The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 21 Mei 2018
Selasa, 15 Mei 2012 00:18

Toleransi, Filosofi Luhur Yang Tercabik

Deni Syahputra*  Banyak pihak meyakini, bahwa jauh hari sebelum agama-agama dari timur tengah masuk ke Indonesia, yang dulu sering disebut Nusantara, masyarakat di kawasan itu sudah hidup dalam tatanan social yang lebih tertib dan teratur dibanding wilayah lain. Walaupun tidak banyak manuskrip sejarah yang bisa menjelaskan secara gamblang dan jelas, namun fakta-fakta yang ada cukup memberi bukti bahwa system social yang terbangun pada masa itu, benar-benar berlandaskan jiwa toleransi yang tinggi. Sayang budaya menulis bangsa ini pada masa itu masih sangat rendah bila dibanding dengan dunia barat, walaupun masyarakat kita ( jawa ) sejak jaman dahulu sudah mempunyai huruf sendiri, bahasa sendiri, kalender sendiri bahkan pengitungan musim sendiri. Meski instrument yang dibutuhkan untuk menorehkan pemikiran dan catatan kehidupan telah lengkap tersedia, nampaknya masyarakat kita lebih suka meletakkan catatan sejarah dalam bahasa tutur seperti dongeng, mitos, legenda tembang dan lain-lain.

Gotongroyong, kenduren selamatan, anjangsana bila ada kolega yang mempunyai hajatan merupakan bukti konkret warisan budaya yang sarat dengan semangat toleransi yang tinggi. Bagi masyarakat yang tinggal di desa, pasti masih bisa melihat dan merasakan dinamika kehidupan masyarakat yang masih mencerminkan sikap tenggang rasa ini. Di pedesaan, perbedaan keyakinan, bukanlah menjadi suatu halangan atau hambatan dalam membangun relasi social. Bahkan di beberapa tempat di kabupaten Blitar, masih kuat tradisi saling anjangsana, dari rumah ke rumah lainnya pada saat hari-hari besar agama. Tidak peduli mereka berbeda agama , masyarakat akan saling memberikan ucapan selamat kepada para tetangga dan sanak saudara yang sedang merayakan hari besar agama masing-masing. Hal tersebut bukanlah sebuah cerita kosong yang di besar-besarkan, namun benar-benar merupakan khasanah kehidupan yang bisa kita jumpai pada beberapa desa di pinggiran Kabupaen Blitar. Bahkan tidak tertutup kemungkinan hal tersebut dapat kita jumpai di daerah-daerah lain di Indomnesia.

Sayangnya, kisah indah toleransi dalam kehidupan, yang mampu mengikat manusia-manusia dengan segala perbedaannya, sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh dalam kebersamaan, bagi sebagian kelompok bukanlah suatu hal yang patut dijaga , dan ditumbuh kembangkan. Kondisi itu justru dinilai sebagai sebuah hal yang bertentangan dengan aturan main dalam ajaran agama yang mereka yakini. Kelompok –kelompok tertentu, mempunyai penafsiran sendiri tentang toleransi ini. Sehingga tidak jarang, penafsiran itu menimbulkan sekat-sekat tertentu di dalam cara menilai, memandang serta cara berhubungan dengan kelompok laimnnya. Memang, harmoni dalam kehidupan, yang berhasil dibangun oleh masyarakat sejak ribuan tahun yang lalu, dalam sejarahnya mengalami pergeseran-pergeseran. Dan secara kasat mata sekarang kita bisa menyaksikan sendiri benturan-benturan antar individu maupun kelompok karena lemahnya atau bahkan hilangnya sikap tenggang rasa atau toleransi itu. Sebetulnya, semua konflik antar individu atau kelompok masyarakat tidak hanya berpangkal pada factor agama / keyakinan. Namun hampir semua benturan yang terjadi, memang karena hilangnya jiwa toleran yang dulu pernah berakar kuat di bumi Nusantara. Hilangnya nilai toleransi itulah yang acapkali menjadi pangkal terjadinya konflik horizontal. Mungkin fenomena tersebut menarik untuk dijadikan sebuah kajian, hal apa yang menjadi penyebab utama lunturnya sikap toleran itu. Bila kita menyimak beberapa kejadian yang bisa dijadikan rujukan, nampaknya factor sumberdaya manusia, ekonomi dan politik dapat kita jadikan sebagai actor utama yang berhasil melemahkan sikap tenggang rasa atau toleransi itu. Rata-rata para pelaku kekerasan adalah individu-individu dari golongan menengah ke bawah. Selain itu, para pelaku umumnya berasal dari kelompok masyarakat dengan setrata ekonomi yang tidak berkecukupan. Dan yang tidak bisa dipinggirkan, perbedaan kepentingan politik sangat kentara dalam banyak konflik horizontal yang terjadi. Nah, kalau factor perbedaan yang dijadikan pembenar atas terjadinya pertarungan antar kelompok, bukankah sejak dulu bangsa ini lahir dari sebuah perbedaan atau kemajemukan ? Lagi pula, mustahil kita dapat mewujudkan sebuah komunitas masyarakat yang homogen. Keanekaragaman, tentulah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Baik dalam cara berfikir, meyakini sesuatu dan cara berbudaya. Namun kemampuan menolererir perbedaan disekitar kita itulah yang menjadi hal utama dalam mewujudkan harmoni kehidupan di alam ini. Keselarasan ditengah-tengah perbedaan, menjadi tanggungjawab semua pihak untuk mewujudkannya. Kehidupan yang harmonis tidak bisa terwujud secara alamiah, karena manusia mempunyai naluri dasar untuk saling mengalahkan dan memenuhi kepentingannya demi mempertahankan hidupnya. Sehingga diperlukan upaya untuk menumbuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat agar bersama-sama saling menjaga, menghormati dan melindungi, demi tercapainya kehidupan yang teratur, tertib dan manusiawi. Untuk mewujudkan kesadaran kolektif, akan arti penting dari sikap toleran, agar tercipta tatanan kehidupan seperti tersebut di atas, dibutuhkan peran serta negara, dalam hal ini pemerintah, kaum intelektual, NGO, pemuka-pemuka masyarakat dan elemen-elemen penting lainnya. Ditengah-tengah himpitan pemenuhan kebutuhan untuk hidup, dan arus masuknya budaya asing yang sedemikian deras, serta tantangan-tantangan lainnya, perjuangan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat, guna menuju peri kehidupan yang harmonis, rukun dan damai harus terus diupayakan, diperjuangkan dan ditumbuh suburkan. Sehingga kita benar-benar bisa mewujudkan kemuliaan sebagai manusia, yang sangat berbeda dengan mahluk lainnya. Impian bersama untuk hidup harmonis di alam ini bisa menjadi hal yang lebih penting daripada sekedar pemikiran yang egois dan sectarian. Maka tidak berlebihan kiranya, bila filosofi luhur nenek moyang kita, “ tansah hamemayu hayuning bawono, memayu hayuning sesami “ kita jadikan salah satu spirit dan inspirasi dalam mewujudkan ketentraman di muka bumi ini…. Salam perdamaian…

* Deni Syahputra (Divisi Advokasi The Post Institute)