The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Rabu, 17 Oktober 2018
Kamis, 19 Mei 2016 08:34

PENGUATAN KAPASITAS PETANI PASIRAMAN GUNA MENCAPAI KEDAULATAN PANGAN

Blitar, 17 Mei 2016. The Post Institute bersama gabungan kelompok tani (gapoktan) Desa Pasiraman, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya akan sumber hayati). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kelompok tani di Desa Pasiraman. Adapun kelompok tani di Desa Pasiraman ini terbagi menjadi sembilan kelompok yaitu kelompok Mitro Tani, Maju Tani, Mekar Makmur, Argo Mulyo, Tani Mulyo, Suron Tani, Puring Tani dan kelompok Langgeng Tani. Pelatihan ini sendiri bertempat di salah satu rumah anggota kelompok Tani Mulyo yaitu Endi, di Dusun Krajan, Desa Pasiraman.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi yang didukung oleh sumber anggaran dari Program Peduli dan Anggaran Dana Desa Pasiraman ini difasilitasi oleh Eko Nurwanto, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Eko Nurwanto juga dibantu oleh tiga orang PPL lainnya, yaitu Suprayitno, Heri Suyitno dan Ervan Widyanto yang merupakan PPL wilayah Desa Pasiraman.

Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi kali ini lebih berfokus kepada praktek pembuatan pupuk bokashi itu sendiri. Hal ini dikarenakan pada Rabu, 4 Mei 2016 di balai pertemuan warga Desa Pasirman para petani sudah mendapatkan pemaparan secara teori tentang pembuatan pupuk bokashi ini. Sehingga kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Eko Nurwanto yang juga menjadi pemateri pada pemaparan teori sempat melakukan penyegaran tentang materi yang diberikan sebelumnya. Beberapa petani sempat ditanya oleh Eko berkaitan dengan bokashi.

Dalam praktek pembuatan pupuk Bokashi ini, para petani Desa Pasiraman menggunakan media kotoran ternak yaitu srintil (kotoran kambing). Eko Nurwanto menjelaskan langkah-langkah pembuatan Bokashi, mulai dari penggunaan campuran air, bakteri fermenter dan tetes tebu. Bakteri fermenter memang dibutuhkan untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi yang dapat dimanfaatkan petani. Sebagaimana diketahui, kotoran ternak memerlukan waktu yang lama sekali untuk siap menjadi pupuk kandang. “Kira-kira satu tahun baru bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk” ungkap Eko.

Pupuk bokashi ini sangat menguntungkan bagi para petani jika mampu memanfaatkannya. Selain sumber bahan baku yang melimpah karena hampir semua petani memiliki ternak, biaya yang dibutuhkan juga sangat murah dan mudah dalam pembuatannya. Kemudian penggunaan pupuk bokashi ini juga dapat meningkatkan unsur hara tanah dan mengurangi zat-zat kimia yang merusak kondisi tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

TPI selaku lembaga mitra pelaksana Program Peduli ini mengadakan kegiatan pelatihan bagi petani tidak lain untuk mendorong penguatan kapasitas petani guna mencapai kedaulatan pangan. Sehingga masyarakat dapat menentukan sistem kebutuhan bahan pangan sesuai dengan kapasitas lokal desanya. Selain itu, pelatihan ini juga sebagai media inklusi sosial bagi masyarakat desa yang beberapa diantaranya adalah lansia penyintas pelanggaran HAM berat masa lalu. Selain penyintas, dalam pelatihan ini juga dihadiri oleh beberapa petani perempuan. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan petani mulai diperhitungkan di Desa Pasiraman. Semoga gerakan inklusi sosial ini dapat menjadi contoh di desa-desa lainnya.