The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Selasa, 21 Agustus 2018
Selasa, 10 Mei 2016 03:54

Antisipasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Adakan Pelatihan Pembuatan Pupuk Bokashi

Jum’at, 6 Mei 2016. Sekelompok petani sudah berkumpul di dekat Pantai Pasir Putih, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Bukan untuk menikmati libur panjang, sekelompok petani ini sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya sumber hayati) di salah satu kandang ternak milik Katiman, anggota kelompok tani Pari Seger. Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini terselenggara atas kerjasama para petani dengan The Post Institute dan didukung oleh Program Peduli dari Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini diadakan berdasarkan keadaan petani yang sangat bergantung pada pupuk bersubsidi yang memang jumlahnya mulai dikurangi oleh Pemerintah. Padahal kondisi di lapangan, para petani sangat membutuhkan pupuk dalam jumlah yang sangat banyak. Pelatihan ini sendiri difasilitasi oleh Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Eko Nurwanto dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Prayit dari Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Sebelum memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik, Eko Nurwanto mengenalkan BP3K Kecamatan Wonotirto pada para petani seabagi badan yang mewadahi para penyuluh.

Perwakilan kelompok tani di Desa Tambakrejo terlihat hadir dalam kegiatan pelatihan ini. Adapun petani Desa Tambakrejo ini terbagi dalam 5 kelompok tani yaitu kelompok tani Pari Seger, Bina Tani, Berkah Lestari, Sri Samudro, dan Subur Makmur. Dalam peserta pelatihan juga terdapat dua orang petani yang merupakan penyintas pelanggaran HAM masa lalu dan juga Babinsa Desa Tambakrejo. Namun sayang, dalam kegiatan ini tidak terdapat satupun aparat pemerintahan desa yang hadir untuk melihat kegiatan pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini, para petani disadarkan oleh BP3K jika bahan baku pembuatan pupuk bokashi ini sangat melimpah. Namun sayangnya pengetahuan petani dalam pengolahannya masih minim. Sehingga bahan baku tersebut tidak dapat digunakan secara maksimal oleh petani dalam produksi pertanian. “Kotoran ternak ini kalau masih mentah masih panas, kalau diproses sederhana butuh waktu lebih dari 1 tahun untuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk” jelas Eko pada petani. Namun saat ini ada teknologi menggunakan fermenter untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi.

Eko Nurwanto juga menyampaikan penggunaan pupuk organik ini akan banyak menguntungkan bagi petani karena selain harga yang sangat murah, bahan baku melimpah, pupuk bokashi juga dapat memperbaiki kualitas tanah yang terus berkurang karena penggunaan pupuk kimia. Bahkan Eko juga menjamin bahwa dalam dua tahun, petani bisa benar-benar meninggalkan pupuk subsidi. “Bapak-bapak semua kalau mau menggunakan pupuk bokashi sedikit-sedikit, setelah 6 kali tanam, saya jamin untuk tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali”.

Petani juga langsung mempraktekkan bersama BP3K cara mengolah kotoran ternak menjadi pupuk bokashi dengan media fermenter. Kotoran sapi yang berada di kandang Katiman menjadi bahan baku pembuatan bokashi. Kemudian para petani ini membagi tugas mencampur fermenter dengan air dan sebagainya dan adapula yang mencangkul untuk meratakan campuran fermenter dengan kotoran sapi. Setelah semuanya tercampur, kemudian ditutup agar tidak terkena air hujan. Eko menyampaikan, bahwa kotoran ternak yang sudah dicampur dengan  fermenter akan dapat digunakan sebagai pupuk setelah 2 minggu “Ini kalau sudah ditutup seperti ini, diusahakan tidak tertutup rapat karena fermenternya membutuhkan udara dan nanti 2 minggu lagi kita cek bersama perubahan setelah menjadi pupuk”.

Petani terlihat memperhatikan setiap penjelasan dan langkah-langkah pembuatan pupuk bokashi. Melihat biaya pembuatan yang lebih murah dan pembuatan yang tidak rumit, petani mulai tertarik untuk memulai beralih dari pupuk kimia. Bahkan fermenter yang digunakan sebagai bahan pelatihan langsung diminta oleh petani-petani untuk mempraktekkan sendiri pupuk bokashi. (ajian)