka bersama, pertemuan tersebut juga merupakan forum silaturohmi antar Perangkat desa, Tokoh Agama, masyarakat dan penerima Program Peduli yang tengah berjalan. Hal ini senada dengan harapan bahwa semua pihak dapat terlibat demi berjalannya program yang sejatinya langsung dari kementrian.
Tanggapan positif muncul dalam forum itu, dalam sambutannya bapak Kepala Desa Sujud Hariyanto sangat mengapresiasi tentang program peduli, beliau mengatakan “...mari kita apresiasi dan kita dukung Program PNPM Peduli dan untuk kedepannya semoga kita bisa bekerjasama dengan baik”. Kata beliau di sela sela sambutannya.
Sejalan dengan pertemuan yang kurang lebih dihadiri oleh 70 orang itu, warga sendiri cukup mengapresi, wajah dan rona ceria terpancar terlebih ketika mendengar sambutan dari bapak kepala Desa.
Selain itu, disela sela berbuka bersama, Pak Sukiman yang merupakan koordinator desa sempat menyinggung kegiatan lanjutan. Termasuk kaitannya dalam acara agustusan yang sebentar lagi akan datang. Tak lain, ini juga merupakan bagian dari upaya inklusi sosial yang selama ini tengah digalakkan. Dirinya berharap bahwa forum semacam ini mampu mendorong terciptanya sinergitas yang kondusif dan masif antar semua pihak.
Kedepan, apresiasi ini tentu menjadi modal lanjutan yang sangat berguna bagi Program Peduli. Dari dukungan itulah diharapkan mampu melahirkan agenda yang lebih mengena dan sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni terciptanya inklusi sosial bagi penerima manfaat program peduli.ayn

 

Blitar, Minggu (5/6). Dalam serangkaian kegiatan bulan ramadhan ini, The Post Institute kembali menyelengerakan kajian keagamaan tepat di minggu ke tiga. Perbedaan yang berdasar dari pertemuan sebelumnya adalah dari segi temanya, jika sebelumnya memfokuskan pada bedah kitab, yakni kitab Minhajul Abidin karya Imam Al Ghozali di minggu pertama, dan Kitab Al Hikam karya Ibnu Athoilah pada minggu ke dua. Sementara kemarin mengangkat tema tentang “Telaah Wahidiyah- Jalan menuju Tuhan Syaikh Abdul Majdid Kedunglo Kediri”. Tetap dengan pemateri seperti pada kajian sebelumnya, Arif Mujayyin yang sekarang tengah menyelesaikan studi doctoralnya ini mengawali Telaah itu dengan menyampaiakan biografi singkat Syaikh Abdul Majdid.
Dalam kajian yang kurang lebih dihadiri oleh 10 orang itu, Arif Mujayyin menegaskan bahwa Tarekat Whidiyah atau yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Sholawat Wahidiyah ini lahir dengan penuh kontemplasi panjang sang pencetus. Bermula dari kajian mendalamnya beliau dengan beberapa tokoh seperti KH. Ustman Jazuli (ayah dari KH.Hamim Djazuli-Gusmiek) mengenai kitab Al Hikam. Dari kajian itulah kemudian Syaikh Abdul Madjid dapat merumuskan tentang tarekat Wahidiyah, termasuk mengenai konsep, skema dan ijazah sekaligus tradisi apa yang dijalankannya.
Satu hal yang unik dari Wahidiyah, ijazahnya tidak terkhusus pada kelompok tertentu. Artinya siapapun bisa mengamalkan sholawat Wahidiyah ( Lillah-Billah. Lirrosul-Birrosul). Meski pada perkembangannya sholawat Wahidiyah ini dilanjutkan oleh kedua anak beliau, yang masing masing mempunyai wilayah sendiri dalam tradisi penyampaiannya. Sholawat ini semata mata bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. dengan perantara Sholawat, sang Imam mengajak para jamaahnya untuk bersama melakanasakan perintah Allah, baik dari Syariat, Hakikat dan Ma’rifat, pun halanya denga Iman, Islam dan Ihsan. Dengan penuh penghayatan dan mengacu pada Sunnatulloh, para jamaah senantiasa diajak untuk selalu meresapi Agama Allah, sekaligus Nabi Muhammad Sang pembawa risalah ketuhanan yang sekaligus menjadi Uswatun Hasanah.
Selanjutnya dalam kajian yang dimulai pada pukul 23.00 WIB, Arif mujayin mengarahkan kajian itu dengan cara yang lebih ringan, yakni dengan santai dan diskusi. Dari sinilah para peserta mengutarakan pertanyaan dari penyampaian Arif Mujayin. Beberapa pertanyaan yang kemudian dikemas dengan sebuah jawaban bahwa, pada pada dasarnya konsep yang tengah dipelajari, tentang konsep ketuhanan ataupun keimanan, semata mata hanyalah bekal, teori, sebelum melangkah pada hal –akhwal yang sesungguhnya. Teori ini penting karena keimanan tidak mugkin lahir tanpa ilmu. Ilmu dan iman adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Kuat dan teguhnya iman pada dasarnya sebanding dengan ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karenanya, tarekat pada dasarnya adalah jalan yang digunakan untuk mencapai ke ma’rifatan yang pada dasarnya adalah kebutuhan manusia. hlm

 

Blitar, Minggu, (21/6). Kitab Minhajul Abidin, salah satu masterpiece hujjatul islam Imam Al Ghozali adalah kitab terkahir yang dikarangnya sebelum dia wafat. Kitab yang di dalamnya menegaskan tetang landasan dasar bagi seorang ahli ibadah itu, menjaadi kajian intens di kantor The Post Institute khususnya di bulan ramadhan ini.
Bertempat di Jl. Muradi No.1  Kota Blitar, “ngaji pasan” itu dimulai pukul 22.00 WIB dengan pemateri Arif Mujayyin yang tengah ini  menyelesaikan studi doctor nya. Dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk akademisi, praktisi dan bahkan dari jajaran aparat juga turut dalam acara itu.  Dalam pembahasannya, Arif Mujayyin menjelaskan seluk beluk  kitab minhajul abidin, mulai dari biografi Imam Al Ghozali sampai pada kitabnya yang terdiri dari 7 bab, bab itulah yang kemudian bisa dijadikan sebagai pijakan dalam ibadah untuk menuju pada rahmat Tuhan. Dirinya lantas memposisikan diri sebagai fasilitator guna memperlancar acara yang banyak mendapat tanggapan dari peserta. Dari tanggapan yang masuk, mayoritas bernada tentang pengalaman spritual masing masing. Pengalaman yang berisi tentang bagaimana mereka mendifinisikan  hal ikhwal yang menyangkut soal ubudiyah dan amaliyah. Respon dari peserta ini sejalan dengan harapan The Post Institute untuk memediasi bagi semua kalangan dalam mengeksplorasi  ruang spriritual mereka
 Kajian yang kemudian lebih berpola diskusi bareng nan terbuka itupun berakhir sampai tengah malam, dilanjut dengan sahur bareng bersama.  Rencananya, ngaji pasan ini akan dilaksanakan empat kali selama bulan ramadhan, dengan jeda waktu sekali dalam seminggu.halim

 

Blitar,  Kamis, (11/06), bertempat di salah satu rumah makan ternama di Blitar, acara FGD ( Focus Group Discussion) yang merupakan kegiatan lanjutan pasca survey pun digelar. Dalam acara yang bertajuk “FGD- Hasil Survey indeks layanan publik di Desa Tambakrejo, Desa Pasiraman, Desa Ngrejo dan Lorejo” The Post Institute selaku penyelenggara menghadirkan berbagai kalangan guna mendiskusikan hasil survey yang telah dilakukan. Seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan juga Dispenduk Capil. Selain itu, coordinator desa yang tentu bersinggungan langsung dengan para responden (korban HAM berat) turut diundang demi menambah semarak diskusi hasil servey.
Dalam acara yang dibuka oleh Mbak Krisna, yang dilanjutkan dengan sambutan Mas Deni selaku manager program dimulai dengan sangat hangat dan ramah. Seusai sambutan, Halim Nur Yahya selaku coordinator layanan publik sekaligus yang menjadi coordinator survey pun unjuk gigi. Berbekal data yang telah terinput, ia pun mempresentasikan data yang diperoleh.
“berbekal data dan fakta, sebagaimana yang telah bapak ibu lihat bahwa hampir sebagian besar, responden yang telah kita survey tidak mengetahui tentang program yang diturunkan oleh pemerintah”. Ucapnya di tengah presentasi. Dalam penyampainnya, ia menuturkan bahwa data yang diperoleh tidak dalam rangka mengkritik terhadap program yang telah ada, akan tetapi justru untuk mengkomparasikan data antara The Post Institute dengan semua pihak yang bersangkutan. Hal itu diperkuat oleh Mas Deny yang mengulas lebih detail tentang latar belakang dan orientasi survey.
Diskusi pun baru hidup setelah presentasi selesai, banyak masukan dan tanggapan dari pihak terkait tentang hasil survey. Seperti halnya Bapak Munib Waluyo selaku tokoh agama, bahwa beliau sangat mendukung program itu, terlebih karena beliau juga pernah menjalankan program yang hampir sepola dengan The Post Institute. Selain Pak Munib, Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Bu Sri Halami dan dari Dispendukcapil yang diwakili oleh Bapak Cahyo menanggapi data tersebut dengan baik. Terlebih keduanya juga menjelaskan bahwa terkait  layanan publik yang sekarang ini serba gratis. Termasuk dalam pengurusan akte, ktp, dan juga tentang berobat jalan. Dinas Pertanian pun juga senada, menyoal tentang potensi pertanian yang ada di lokasi dampingan, beliau menjelaskan seluk beluk program pertanian, seperti tentang bagaimana cara mengakses pupuk, membuat kelompok tani yang baik dan benar dan adanya laboratorium tanah yang beliau promosikan.
Sayangnya, dinas lain seperti Dinsos, Bappemas, BPS, BPJS Kesehatan dan pejabat dari empat desa dampingan tidak hadir dalam acara itu, sehingga aspek tentang pendataan pun tidak terlalu diulas mendalam.
Acara yang berakhir pukul 12.00 WIB ditutup oleh Mbak Krisna. Segala masukan dan informasi dari berbagai pihak telah ditampung oleh The Post Institute, guna menentukan langkah ke depan. Halim

 

Tambakrejo, Rabu (27/05), di pantai Tambakrejo yang indah mempesona, pertemuan The Post Institute dengan Muspika kecamatan Bakung dan Wonotirto pun digelar. Diiringi dengan suara ombak yang mengalun merdu, acara sosialasi lanjutan itupun berjalan agak molor. Pasalnya, acara yang didalam jadwal dimulai pada pukul 09.00 WIB baru bisa dimulai pada pukul 11.00. WIB. Itupun dengan kehadiran di luar ekpektasi karena tingkat kehadiran yang berbeda dengan pertemuan sebelum-sebelumnya. Tercatat dari sekitar sepuluh undangan yang dikirim, meliputi Muspika dari dua kecamatan dan seluruh kepala desa dari desa dampingan hanya 4 undangan yang hadir.
Dalam acara yang hampir sepola dengan pertemuan sebelumnya di salah satu rumah makan ternama di Kota Blitar itu di moderatori oleh Halim Nur Yahya selaku coordinator layanan publik, lengkap dengan para personil dari The Post Institute mencakup Mas Deny Syahputra (manager program) Mawan Mahyudin (direktur) dan Dayat (coordinator  penerimaan social, dan juga segenap perwakilan coordinator dari empat desa.
Lagi-lagi dengan penyampaian yang detail dan tegas, Mas Deni menyampaikan maksud dan tujuan dalam pertemuan tersebut, sekaligus juga memberikan penjelasan terkait tentang Program Peduli yang tengah dilaksanakan.
“bahwa program ini adalah program resmi dari pemerintah, yakni dari Kementrian PMK, Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dari Ibu Puan Maharani”, kata Mas Deni dalam penyampainnya di hadapan perwakilan Muspika Bakung dan Wonotirto.
Dalam acara yang dikemas santai dan terbuka, Mas Mawan juga menuturkan bahwa dengan adanya sosialiasi semacam ini ia berharap agar semua pihak bisa memahami dan terbuka, bahwa meskipun isu tentang pelanggaran HAM berat ini sudah berlalu akan tetapi dampak psikologis bagi warga masih membekas sampai sekarang.
Seiring waktu, acara yang kemudian lebih dikemas dengan diskusi terbatas itu pun menghasilkan saran dari pihak aparat, yang dalam hal ini dari perwakilan Polsek Bakung. Dalam penyampaiannya beliau menuturkan bahwa sekiranya hal semacam ini layak untuk diadakan. Karena dengan diadakannya  kegiatan ini semua pihak tentu akan tahu, sehingga tidak lagi muncul rasa kecurigaan diantara satu sama lain, itu semata mata agar kegiatan pun dapat berjalan dengan baik.
Dari penyampaian saran atau masukan itu pun langsung direspon oleh Mas Deni, selain dengan ucapaan terimakasih, ia juga menuturkan bahwa pihaknya akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait, utamanya dengan Muspika kecamatan. Karena mengingat tema yang diangkat cukup berat dan harus membutuhkan kerja sama yang massif dari semua pihak.
Dari pertemuan singkat itupun, setidaknya The Post Institute telah menyampaikan apa yang telah menjadi tanggung jawab mereka, sehingga kedepan program Peduli dapat berjalan dengan baik lancar. Halim

 

Blitar,Jumat,21/5/2015. Bertempat di rumah makan Bu Mamik Jalan Kalimantan, acara pertemuan The Post Institute dengan SKPD di kabupaten Blitar berjalan dengan kondusif dan lancar. Hadir pula dalam acara itu perwakilan dari polres maupun Kodim  sehubungan dengan perwakilan dari lembaga militer.
Acara yang dimoderatori oleh Halim Nur Yahya sebagai koordinator layanan publik merupakan kegiatan inisiatif menyusul pentingnya kesepahaman berbagai lembaga terkait tema program peduli, yakni tentang pelanggaran HAM. Selain itu keterbukaan dan kebutuhan informasi juga menjadi ide awal adanya pertemuan itu.
Dalam Acara yang berakhir pada pukul 11.00 WIB, Mas Deny Syahputra selaku manager program peduli  juga hadir dan memberikan banyak penjelasan atas program yang tengah dilaksanakan oleh The Post Institute yakni tentang pemdampinganya terhadap masayarakat korban HAM berat yang berada di Wonotirto dan Bakung. Terlebih Mas Mawan Mahyudin selaku direktur The Post Institute turut  memberikan banyak sudut pandang dalam memahami isu program peduli yang oleh banyak pihak dinilai berat.
Akan tetapi,  banyak apresiasi yang juga lahir dalam acara diskusi itu. Misal dari Bapak David selaku perwakilan dari Kapolres Kab Blitar, beliau menuturkan meskipun isu tentang pelanggaran HAM sudah mulai dinormalisasikan akan tetapi tidak ada salahnya jika harus berhati hati dalam menjalankan program itu, karena bagaiamanapun ini adalah program dari negera. Selebihnya, Bu Sri dari Dinsos turut juga memberikan apresiasi setelah mendengar banyak pemaparan dari Mas Deny maupun Mas Mawan. Dalam penyampainnya Bu Sri memberikan Informasi terkait adanya bantuan psikologis yang bisa digunakan menyangkut para korban pelanggaran HAM berat yang masih trauma.  Adapula dari Bapak Edy dari Dinas Ksehatan yang memberikan informasi tentang subtansi bantuan kesehatan yang dapat diakses secara menyeluruh oleh masyarakat.  
Tentunya informasi yang telah disampaikan oleh berbagai Lembaga adalah hal yang sangat dinantikan oleh The Post Institute. Dalam arti lain hal itu menunjukkan adanya respon positif bagi semua kalangan terkait program peduli yang tengah dijalankan oleh The Post Institute.
Di akhir acara, moderator pun mengucapkan banyak terimakasih atas masukan yang telah disampaikan yang tentunya memberikan bahan pendukung demi suksesnya acara yang tengah dilakukan oleh The Post Institute. Halim

 
Page 3 of 5