The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 21 Mei 2018
Rabu, 06 Mei 2015 05:21

Kisah Tuan Tanah

Kaki itu masih terangkat dimeja ukir tua yang sudah mulai pudar warna pliturnya. Seperti biasa, tangan kanannya lekat lekat memegang sebatang cerutu yang sesekali disadapnya dalam dalam. Dan dikeluarkan asapnya yang seketika itu berhambar mengudara. Membuat risih burung gagak yang sudah  tiga tahun selalu menemani gelak tawa dan candanya. Burung gagak pemakan daging yang sengaja dibelinya dari Hutan Arizona itu baginya mungkin lebih mahal dari pada seluruh nyawa orang di desanya. Atau bahkan lebih mahal dari pada semua petak tanah yang terhampar luas di kanan kiri bangunan rumahnya yang bercokol megah tanpa ada pesaing berat.
Sebut saja namanya Raharjo. Tuan Tanah, demikianlah kebanyakan orang memanggilnya. Kepongahannya mungkin membuat para penduduk berfikir seribu kali kenapa dia harus di panggil Tuan Tanah. Dengan sebutan mentereng demikian. Dialah Tuan Tanah yang berkuasa se jagad negerinya, dia memiliki hampir semua tanah yang ada didesanya. Permainan dagang Tanah murahan yang tak jarang dilupakan orang. Membelinya dengan murah meriah, kemudian menjualnya dengan mahalnya.
 Tak heran kalau hedonis sudah menjadi tabiatnya yang sulit dikaburkan. Meskipun dia mendapatkannya dengan cara buruk, seburuk tabiatnya. Dan seram, seseram mukanya yang dipenuhi dengan bulu kriting. Di godeknya, jenggotnya dan kumisnya yang lebih mirip diibaratkan dengan ulat api.
”Jikalau dia tak mau bayar, tangkap dia. Suruh menghadapku. Bagaimanapun caranya. Biar dia jadi makanan anak kesayanganku satu ini” getar lidahnya sambil mengelus elus bulu gagak, dan  menyuruh ajudannya untuk memanggil orang orang yang tak kuat membayar upeti.
Setelah lahan mereka dimanipulasi habis habisan, giliran nyawa mereka yang digerogoti dengan sejuta alasan. Tak kuat bayarlah, tak disiplinlah. Dan seterusnya.
Dan praktis, jika salah seorang sudah masuk dalam catatan merahnya. Tak selamatlah dia. Paling nyaman mungkin dia akan mati minum obat tikus, didepan keluarganya sendiri dan orang orang banyak, sampai bebusa busa. ”Matilah kau. Dasar pribumi kolot” sumpah serapahnya mungkin bisa diartikan ”Jika mau mati dengan keadaan demikian, turuti perintahku”
Atau, memilih mati dengan cara yang lain. Yakni dipenggal kepalanya, kemudian bagian tempurung otaknya dibelah, dan dimasukkan kedalam sangkar burung gagak. Dan segeralah, burung burung itu menyergapnya seperti sayur mayur. Sengsara sekali rasanya hidup bersama orang aristokrat yang berhati serigala. Berbudi tapi tak bernurani.
”Lebih baik aku memilih hidup di alam kebebasan dalam keadaan miskin, dan lapar, daripada harus kenyang namun tak nyaman. Dirongrong dengan suara samar samar. Dengan dada yang membusung kedepan?” mungkin itu satu cerminan warga pribumi yang muak dengan tabiat dan norma norma tirani yang menyisakan pundi pundi sejarah kelabu.
 
Terang saja, mereka hanya berani mengaitkan pembicaraan tentang Tuan Tanah dikesunyian, atau sesama orang yang juga didera ketakutan. Kalau tidak demikian, orang perorang berlomba mencari kesalahan masing masing. Kemudian melaporkan kepada Tuan Tanah. Lantas dia dapat imbalan, sedangkan yang dilaporkan, paling ringan dimasukkan kesarang burung gagak dan merasakan cabikan cabikan yang berakhir sengsara dan mati.
Jikalau Tuan Tanah itu lewat dengan mobil Williys, mirip sekali dengan kisah Hitler, atau mungkin Stallin, berbaju necis dan berdasi kupu kupu, dengan tongkat dan cerutu yang tetap terjaga. Segera, warga pribumi menyerbunya, berjejer rapi disepanjang jalan dengan lutut berjajar dengan tanah. ” Tuan Tanah yang mulia” demikian suara gemuruh itu bila disamarkan.
Jelas, bukan keihklasan yang mereka pancarkan, namun hanya paksaan, tidak lebih. Selebihnya mungkin tentang. ”Kapan dia akan menemui ajalnya, mati dan dikubur. kemudian akan kita hentak sekuat kuatnya.” hanya itu, tak lebih.
Pernah juga mereka merencanakan pemberontakan masal yang ditujukan padanya. Tapi tak kuasalah, justru pencokol utama rencana itu tertangkap duluan.
” Berani beraninya kau merencanakan pemberontakan untuk menghancurkanku” ujarnya lantang. Pimpinan itu tak menjawabnya. Namun hanya menyimbolkan kebenciannya lewat ludahan yang tepat mengenai jidatanya. Mungkin dia sudah yakin bahwa maut datang hari ini, tapi jika kekuasaan tak dapat ludahan seperti ini. Mungkin nyali penduduk pribumi akan mati selamanya dan terpendam.
Seketika itu, tongkat Tuan Tanah pun segera ditusukkan ke salah satu matanya, sampai keluar, kemudian dilemparkannya ke lantai. Segera, gagak hitam yang ditangannya  meluncur mematuknya. Selanjutnya, tongkat yang berujung lancip itupun ditusukkan ke pangkal tenggorokanya. ”Matilah kau, dasar pribumi kurang ajar”lantangnya. Dan hal itu mungkin terjadi berpuluh puluh kali dalam hidupnya. Sayangnya mereka semua mati konyol ditangan burung gagak yang berantai emas. Tak ada yang lebih.
 
Hari demi hari bagi penduduk pribumi semakin terasa mencekam, hujan hujatan dan lain sebagainya juga tak kunjung reda. Masalah demi masalah pun menjadi pelik, mulai dari rentannya wabah penyakit dan kelaparan yang membabi buta. Lantas hal demikian lah yang diharapkan Tuan Tanah ?.
Jika ada orang yang hendak mati, dia justru menghampirinya, kemudian menolongnya, dengan syarat dia mau menjadi budaknya seumur hidup jika sudah sembuh. Tak pelak, banyak dari mereka yang memilih mati daripada mengabdi kepada Tuan Tanah yang pongah. Ogahan ogahan mereka memang cukup beralasan, setidaknya kehidupan kedua mereka tak seburuk kehidupan pertamanya.
 
Dan, ambisi menundukkan Tuan Tanah sebenarnya masih tertancap pula, mungkin bukan menjadi rencana besar yang bisa dimusyarahkan. Itu tidak mungkin. Hanya senjata kondisional yang mungkin sangat manjur, konsep mereka jelas kalah praktis dengan Tuan Tanah. Niat itupun diurunkan daripada nanti harus mati konyol, di paruh gagaknya mungkin, atau ditongkatnya, atau mungkin di tangan penduduk pribumi sendiri yang menjadi ajudannya, kemudian sok etis. Padahal jabatan mereka hanya sebagai ajudan yang tak punya harga diri. Mengabdi hanya sebatas menjual diri.
Tak ayal kalau penduduk pribumi sendiri geram kepada mereka yang bersikap ketus dan pembuat onar.
 
Seperti biasanya, mungkin bagi Tuan Tanah, hari ini adalah hari yang istimewa daripada biasanya, karena keberhasilannya meringkus tikus tikus ajudaannya yang berusaha memperdaya rezimnya. Jelas, meskipun pongah, dia punya jiwa disiplin dan anti nepotisme atas rezimnya. Dia lebih pada bersikap hedonis, dan egois.
 
Akhirnya diapun berkeliling ke seluruh penjuru desanya, mungkin dengan simbol ”Jangan berani melawan kekuasaan Tuan Tanah, atau kalian mati konyol”
Tapi, ada satu hal yang kali ini membuat aneh beberapa orang pribumi yang selalu menyambutnya dengan senyuman paksaan. Ya, saat mobil Wiilysnya tengah berjalan pelan, diiringi dengan suara dentupan langkah ajudannya yang berirama, datang menghadang seorang bocah ingusan kecil tepat sepuluh meter dari depan mobil. Badannya kurus kering, tak berotot sama sekali, berbaju compang camping. Simbolis sekali dengan keadaan pribumi saat itu. Namun jangan salah, tatapan matanya lebih tajam daripada tatapan mata gagak yang tengah Tuan Tanah bawa. Di tangan kanannya memegang erat sekepal batu yang disembunyikan dibalik badannya. Mulutnya nyengar nyengir sambil mengupil. Keherananpun muncul tiba tiba, baik Tuan Tanah dan semua pribumi. ” Siapa gerangan anak isungan tak tahu diri ini” pikirnya. Kemudian Tuan Tanah turun dan mendekatinya. Tak ayal, batu sekepal itupun langsung dia layangkan kemuka Tuan Tanah dan tepat mengenai pelipisnya, anak itu segera lari antah barantah, menyatu dengan kepungan pribumi dan ajudan, Tuan Tanah merah padam. ” Bangsat, tangkap dia hidup hidup, biar kucincang dia” geramnya. Suasanapun tak terkendali. Penduduk pribumi yang sebelumnya berjejer rapi pun berhamburan, ajudannya pun berlarian mencari anak ingusan tersebut.
 
”sekaranglah saatnya” ujar pemuda bertubuh kekar sambil mententeng sebilah golok yang diselipkan di pungungnya. Yang sedari dulu menunggu saat yang tepat.
Tuan Tanah yang masih merah padam nampak kebingungan, celintutan tak tahu arah. Ajudanya juga antah barantah menghambar, dia menoleh ke kanan, berbalik badan dan seterusnya. Burung gagaknya yang berada dipundaknya pun juga nampak kebingungan, namun tak kuasa, takut akan keramaian. Tuan Tanah masih kebingungan, melayangkan pandangan, ke Utara, dan ke....
”clllrarkkkkk” sabetan golok pemuda itupun mengenai bahu sebelah kanannya, dia tersungkur di daratan. Gagaknya hampir terlepas. ”bedebaaaahhhh.... tangkap dia” serak Tuan Tanah yang sekarang berdarah dan mengerang kesakitan. Tapi sia sia, pemuda itupun sudah mempunyai banyak kawan, sedangkan ajudan Tuan Tanah berhamburan tunggang langgang melihat dalangnya tersungkur.
”aku lebih merasa kesakitan dari pada kau, Tuan Tanah yang pongah” ucap pemuda itu. Dengan sigapnya, dia menendang kepala Tuan Tanah, hingga terpental. Kemudian pemuda yang lain menyabetkan goloknya di pelipisnya, dan berdarahlah semua. Dia mengerang ngerang kesakitan. Hingga sabetan terakhir pemuda itupun mengakhiri hidupnya, tepat mengenai setengah tengkorak dan keluarlah bagian otaknya.
Gagaknya yang sedari tadi mondar mandir pun kegirangan, tanpa disuruh dia pun segera mematuk mata Tuan Tanah yang menemani bersenda gurau disaat senja. Mencakar cakar muka Tuan Tanah, dan memakan bagian dalam tempurung otaknya. Pribumi pun kegirangan melihat tuan Tanah telah tergeletak. Berhuru hara menyambut kegembiraan mereka. (Halim NY. Blitar-2012)