The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Kamis, 17 Oktober 2019
Kamis, 24 Mei 2012 01:04

Infrastruktur Rusak, Peternak Susu Mengeluh

Berbicara peningkatan ekonomi masyarakat tentu tidak lepas dari sarana yang dapat mendukung percepatan kegiatan perekonomian. Jika berbicara peningkatan ekonomi akan tetapi masyarakat tidak dapat

melakukan mobilisasi produk dengan mudah berarti hal tersebut bisa dikatakan bohong belaka.

Di kabupaten blitar sendiri , masih banyak daerah dengan tingkat infrastruktur rendah padahal potensi ekonomi yang seharusnya tergarap bisa besar. Salah satu contohnya adalah didesa krisik kecamatan gandusari, tepatnya daerah sekitar tempat wisata rambut monte. Kalau kita mencoba untuk kesana kesan di kabupaten blitar sendiri , masih banyak daerah dengan tingkat infrastruktur rendah padahal potensi ekonomi yang seharusnya tergarap bisa besar. Salah satu contohnya adalah didesa krisik kecamatan gandusari, tepatnya daerah sekitar tempat wisata rambut monte. Kalau kita mencoba untuk kesana kesan yang kita tangkap adalah jalan sudah beraspal dan jarang terdapat rumah penduduk. Tapi tunggu dulu, ketika kita meneruskan perjalanan ketimur tidak jauh dari lokasi wisata, aspal berubah menjadi makadam dan anda akan tercengang dengan banyaknya rumah penduduk disana. Lebih parah lagi semakin kita teruskan perjalanan semakin habis makadam tinggal jalan tanah. Dan tiba diperkampungan kedua, tidak ada listrik.

Desa krisik merupakan daerah peternakan yang sangat potensial. Sebagian masyarakat beternak sapi perah. Otomatis mereka sering pulang pergi untuk mencari rumput dan menyetor susu. Seperti ungkapan suwati (50 thn), peternak susu yang tinggal di sekitar rambut monte. Dengan 15 sapi yang dimilikinya mengharuskan dirinya mengangkut rumput dengan sepeda motor empat kali sehari dan menyetor susu dua kali sehari. Semua mobilitas dilakukannya dengan melewati jalan yang licin karena jangankan aspal, makadam pun tidak. Jika hujan tiba, maka dirinya menyatakan risau karena jalan yang menanjak dan licin. Lebih lanjut suwati mengungkapkan protesnya terhadap pejabat kabupaten blitar “ dahulu pernah dijanjikan akan dibangun aspal sebelum jadi, tapi kenyataan sampai sekarang mana buktinya, kita juga mau gimana nagihnya wong tidak ada hitam diatas putih”

Suwati sendiri setiap hari menghasilkan 220 liter susu sapi. Lantas barapa banyak lagi masyarakat dengan profesi serupa dan mengalami kesulitan yang sama. Jika jalan diperbaiki suwati yakin, produktifitas susu dari daerahnya akan meningkat. Untuk saat ini, jangankan menggodok usaha susu berbasis kerakyatan seperti yang dicanangkan pemerintah pusat, untuk distribusi susu pun masyarakat masih mengalami kesulitan. Kesiapan untuk memberdayakan susu lokal bukan saja dilihat dari berapa usaha para masyarakat untuk kreatif, tetapi lebih lanjut bagaimana upaya pemerintah untuk mendukung sentra ekonomi ini.

Sementara itu, sampai berita ini diturunkan, penulis belum dapat menemui kepala desa untuk konfirmasi lebih lanjut (Ulik).