The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 17 Desember 2018
Jum'at, 04 Mei 2012 02:58

Nyaleg: Jadi Kaya Atau Jadi Gila

Suatu siang, pada tanggal 11 April, saya dating ke warung bakso langganan di kota Blitar. Tanpa sengaja, teman sesama penggemar bakso yang kebetulan nyaleg di legeslatif kota Blitar nongrong sambil melahap bakso dengan enaknya. Tanpa basa-basi penulis langsung menanyakan “gimana bos suaranya?”. Masih sambil menyantap bakso beliau menjawab” wah berat, sekarang ini harga satu lidi mahalnya minta ampun, tetap saja kalah sama yang uangnya banyak” ungkapnya. Maklum beliaunya cumin habis puluhan juta jadi kalau cuman dapat 360 suara saja dirinya bisa menerima.

Untuk menjadi caleg secara umum memang harus aktif terlebih dahulu. Minimal aktif dibeberapa organisasi kemasyarakatan, paling tidak ikut yasinan lah, jadi minimal orang satu RT memilih. Herannya, caleg sekarang tidak tahu berasal dari mana langsung ngasih aja. Jujur saya personal dapat barang bermacam-macam selama masa kampanye, kaos, madu satu botol, bawang putih seperempat kilo, dua kalender, satu botol pupuk organik, dua pak rokok dari dua partai dan banyak tanggalan. Sayangnya tidak ada yang ngasih duit hehe…Yah, apapun itu, yang jelas kami masyarakat tidak memilih berdasarkan banyaknya materi yang diberikan. Saya memilih caleg yang rasional. Rasional disini bisa juga karena pengaruh ibu-ibu tetangga waktu belanja dipagi hari. Yang jelas pemberian tersebut tidak begitu dihiraukanlah.

Tidak bisa dibayangkan lagi, masing-masing caleg tersebut harus menghasilkan berapa juta untuk kampanye. Salah satu ketua partai tingkat kabupaten bahkan mengaku menghabiskan dana 1 M.  bagi mereka yang tidak punya cadangan dana biasanya mengusahakan dengan menjual tanah atau property lainnya. Lantas ketika mereka berhasil menduduki kursi legislative bukankah otomatis langsung mencari-cari cara bagaimana uang yang telah diinvestkan bisa balik hanya dengan mengandalkan gaji.

Pemahaman menjadi dewan adalah cara untuk hidup makmur meruakan pemahaman yang tidak salah tetapi berbahaya. Sebab embrio untuk korupsi berasal dari sini. Dewan untuk rakyat berubah menjadi dewan untuk kaya. Lantas kalau tidak korupsi dari mana mereka bisa mengganti uang kaos yang begitu banyak? Kalau tidak korupsi dari mana mereka mengganti uang pemasangan banner?

Ingin bukti? Simak saja cerita-cerita bahwa banyak caleg yang gagal mendatangai RSJ. Pasca pileg RSJseluruh indonesia mengalami lonjakan penerimaan pasien sekitar 100%. Bagi mereka yang mendekatkan diri secara spiritual, berbondong-bondong ke kyai untuk terapi jiwa. Lebih tragis lagi ada caleg yang bunuh diri. Jika mereka benar-benar memperjuangkan hak rakyat seharusnya berwawasan bahwa walaupun tidak menjadi dewan masih banyak cara untuk berjuang, atau paling tidak banyak cara untuk kaya. Berjuang tidak harus menjadi dewan. Dan menjadi kaya juga tidak harus menjadi dewan.

Untuk Blitar sendiri, kasus yang masih ditemui pada caleg gagal biasanya menghilang atau sakit tidak jelas. Tapi apaupun itu, kesiapan mental caleg haruslah kuat. Jika siap menang maka juga harus siap kalah. Yah kalu dipikir-pikir ini tidak seperti pesta demokrasi, tetapi lebih mirip judi atau untung-untungan. Semoga saja para legislative yang berhasil medduki kursi DPR merupakan mereka yang benar-benar siap secara mental. Tidak untuk membohongi rakyat tetapi untuk membantu rakyat menemukan kemakmuran dan keadilan (redaktur).