The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Kamis, 31 Juli 2014
Jum'at, 04 Mei 2012 02:50

Refleksi Pemberontakan PETA di Blitar

Pendudukan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun menyisakan cerita sejarah yang menarik. Masa pendudukan di mulai pada tahun 1942, selisih dua tahun dengan bersamaan  dimulainya perang dunia ke II pada bulan Mei 1940. Ekspansi jepang ke Indonesia juga merupakan sebab akibat dari terjadinya perang dunia kedua tersebut. Di daratan Eropa Jerman dengan rezim nazinya mencoba melakukan ekspansi besar-besaran, Jepang sebagai Negara sekutu Jerman juga melakukan pendudukan di Negara-negara Asia timur lainnya.

Pendudukan jepang di Indonesia membawa implikasi bagi kehidupan rakyat Indonesia. Jepang melakukan segala upaya untuk memusnahkan apa-apa yang berpengaruh barat, seperti melarang pemakaian bahasa Belanda dan inggris, mensosialisasikan pemakaian bahasa Jepang, meruntuhkan patung-patung Eropa, serta jalan-jalan diberi nama baru dan pengembalian nama Batavia menjadi Jakarta kembali.    

Jepang juga merangkul tokoh-tokoh nasionalis, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat. Hatta dan Syahrir sebenarnya sangat menentang Jepang, dikarenakan Jepang ber-ediologi fasis. Strategi Hatta untuk mencari jalan kemerdekaan bagi rakyat, adalah bekerjasama dengan pihak Jepang. Berbeda dengan Syahrir yang lebih memilih membentuk jaringan bawah tanah guna melawan musuh. Sementara Soekarno lebih menganggap kedua Negara seperti Belanda dan Jepang sebagai imperialis, tetapi Soekarno juga bersama-sama dengan Hatta melakukan strategi bekerjasama dengan Jepang.

kebijakan Jepang untuk memobilisasi rakyat, adalah membentuk tentara pembela tanah air atau disingkat PETA. Berdiri pada bulan Oktober 1943, ini merupakan tentara sukarela yang dimaksudkan sebagai pasukan gerilya pembantu guna melawan serbuan pihak sekutu. Disiplin PETA sangat kuat sekali dan ide-ide nasionalis sangat dimanfaatkan untuk indoktrinasi.

Pemberontakan PETA Blitar dan Hari Valentin

Pemberontakan PETA di Blitar, terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Soeprijadi. Dengan, melakukan serangan terhadap gudang senjata. Tetapi, pemberontakan mampu  dipadamkan oleh pihak jepang, serta semua yang terlibat dalam pemberontakan dijatuhi hukuman mati termasuk pemimpin lapangan yang banyak dilupakan yaitu Moeradi. Sementara, Soprijadi yang paling bertanggungjawab akan pemberontakan menghilang tanpa diketahui sampai saat ini.

Peringatakan pemberontakan PETA seharusnya menjadi tonggak bangsa dalam memahami nilai-nilai sejarah. Sejarah pemberontakan PETA di Blitar lebih banyak dilupakan, masyarakat  saat ini lebih mengingat tanggal 14 Februari sebagai hari valentine. Dari hal tersebut diatas, dapat terlihat bahwa  ditinggalkan dan dilupakannya sejarah bangsa sendiri merupakan peristiwa yang terjadi di masyarakat. Pengadopsian budaya barat cenderung marak terjadi, daripada belajar akan pentingnya sejarah bangsa.

Sebuah refleksi tentang semua ini adalah, bahwa kurangnya pemahaman sejarah yang benar, karena sejarah juga menjadi manipulasi pihak penguasa, serta Negara tidak melakukan pendidikan karakter individu pada masyarakat yang cenderung dipengaruhi oleh sistem global (Arief A. Setiawan, Staf Peneliti The Post-Institute).