The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Jumat, 16 November 2018

Berita

Blitar, 17 Mei 2016. The Post Institute bersama gabungan kelompok tani (gapoktan) Desa Pasiraman, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya akan sumber hayati). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan kelompok tani di Desa Pasiraman. Adapun kelompok tani di Desa Pasiraman ini terbagi menjadi sembilan kelompok yaitu kelompok Mitro Tani, Maju Tani, Mekar Makmur, Argo Mulyo, Tani Mulyo, Suron Tani, Puring Tani dan kelompok Langgeng Tani. Pelatihan ini sendiri bertempat di salah satu rumah anggota kelompok Tani Mulyo yaitu Endi, di Dusun Krajan, Desa Pasiraman.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi yang didukung oleh sumber anggaran dari Program Peduli dan Anggaran Dana Desa Pasiraman ini difasilitasi oleh Eko Nurwanto, Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Eko Nurwanto juga dibantu oleh tiga orang PPL lainnya, yaitu Suprayitno, Heri Suyitno dan Ervan Widyanto yang merupakan PPL wilayah Desa Pasiraman.

Kegiatan pelatihan pembuatan pupuk bokashi kali ini lebih berfokus kepada praktek pembuatan pupuk bokashi itu sendiri. Hal ini dikarenakan pada Rabu, 4 Mei 2016 di balai pertemuan warga Desa Pasirman para petani sudah mendapatkan pemaparan secara teori tentang pembuatan pupuk bokashi ini. Sehingga kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya. Eko Nurwanto yang juga menjadi pemateri pada pemaparan teori sempat melakukan penyegaran tentang materi yang diberikan sebelumnya. Beberapa petani sempat ditanya oleh Eko berkaitan dengan bokashi.

Dalam praktek pembuatan pupuk Bokashi ini, para petani Desa Pasiraman menggunakan media kotoran ternak yaitu srintil (kotoran kambing). Eko Nurwanto menjelaskan langkah-langkah pembuatan Bokashi, mulai dari penggunaan campuran air, bakteri fermenter dan tetes tebu. Bakteri fermenter memang dibutuhkan untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi yang dapat dimanfaatkan petani. Sebagaimana diketahui, kotoran ternak memerlukan waktu yang lama sekali untuk siap menjadi pupuk kandang. “Kira-kira satu tahun baru bisa dimanfaatkan untuk menjadi pupuk” ungkap Eko.

Pupuk bokashi ini sangat menguntungkan bagi para petani jika mampu memanfaatkannya. Selain sumber bahan baku yang melimpah karena hampir semua petani memiliki ternak, biaya yang dibutuhkan juga sangat murah dan mudah dalam pembuatannya. Kemudian penggunaan pupuk bokashi ini juga dapat meningkatkan unsur hara tanah dan mengurangi zat-zat kimia yang merusak kondisi tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

TPI selaku lembaga mitra pelaksana Program Peduli ini mengadakan kegiatan pelatihan bagi petani tidak lain untuk mendorong penguatan kapasitas petani guna mencapai kedaulatan pangan. Sehingga masyarakat dapat menentukan sistem kebutuhan bahan pangan sesuai dengan kapasitas lokal desanya. Selain itu, pelatihan ini juga sebagai media inklusi sosial bagi masyarakat desa yang beberapa diantaranya adalah lansia penyintas pelanggaran HAM berat masa lalu. Selain penyintas, dalam pelatihan ini juga dihadiri oleh beberapa petani perempuan. Ini menunjukkan bahwa peran perempuan petani mulai diperhitungkan di Desa Pasiraman. Semoga gerakan inklusi sosial ini dapat menjadi contoh di desa-desa lainnya.

Jum’at, 6 Mei 2016. Sekelompok petani sudah berkumpul di dekat Pantai Pasir Putih, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Bukan untuk menikmati libur panjang, sekelompok petani ini sedang bersiap-siap untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk bokashi (bahan organik kaya sumber hayati) di salah satu kandang ternak milik Katiman, anggota kelompok tani Pari Seger. Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini terselenggara atas kerjasama para petani dengan The Post Institute dan didukung oleh Program Peduli dari Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Pelatihan pembuatan pupuk bokashi ini diadakan berdasarkan keadaan petani yang sangat bergantung pada pupuk bersubsidi yang memang jumlahnya mulai dikurangi oleh Pemerintah. Padahal kondisi di lapangan, para petani sangat membutuhkan pupuk dalam jumlah yang sangat banyak. Pelatihan ini sendiri difasilitasi oleh Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Eko Nurwanto dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Prayit dari Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Wonotirto. Sebelum memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik, Eko Nurwanto mengenalkan BP3K Kecamatan Wonotirto pada para petani seabagi badan yang mewadahi para penyuluh.

Perwakilan kelompok tani di Desa Tambakrejo terlihat hadir dalam kegiatan pelatihan ini. Adapun petani Desa Tambakrejo ini terbagi dalam 5 kelompok tani yaitu kelompok tani Pari Seger, Bina Tani, Berkah Lestari, Sri Samudro, dan Subur Makmur. Dalam peserta pelatihan juga terdapat dua orang petani yang merupakan penyintas pelanggaran HAM masa lalu dan juga Babinsa Desa Tambakrejo. Namun sayang, dalam kegiatan ini tidak terdapat satupun aparat pemerintahan desa yang hadir untuk melihat kegiatan pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini, para petani disadarkan oleh BP3K jika bahan baku pembuatan pupuk bokashi ini sangat melimpah. Namun sayangnya pengetahuan petani dalam pengolahannya masih minim. Sehingga bahan baku tersebut tidak dapat digunakan secara maksimal oleh petani dalam produksi pertanian. “Kotoran ternak ini kalau masih mentah masih panas, kalau diproses sederhana butuh waktu lebih dari 1 tahun untuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk” jelas Eko pada petani. Namun saat ini ada teknologi menggunakan fermenter untuk mempercepat proses kotoran ternak menjadi pupuk bokashi.

Eko Nurwanto juga menyampaikan penggunaan pupuk organik ini akan banyak menguntungkan bagi petani karena selain harga yang sangat murah, bahan baku melimpah, pupuk bokashi juga dapat memperbaiki kualitas tanah yang terus berkurang karena penggunaan pupuk kimia. Bahkan Eko juga menjamin bahwa dalam dua tahun, petani bisa benar-benar meninggalkan pupuk subsidi. “Bapak-bapak semua kalau mau menggunakan pupuk bokashi sedikit-sedikit, setelah 6 kali tanam, saya jamin untuk tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali”.

Petani juga langsung mempraktekkan bersama BP3K cara mengolah kotoran ternak menjadi pupuk bokashi dengan media fermenter. Kotoran sapi yang berada di kandang Katiman menjadi bahan baku pembuatan bokashi. Kemudian para petani ini membagi tugas mencampur fermenter dengan air dan sebagainya dan adapula yang mencangkul untuk meratakan campuran fermenter dengan kotoran sapi. Setelah semuanya tercampur, kemudian ditutup agar tidak terkena air hujan. Eko menyampaikan, bahwa kotoran ternak yang sudah dicampur dengan  fermenter akan dapat digunakan sebagai pupuk setelah 2 minggu “Ini kalau sudah ditutup seperti ini, diusahakan tidak tertutup rapat karena fermenternya membutuhkan udara dan nanti 2 minggu lagi kita cek bersama perubahan setelah menjadi pupuk”.

Petani terlihat memperhatikan setiap penjelasan dan langkah-langkah pembuatan pupuk bokashi. Melihat biaya pembuatan yang lebih murah dan pembuatan yang tidak rumit, petani mulai tertarik untuk memulai beralih dari pupuk kimia. Bahkan fermenter yang digunakan sebagai bahan pelatihan langsung diminta oleh petani-petani untuk mempraktekkan sendiri pupuk bokashi. (ajian)

Ngrejo. Rabu, 13 April 2016. Jari-jari mungil itu “menari” lincah di atas instrumen gamelan. Ada yang menabuh gendang dan saron, ada juga yang memukul bonang. Para lansia Dukuh Prodo Desa Ngrejo itu terlihat kompak memainkan alat-alat musik khas Jawa tersebut. Begitulah aktivitas latihan seni karawitan Mekar Budoyo, Rabu (13/4) malam itu. Setiap Rabu, mulai sekitar pukul delapan malam hingga tengah malam, komunitas ini rutin menggelar latihan di salah satu rumah anggota kesenian, yang berada di Dukuh Prodho Desa Ngrejo.

Seni karawitan merupakan kebudayaan asli khas Jawa. Dulunya kesenian ini sangat berkembang pesat dan digemari oleh hampir seluruh warga Indonesia. Banyak acara atau pertunjukan yang menggunakan karawitan sebagai pengiringnya, semisal pertunjukan wayang kulit, ketoprak, campursari, dan lain sebagainya.  Tidak   hanya didalam negeri saja, seni karawitan juga sudah merambah sampai ke mancanegara. Banyak warga asing yang tertarik belajar cara memainkan kesenian ini, dengan cara datang ke Indonesia kemudian mempelajari kesenian ini dan kembali lagi ke negara asalnya untuk mengajarkannya ke teman- temannya. Tapi sayangnya kesenian ini mulai luntur dengan datangnya budaya budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Malam itu, warga Dukuh Prodho berkumpul di kediaman Bapak Sukoyo selaku ketua kesenian Karawitan Mekar Budoyo. Warga menyambut kedatangan dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo . Tujuan dari pemberian alat ini yaitu untuk mendorong agar kelompok kesenian Jaranan Pangesthu Budoyo  tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh sambutan dari Sukoyo ketua kelompok kesenian. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo. Setelah sambutan dari Sukoyo, dilanjutkan sambutan dari The Post Institute. The Post Institute menyampaikan pesan pesan kepada kawan kawan kesenian Karawitan Mekar Budoyo agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari The Post Institute menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada Sukoyo Ketua Kelompok Karawitan Mekar Budoyo. Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian Karawitan Mekar Budoyo.

Ngrejo. Rabu, 13 April 2016. Dahulu, organisasi karang taruna sangat berpengaruh dan terasa guyub dalam menghidupkan kegiatan dan aktivitas warga masyarakat. Namun, kegiatan-kegiatan karang taruna nampak berkurang. Sekarang inilah saatnya bagi para pemuda untuk kembali mengaktifkan kegiatan karang taruna.

Sementara itu Karang taruna, yang dahulu menjadi wadah berekspresi anak muda desa dalam mempercepat pembangunan di desa kini keberadaannya seolah seperti ada dan tiada. Aksi mereka hanya sering kita liat di momentum tertentu seperti 17 agustusan sebagai penyelenggara pesta kemerdekaan. Padahal karang taruna menjadi mesin terakhir yang menggerakkan semangat kepemudaan di desa, dan amat disayangkan jika keberadaannya hanya sebatas formalitas desa.

Malam itu Tim Post Institute mendatangi kediaman Paryoto selaku Ketua perkumpulan Pemuda Prodo Desa Ngrejo. Disana tim TPI ingin bersilaturahmi dengan pemuda Dukuh Prodo. Silaturahmi ini salah satu bentuk kegiatan yang akan mensinergiskan kegiatan Program Peduli dengan karang taruna yang bertujuan untuk membangun kapasitas karang taruna.

Paryoto yang mewakili pemuda prodho merespon dengan sangat positif kegiatan tersebut. Beliau mendukung kegiatan Program Peduli yang akan dilakukan di dukuh prodo ini. Beliau menyampaikan bahwa kurangnya kreatifitas pemuda salah satunya yang harus dikembangkan di daerah sini. Pengembangan SDM pemuda disini perlu menjadi perhatian khusus.

Program peduli ini mendorong untuk para pemuda berperan aktif dalam mendampingi pemerintahan desa. Untuk kedepannya dengan intensitas dan pelatihan yang akan dilaksanakan diharapkan para pemuda menjadi aktif mengawal pemerintahan desa.(aris)

Tambakrejo. Sabtu, 9 April 2016. Kesenian Jaranan sering muncul pada saat event atau peristiwa tertentu saja. Semisal di waktu warganya mengadakan hajatan, biasanya dengan mengadakan tontonan yang menghibur masyarakat setempat karena pada umumnya seni budaya jaranan, dilestarikan karena bukan hanya nilai komersil saja tapi ada juga nilai estetika, nilai budaya, nilai gotong royong serta nilai silaturahmi.

Kesenian jaranan sebetulnya memiliki sisi magis atau sarat dengan nilai-nilai spiritualitas masyarakat Jawa. Kesenian ini menampilkan aksi para penari nan melenggak-lenggok di atas kuda mainan atau sering juga disebut dengan istilah kuda kepang atau jaran kepang (jaran ialah bahasa Jawa buat kuda). Tarian kuda kepang diiringi oleh beberapa instrumen dari gamelan (seperangkat alat musik tradisional Jawa), seperti gong, kendang, adapula alat musik terompet, dan sebagainya.

Malam itu, sabtu 9 April warga Dukuh Krajan berkumpul di kediaman Bpk Supeno selaku ketua kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo. Seperti biasanya karena malam itu malam minggu di kediaman beliau ada banyak warga yang datang kesana untuk latihan rutinan ataupun hanya melihat saja. Warga menyambut kedatanagn dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo . Turut hadir juga dalam acara itu yaitu Bapak Kepala Desa Tambakrejo. Tujuan dari pemberian alat ini yaitu untuk mendorong agar kelompok kesenian Jaranan Pangesthu Budoyo  tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh sambutan dari Supeno ketua kelompok kesenian. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo. Setelah sambutan dari Supeno, dilanjutkan sambutan dari Deny Syahputra selaku perwakilan dari The Post Intitute. Deny menyampaikan pesan pesan kepada kawan kawan kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari Deny Syahputra yang mewakili The Post Institute  Menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada Supeno Ketua Kelompok Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo.  Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian Jaranan Turonggo Pangesthu Budoyo.

Kesenian jaranan ini punya nilai eksotis yang sangat bernilai, Karena wilayah Desa Tambakrejo ini adalah wilayah wisata pantai. Peran kesenian ini juga bisa diarahkan sebagai nilai tambah untuk sector pariwisata. Pariwisata dari segi panatai sudah menjadi daya tarik wilayah ini. Tetapi lebih bagus untuk kedepannya Tambakrejo tidak hanya mengenalkan dari segi wisata pantainya tapi juga dari segi budayanya seperti kesnian jaranan ini.(aris)

Lorejo. Sabtu 26 Maret 2016. Pelestarian seni budaya tidak hanya menjadi tanggungjawab lembaga dan pihak terkait saja, melainkan menjadi tanggung jawab semua komponen masyarakat. Tak terkecuali para warga dukuh kedunganti Kecamatan Bakung. Warga diajak ikut melestarikan seni tradisi dan budaya lokal yaitu seni Sholawatan.

Perkembangan budaya di Indonesia selalu naik dan turun, pada awalnya Indonesia sangat banyak peninggalan dari nenek moyang kita. Itulah semestinya yang harus kita banggakan. Tetapi saat ini mulai memudar dan dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Semakin majunya arus globalisasi, rasa cinta terhadap adat dan tradisi budaya semakin berkurang, ini sangat berdampak tidak baik bagi budaya yang kita miliki. 

Malam itu, sabtu 26 maret warga dukuh kedunganti berkumpul di mushola miftahul jannah. Warga menanti kedatanagn dari The Post Institute yang berencana pada hari itu memberikan sejumlah alat kesenian untuk kelompok kesenian Miftahul Jannah. Turut hadir juga dalam acara itu yaitu bapak RT setempat dan ketua Takhmir mushola. Tujuan dari pemebrian alat ini yaitu untuk mendorong agar kesenian sholawat miftahul jannah tetap aktif dan terus menjaga keseniannya.

Setelah semua berkumpul acarapun dimulai. Dibuka oleh kak Eka Eviana selaku ketua kelompok kegiatan sholawatan ini. Selanjutnya ada sambutan dari Ketua RT setempat dukuh Kedunganti. Beliau menyampaikan banyak terima kasih kepada The Post Institute dan Program Peduli yang telah memberikan dukungan alat kesenian kepada kelompok kesenian Sholawatan miftahul jannah. Setelah sambutan dari pak RT, dilanjutkan sambutan dari Mas Deny Syahputra selaku perwakilan dari The Post Intitute. Mas deny menyampaikan pesan pesan kepada teman teman sholawat miftahul jannah agar untuk kedepannya kelompok kesenian ini akan terus aktif dan tetap berkarya. Lalu dilanjutkan dengan acara simbolis penyerahan, yaitu dari Mas deny yang mewakili The Post Institute  Menyerahkan sejumlah alat kesenian kepada mbak Eka selaku Ketua Kelompok Sholawat Miftahul Jannah. Acarapun dilanjutkan dengan penyampaiakan pesan pesan dari ketua Takhmir sekaligaus ditutup dengan doa. Setelah semua sesi acara selesai semua warga menikmati tabuhan sholawat dari kelompok kesenian miftahul jannah.

Salah satu wargapun mengungkapkan bahwa, “para santri santri disini masih harus banyak bimbingan, kareana tabuhannya masih kurang harmonisasi”.(aris)

Page 1 of 5