The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Sabtu, 21 September 2019
Rabu, 16 Maret 2016 08:47

Posyandu Lansia, Upaya Nyata Melindungi Lansia di Lorejo

Selasa, 15 Maret 2016. Ada yang berbeda dikediaman Bapak Muridi, yang sejak tahun 80-an rumahnya sering digunakan warga sekitar untuk kegiatan pos pelayanan terpadu bagi balita ini, kini banyak didatangi oleh warga lanjut usia. Tidak satupun dari para lansia ini membawa balita atau mengantarkan cucu-cucunya ke posyandu. Hal ini tidak lain karena mereka sendiri yang akan mengikuti kegiatan posyandu. Ya… Posyandu Lansia namanya. Program ini sebenarnya sudah lama sekali dijalankan oleh pemerintah disetiap desa. Namun sayangnya seringkali kegiatan ini dijadikan satu dengan posyandu balita. Sehingga banyak diantara kita yang mengetahui jika posyandu identik dengan balita. Selain itu, karena disatukan dengan balita, para lansia menjadi kurang diperhatikan dan peminatnya menjadi sedikit sehingga tidak maksimal. Hal tersebut terjadi di Dusun Kedunganti, selain karena disatukan dengan balita, tempat pertemuan lansia yang sering dilaksanakan di puskesdes juga jauh dari dusun tersebut. Sehingga banyak lansia di Dusun Kedunganti tidak dapat mengakses layanan posyandu lansia.

The Post Institute yang didukung oleh Program Peduli bekerjasama dengan Bidan Desa berupaya untuk merintis posyandu lansia di Dusun Tersebut. Upaya perintisan ini diinisiasi dengan kegiatan pengobatan gratis dan pemeriksaan laborat sederhana gratis seperti pemeriksaan kolesterol, asam urat dan kadar gula darah. Selain itu, para lansia juga mendapatkan penyuluhan dari Puskesmas Bakung. Diwakili Erwin yang membidangi Penyakit Tidak Menular. Para lansia diberikan pengetahuan tentang beberapa penyakit atau gangguan kesehatan yang tidak menular namun tetap beisiko seperti diabetes, serangan jantung, stroke, asam urat dan sebagainya. Para lansia juga dianjurkan oleh Erwin untuk mengontrol bahkan mengurangi makan-makanan yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit tersebut. Erwin mengajak lansia agar dirumahnya mulai mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

Dalam penyuluhannya, Erwin juga memberikan motivasi kepada lansia tentang keadaan fisik lansia. “Lansia itu memang sudah waktunya mengalami penurunan penglihatan atau burem, budeg atau sudo rungon yaitu penurunan kualitas pendengaran dan bongkok jadi ga usah gresulo (mengeluh) karena semua juga pasti mengalaminya, saya doakan bapak-ibu semua sehat terus ga mengalami sakit yang macam-macam” Jelas Erwin.

Dalam kegiatan pemeriksaan laborat sederhana juga sangat menarik. Jika pada saat posyandu balita banyak balita yang menangis jika melihat jarum, maka pada posyandu lansia ini malah banyak mengantri untuk dicek kandungan gula darah, kolesterol dan asam urat. Bidan Desa Alfi juga sempat bingung dengan keadaan tersebut. “Buedo yo, lek lansia, malak njalok… (beda yah, kalau lansia malah minta) ujarnya. Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh Bidan Desa, dan akan mengupayakan didusun lainnya juga untuk dilakukan pemisahan antara posyandu balita dengan posyandu balita. “Bentar mas, saya atur jadwalnya biar di dusun lainnya juga bisa dipisah, biar focus, terus bulan depan saya tambahin kegiatannya ada senam lansianya” ujar bidan desa kestaff TPI.

Kepedulian terhadap lansia bisa dimulai dengan memperhatikan kesehatannya. Dengan kondisi yang sudah mengalami penurunan, perlu ada generasi yang membantu untuk melindungi mereka dan menjaga kesehatan mereka. TPI berharap para lansia ini dapat mengakses layanan kesehatan dengan mudah. (ajian)