The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 24 September 2018
Kamis, 24 Mei 2012 00:29

Tentang Kegelisahan Eksistensial

Setiap orang yang pernah merenung secara mendalam (kontemplasi) setidaknya pernah menderita apa yang dinamakan kegelisahan eksistensial. Kegelisahan yang muncul sehubungan dengan kehadirannya di dunia. Pada masa lalu, pelarian dari kegelisahan ini adalah dengan menciptakan ritual pemujaan kepada kekuatan-kekuatan di luar diri mereka. Kekuatan-kekuatan itu dinamai dewa. Ketika sistem agama diperkenalkan, manusia mendapatkan iman baru dengan memuja kepada Tuhan.

Tuhan dalam beberapa segi mengandung citra dewa yang pernah dipuja oleh manusia, namun menjadi sedikit "lebih" canggih pemaknaannya. Keimanan ini membawa manusia kedalam kehidupan spiritual yang lebih mapan dan manusiawi (misalnya pengorbanan berupa manusia dilarang sepenuhnya).

Namun seringkali dalam keimanan terhadap agama, terjadi pergolakan keyakinan karena munculnya beberapa kontradiksi dalam ajaran agama. Misalnya pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat Tuhan. Jadi, tak selalu orang yang belajar agama dengan tekun akan menemukan kepuasan dan kedamaian. Bahkan bisa saja pada satu titik ia menjadi tak percaya pada agama dan runtuh keimanannya. Ini tergantung pada presumsi awal ia mempelajari agama. Ketika presumsi tidak sesuai dengan fakta maka keimanan akan goyah. Hampir setiap orang besar dengan membawa keyakinan warisan, sesuatu yang biasanya sulit dipertanggungjawabkan namun harus dipegang dengan erat. Ketiadaan keyakinan membuat absurditas eksistensi. Ini tak terelakkan ketika seorang "musafir batin" melakukan pencarian kebenaran. Hal ini juga dialami orang-orang besar seperti Siddharta Gautama, Al Ghazali dan Santo Agustinus. Terlepas dari "hasil akhir" pencariannya, mereka adalah orang-orang berbahagia setelah sekian lama merasa perih melakukan pencarian.

Suatu jalan mencari kebenaran di samping agama telah lama tumbuh setua umur umat manusia, yaitu filsafat. Kadang filsafat dan agama bertemu di satu titik, kadang berpisah. Manusia berusaha mendamaikan keduanya. Bagaimanapun, iman pada Tuhan memberi andil yang penting dalam sejarah umat manusia sehingga ia tak bisa dimusnahkan demi kemajuan berpikir yang lebih canggih. Agama tetap bertahan karena manusia selalu bisa menafsirkan warisan paradigma kuno ke dalam dunia baru. Sayangnya, walau pada intinya mengajarkan kasih sayang, agama juga dipakai sebagai pembenaran tindakan kekerasan dalam sejarah. Dari sinilah filsafat juga bertahan bersama agama untuk bisa saling melengkapi dalam pencarian keping kebenaran yang tercecer.

Biasanya saat kegelisahan menyerang keyakinan, yang dilakukan adalah pengujian-pengujian dasar atas keyakinan itu. Pengujian ini bisa saja dilakukan sendiri atau atas bimbingan orang lain yang lebih paham. Kegelisahan timbul karena dalam hidup manusia memerlukan rasa aman pada iman. Orang yang takut kehilangan iman akan melakukan dua cara, pertama menjaganya dari segala pemikiran luar, kedua, justru membedahnya. Tak banyak yang berani mengambil sikap kedua. Kehilangan iman sangatlah menyakitkan, ibarat membedah perahu yang rusak saat berlayar di lautan. Ada dua kemungkinan terjadi: bisa saja perahunya karam atau ia selamat karena mengetahui bagian mana dari perahunya yang berlubang.

Ketika kegelisahan muncul pertamakali, orang akan gelisah seterusnya dan tak bisa berhenti bertanya. Pertanyaan itu akan terus menuju hal-hal yang sangat mendasar. Dalam filsafat setidaknya pertanyaan-pertanyaan ini digolongkan kedalam tiga bagian yaitu tentang:

a) Apa
b) Bagaimana
c) Mengapa

"Apa" mengacu pada pertanyaan tentang definisi dasar segala sesuatu. Jika kita bertanya tentang Tuhan dan keadilan-Nya, pertama-tama haruslah didefinisikan kata Tuhan dan adil terlebih dulu. Jawaban apapun yang kita hasilkan haruslah berdasar pada definisi yang kita buat. "Bagaimana" mengacu pada pertanyaan bagaimana pengetahuan itu bisa kita dapatkan serta bagaimana itu bisa kita sebut benar. Orang mendefinisikan sesuatu dengan kapasitasnya sendiri-sendiri. Jika ingin mendapatkan jawaban yang valid maka juga harus diketahui bagaimana pengetahuan itu didapatkan. "Mengapa" mengacu pada pertanyaan tentang hakikat. Namun pertanyaan ini agaknya lebih banyak dijawab oleh agama daripada filsafat. Jika sesuatu telah diketahui atau didefinisikan, apa maknanya bagi kita? Mengapa demikian? Apa manfaatnya?

Yang disayangkan, kesempatan hidup manusia di dunia ini terbatas. Begitu juga dengan kapasitas kita untuk mencermati segala hal di dunia. Belum lagi sejumlah kenikmatan dan kebahagiaan duniawi yang rasanya sayang untuk diabaikan. Namun mengabaikan pencarian spiritual hanya demi alasan keterbatasan waktu hidup adalah alasan naif yang dibuat orang-orang taklid. Bukankah umur manusia tak bisa dijamin sekalipun dengan iman dan ilmu? Lantas bisakah kita melanjutkan hidup dengan jawaban apapun yang kita punya?

Semuanya kembali lagi kepada kita. Kegelisahan tak bisa dihentikan tanpa alasan yang jelas. Tapi juga tak bisa dibiarkan berkelana tanpa tujuan. Bagaimanapun hidup harus tetap dihidupi karena ia jelas-jelas kita alami. Mungkin ada baiknya mengambil pelajaran dari kebijakan kisah Sufi berikut ini:

Istana Khalifah harun Al-Rasyid sangatlah indah. Ruangannya dihias dengan ornamen-ornamen dan perabot terbaik di dunia. Suatu ketika seorang murid diminta oleh guru Sufinya untuk berkeliling sebentar di dalam istana sambil membawa sesendok minyak. Si murid dipesan oleh gurunya agar tak menumpahkan minyak itu setetes pun. Maka masuklah si murid ke dalam istana dengan mata terus lekat pada sendoknya. Setelah beberapa saat ia keluar dengan minyak di sendoknya tetap utuh tak tertumpah setetes pun. Lalu gurunya bertanya tentang keadaan dalam istana. Tentu saja si murid tak bisa menjawab karena matanya tadi terus lekat menjaga minyak, tak leluasa mengamati sekitar. Kemudian sang guru menyuruhnya kembali ke dalam istana tetapi ia harus melihat-lihat apa saja yang ada di sana. Tak lama kemudian si murid kembali ke gurunya dan dengan muka takjub bercerita tentang betapa indah interior istana sang khalifah. Sang guru lantas bertanya bagaimana dengan minyak di sendoknya. Betapa terkejut si murid, ternyata tanpa sadar ia telah menumpahkan minyak itu seluruhnya.

Sang guru menjelaskan bahwa minyak itu ibarat pengetahuan spiritual dan interior istana itu adalah keindahan duniawi. Bagaimanakah caranya agar kita bisa menikmati keindahan dalam istana dengan membawa sesendok minyak tanpa menumpahkannya karena terlena?

Semoga kita memiliki cukup serotonin atau dopamin untuk tetap tidak depresi. Tetap tersenyum :

Penulis: Arief Gugun Gunawan adalah Alumni Sastra Jepang UGM