The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 17 Desember 2018
Jum'at, 01 April 2016 10:42

Pelatihan Pupuk Bokashi - Melindungi Petani Rahayu Lestari Dari Kelangkaan Pupuk

Senin, 28 Februari 2016. Kelangkaan pupuk bersubsidi yang seringkali dialami oleh petani diantisipasi oleh para petani dari kelompok tani Rahayu Lesatri Desa Ngrejo, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar dengan difasilitasi oleh The Post Institute melalui Program Peduli mengadakan pelatihan pembuatan pupuk organik. Kegiatan pelatihan ini sendiri dihadiri langsung oleh penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Bakung.

Pelatihan ini bertempat dibalai pertemuan milik kelompok  Rahayu Lestari yang berada di tengah ladang dan sawah milik petani. Pada kelompok tani Rahayu Lestari ini anggotanya memang tidak hanya petani lahan basah seperti sawah saja. Terdapat anggotanya yang merupakan petani lahan kering seperti petani cabai, petani sayuran, palawija dan sebagainya. Para petani ini memang seringkali terkendala masalah kelangkaan pupuk bersubsidi, sedangkan pupuk non subsidi harganya jauh lebih mahal. Hal ini belum lagi terjadi perbedaan dalam pembagian jatah pupuk antara petani basah dan petani lahan kering. “Disini, biasanya petani kebun (lahan kering), jatah pupuknya lebih sedikit dibanding petani sawah. Kadang malah tidak mendapatkan jatah pupuk karena udah abis dibeli sama petani sawah” ujar Ristanto, salah satu anggota Rahayu Lestari. Permasalahan inilah yang mendasari para petani untuk mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk organik ini.

Para petani ini diberikan pemaparan tentang pembuatan pupuk organik oleh Marjito, penyuluh pertanian lapangan BP3K kecamatan Bakung. Marjito menjelaskan jika salah satu upaya meningkatkan hasil produksi pertanian adalah penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan pupuk baik jumlah maupun kandungan pupuknya. Menurut Marjito dalam pemaparannya pupuk organik merupakan kebutuhan utama saat ini. “pupuk organik ini memang salah satu upaya mengantisipasi kelangkaan pupuk. Selain itu, pupuk organik ini diperlukan untuk memperbaiki kondisi tanah kita yang unsur haranya sudah sangat berkurang karena penggunaan pupuk kimia” Ucap Marjito dalam pemamaprannya. Terdapat satu metode yang sering digunakan dalam pertanian organik yaitu Bokashi atau bahan oganik kaya akan sumber hayati. Bokhasi ini merupakan bahan hasil fermentasi dari limbah pertanian atau peternakan seperti kotoran ternak, sekam padi, serbuk gergaji, rumput, samapah keluarga dan sebagainya.

Pada pelatihan kali ini, warga diberikan pelatihan singkat pembuatan pupuk Bokashi dari kotoran kambing. Bahan lain yang disiapkan adalah bekatul, bakteri fermentasi (EM4 atau Bio Tanah), Sekam padi, tetes tebu dan air. Sedangkan alat yang dbutuhkan cukup sederhana hanya cangkul, ember dan karung untuk penutup bahan pupuk setelah diolah. Marjito menjelaskan langkah-langkah pembuatan pupuk bokashi yaitu mencampur kotoran ternak dengan arang sekam dan bekatul. Kemudian bahan tersebut dicampur dengan dengan air yang sudah diberi bakteri fermentasi dan tetes tebu. Warga terlihat antusias mengamati pembuatan pupuk organik tersebut. Suyut salah satu anggota Rahayu Lestari yang pernah mempraktekkan pembuatan bokashhi menjelaskan “ngene iki srinthile dicampur ambek banyune teko rodo-rodo kenyal tapi ga lengket (seperti ini, kotoran kambingnya dicampur sama air sampai bahannya kenyal tidak lengket)” ucapnya.

Setelah mempraktekkan cara pembuatan bokashi, Marjito menjelaskan kepada para petanii manfaat yang didapat dengan menggunakan pupuk organik atau bokashi ini diantaranya yaitu meminimalkan biaya produksi. Dimana petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang mahal untuk pupuk karena sumber bokashi seperti kotoran ternak ada disekitar petani yang jauh lebih murah. Lalu penggunaan bokashi dapat mengurai sisa-sisa pupuk kimia yang tidak dapat diurai oleh tanah sehingga tanah akan menjadi lebih subur. Kualitas tanamanpun menjadi lebih baik dari pada menggunakan pupuk kimia seperti batangnya lebih kuat, produksinya lebih meningkat dan manfaat terakhir adalah menghasilkan bahan makanan yang sehat bebas dari campuran kimia apapun.

Kegiatan pelatihan ini sangat diapresiasi oleh para petani, ada beberapa petani yang langsung meminta bakteri fermentasi sisa pelatihan untuk mencoba mempraktekkan sendiri pembuatan pupuk bokashi. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat melindungi para petani Rahayu Lestari yang diantaranya terdapat kelompok penyintas yang mengalami trauma berat masa lalu.