The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Kamis, 17 Oktober 2019
Sabtu, 01 Agustus 2015 05:50

Pelatihan Psikososial Bagi Pendamping Pelanggaran HAM oleh Yayasan Pulih Jakarta

Blitar, Senin (27/7) . Suasana yang sejuk kiranya terpancar ketika para peserta berdatangan masuk ke ruangan pelatihan Psikososial Bagi Pendamping Pelanggaran HAM. Bertempat di café atau rumah makan Joglo, pelatihan yang berlangsung selama lima hari itu berjalan lancar sekaligus sangat menyenangkan dan memuaskan. Hal itu terpancar dari kesan positif para peserta yang mengikuti pelatihan tersebut. Setidaknya ada 13 peserta yang hadir dalam pelatihan itu, selain dari staff dan direktur TPI (The Post Institute) pelatihan itu juga dihadiri perwakilan dari Lembaga Sapuan (Sahabat Perempuan dan Anak) dan juga perwakilan dari Fatayat NU.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Yayasan Pulih dari Jakarta, yang berkoordinasi langsung dengan IKa (Indonesia Untuk Kemanusian) Jakarta, adapun TPI sendiri sebagai pelaksana lapangan teknis.
    Nirmala Ika, yang menjadi co dari Yayasan Pulih membuka pelatihan itu dengan konsep yang sangat menarik. Berbagai macam metode sengaja dibuat dengan dalih agar penyerapan materi bisa diterima dengan baik. Satu hal misalnya, adanya konsep “surat cinta” yang ia buat, dengan dalih bahwa setiap peserta bebas memberikan pesan kepada para peserta, tidak tertutup dalam hal apapun. Pun sama halnya dengan Danika Kalista, sebagai fasilitator kedua, ia juga memberikan desain forum yang segar dan terbuka.
Dalam pelatihan yang berlangsung dari 10.00-16.00 WIB selama lima hari itu, terdiri dari banyak bahasan. Setidaknya ada 18 materi yang disampaikan oleh dua Fasilitator dan Yayasan Pulih. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana para peserta dikenalkan dengan istilah-istilah dalam dunia psikolog, seperti Resiliensi, Bias, Trauma Sekunder, Burnout dan masih banyak lagi. Yang tak kalah menariknya adalah ketika fasilitator menyampaikan materi tentang Teknik Pernafasan. Ini merupakan materi yang sangat berguna bagi para pendamping ketika mereka mengalami kelelahan. Teknik pernafasan dapat menjadi alternatif untuk menjaga emosi bagi pendamping ketika mereka tengah berada pada kondisi yang labil.
    Bukan hanya materi yang menarik, akan tetapi desain penyampaian materi dan konsep diskusi yang terbuka sekaligus menjadi teknik bagus dengan target agar para pendamping betul betul menguasai materi yang disampaikan. Konsep diskusi, pembahasan tentang peta kondisi, table rujukan, dan konsep pengisian table kondisi menjadi salah satu model yang diterapkan dalam pelatihan itu.
Satu hal yang menarik dari pelatihan ini, bahwa dalam dunia psikologi setiap orang ataupun pendamping mempunyai kecerendungan yang tidak bisa lepas dari sifat manusiawinya. Maka materi tentang simpati-empati adalah hal yang bagus menyoal tentang memahami posisi antara pendamping dan pihak dampingan kita. Dalam pembahasanya, sebagai pendamping hal yang sangat dibutuhkan adalah empati. Dalam artian pendamping harus senantiasa berada pada garis komitmen atau etika moral pendamping, maka membangun jarak adalah rumus bagus agar pihak dampingan tidak tergantung pada pendamping, termasuk dalam hal pengambilan keputusan.
    Selanjutnya akhir dari acara pelatihan ini  adalah dengan pengisian table rencana tindak lanjut. Fasilitator berharap bahwa dengan diberikannya pelatihan selama lima hari ini, terbangun ide sekaligus kesiapan para pendamping manakala dihadapkan pada titik dimana para pendampinng tengah sukar menyelesaikan masalah. halim