The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Selasa, 21 Agustus 2018
Kamis, 10 Mei 2012 04:12

Memahami Spiritual Pekerja Seks

Siapapun tidak mengingkari bahwa dunia prostitusi bukanlah pilihan utama di dalam bahtera sosial manusia. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang memiliki cita-cita itu. Kerasnya kehidupan sosiallah yang mengantarkan sesorang menjalani kehidupan kelam. Mereka berani mengorbankan masa depan dan kehidupannya yang tidak lain hanyalah untuk dapatkan uang bahkan pencarian “jati diri”. Namun realitasnya hidup tidak sekedar butuh uang atau “jati diri”. Ada juga dimensi kerohanian yang tetap menggelegak dan butuh ruang untuk mengekspresikannya.

Ada sebuah anggapan yang sangat aprioristik bahwa para pekerja seks adalah orang-orang pinggiran (terpinggir) dari tindakan keagamaan. Mereka dianggap sebagai orang yang telah berada di luar ajaran agamanya. Padahal sesungguhnya mereka adalah sama sebagaimana manusia lainnya, yang tetap butuh pada dunia keyakinan Tuhan yang misterius dan amal kebaikan. Tetapi, stigma negatif yang sudah terlanjur melekat demikian kuat dan dibangun secara terstruktur (terutama oleh kaum agamawan) telah menjadikan mereka ini sebagai orang-orang terbuang secara struktural dan kultural.

Agama selalu menyangkut persoalan kehadiran yang kudus dalam kehidupan manusia. Agama selalu terkait dengan misteri ketuhanan. Tuhan dapat hadir dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Ini adalah hak prerogatif Tuhan yang tidak dapat diintervensi oleh manusia. Tuhan dapat saja hadir di hati manusia macam apa pun. Sebut saja Rini, 30 tahun, seorang perempuan dari lumajang. ”Saya datang ke lokalisasi ini agar dapat banyak menabung untuk dikirim kepada keluarga di daerah. Bahkan saya ingin memberangkatkan ibu pergi haji.”tuturnya. Ketika ada yang mengatakan bahwa uang dari bekerja di  lokalisasi tidak sah dipakai untuk ibadah, Rini hanya tertawa kecil. ”Jangan bicara halal atau haram ah! Apakah pejabat yang naik haji pakai duit korupsi juga halal?”selorohnya.

Gelegak spiritual juga dapat disimak pada kisah Murti, 25 tahun berikut ini: Murti memang sengaja tidak menerima pelanggan di malam Jumat agar memiliki cukup waktu untuk meratapi nasibnya. Meskipun tidak menjalankan sholat lima waktu secara teratur, namun ia mengaku tertekan dengan keadaannya saat ini. Ia meyakini bahwa meskipun dirinya kotor, suatu saat akan memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Ia berkeyakinan bahwa urusan doanya diterima atau tidak, itu urusan Tuhan. Saat malam Jumat ia mengaji yasin, tahlil dan Alquran. Serta setiap hari Kamis, ia juga menitipkan sedikit uang pada pelayan lokalisasi untuk infaq di masjid terdekat. Demikian juga dengan Sarah, 28 tahun yang tidak menerima tamu hari Minggu karena pada hari itulah dia melakukan ibadah pagi di gereja dan kegiatan kerohanian lainnya. Dan saat romadhon tiba, sebagian besar dari mereka mengkhusukkan diri untuk menjalankan ibadah puasa beserta amalan-amalannya, bukan semata-mata karena razia aparat namun lebih dari itu karena dimensi spiritualitas yang menggelegak dalam diri mereka.

Namun segala kebaikan yang mereka lakukan, mengikuti rutinitas ibadah, acara-acara keagamaan, sering dipandang negatif dan dicurigai oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindakan semu, tidak sungguh-sungguh dan munafik. Padahal mereka juga manusia yang punya spiritualitas dan bahasa sendiri dalam mengapresiasikan dan berdialog dengan Tuhan. Dari perspektif inilah, diketahui bahwa pekerja seks  memiiki ruang agama  di ruang belakang yang tersembunyi, berada dalam kesadaran hakiki, pengakuan keberagamaan, doa, harapan,takdir dan kepastian Tuhan yang mereka yakini sebagai realitas menakjubkan. Indahnya memandang dunia tanpa prejudice dan sudah saatnya semua berlapang dada bahwa di balik kehidupan yang gemerlap dengan noda hitam ternyata ada sesuatu yang masih berwarna putih, ada mutiara di dalam debu. Namun konstruksi sosial tentang pekerja seks meyebabkan stereotipe mereka selalu berada dalam ruang sosial yang tidak menguntungkan, selalu terpinggirkan, dikonstruksi negatif dan berada di ruang tulisan tercecer, berita diuber-uber, diperiksa dan ditangkap.

Pengkajian terhadap spiritualitas para pekerja seks sesungguhnya adalah usaha untuk memahami kenyatan sosial yang selalu dipandang sebelah mata, terutama oleh kaum agamawan, bahwa pekerja seks adalah makhluk kotor dan seabreg simbolisasi miring lainnya. Kajian ini justru akan mengungkap tentang "rasa" beragama para pekerja seks yang sebenarnya sama dengan lainnya, yaitu memiliki harapan kepada Tuhan tentang hidup yang layak sebagai manusia sehingga harus memahaminya dengan empati dan lebih ramah dalam relasinya dengan para pekerja seks terutama bagi kaum agamawan dan pembuat kebijakan juga masyarakat pada umumnya.Allahu a’lam bishoab.

Penulis: Titim Fatmawati, (Divisi Perempuan dan Anak, The Post-Institute)