The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 21 Mei 2018
Selasa, 03 Maret 2015 09:08

Begal Bakar

Seandainya kita nggak punya asosiasi terhadap makna kata "begal", judul di atas kedengaran seperti nama makanan nggak sih? Jagung bakar, roti bakar, ayam bakar, begal bakar...
Nah, berhubung karena begal itu adalah dari jenis orang, maka ngebayanginnya pasti bakal menjijikkan.
Berdasarkan pemantauan sekilas yang hanya bisa saya pertanggungjawabkan dengan akal pendek saya, kebanyakan orang setuju kalau begal dibakar. Saya baca di komentar-komentar atas posting soal begal yang dibakar kemarin hari itu, nampaknya orang-orang pada semangat mendukung pembakaran. Yang menolak hanya segelintir saja. Yang menolak itu lebih suka begal direbus atau dicincang. Lantas ada berapa yang meneriakkan suara semacam "Jangan Main Hakim Sendiri", "Apakah balas dendam bakal menyelesaikan persoalan?" dan semacamnya? Wah lebih sepersegelintir lagi...
Bantai begal bukan hal yang baru dalam tatacara hukum rimba di Indonesia. Metodenya pun macam-macam. Ada yang dibakar, dimutilasi, ditumbuk dan lain-lain. Budaya ini juga berjalan seiringan dengan jargon keramahan dan kesantunan nusantara. Jangan kaget sama orang kita yang ramah tamah namun begitu disakiti bisa beringas mencacah. Ada yang mau macam-macam sama massa marah? Wah hancur dah. Bahkan sampai-sampai ada kosakata Inggris soal amarah yang diadopsi dari bahasa bangsa ini....amok. Amok alias ngamuk.
Memang sebagai rakyat kecil yang hatinya diliputi kegelisahan dan kegemasan (terhadap kondisi bangsa), tidak mudah untuk menjadi seorang pemaaf. Ketika aparat sudah tak bisa dipercaya, rakyat akan kembali kepada hukum dasar balas dendam; sakiti bagi yang menyakiti, bunuh bagi yang membunuh.
Akan tetapi kenapa kok begal dibakar tapi koruptor maha begal tidak?
Nah, barangkali rakyat punya perhitungan sederhana. Koruptor punya banyak pengacara yang bisa merepotkan, sedangkan begal kelas nyamuk tidak. Makanya tidak ada masyarakat bakar koruptor.
Kalau bakar koruptor, ntar bakal ada yang diperkarakan. Ada tuntutan ini dan itu. Lagian kurang heroik dan repot. Mau nelanjangin repot karena pake jas. Bakar sekalian jas-nya? Eman-eman. Bandingin ama nelanjangin begal motor. Tangkep, tumbuk, lucuti, bakar. So simple....semacam membantai tikus got nyasar. Sekali kita teriak "begaaaaaallll" yang kedengarannya seperti kata "bakaaaar", masyarakat akan otomatis sigap lahap beringas dan tuntas.
Kalau mereka 9pembakar begal) ditanyain, "Nah kalau begal dibakar tapi kok koruptor dibiarkan? Di mana keadilan?"
Mungkin jawabnya pragmatis, "Coba keluarga situ jadi orban begal...."
Rasanya masyarakat pembakar begal punya alibi cukup. Mereka merasa legal membakar begal karena ngerampok secara langsung. Langsung dirasakan dampaknya dibanding koruptor. Lebih mudah melampiaskan rasa ingin keadilan dengan jalan vigilante, yang tidak melewati proses politis. Kayaknya sih...
Kita ini masyarakat yang terlatih dalam mobilisasi massa. Kalaupun susah dilacak sejarahnya sejak jaman Gajah Mada, paling tidak bisa kita mulai sejak tahun 65an lah. Ketika dalam kerumunan dipenuhi gejolak emosi, masyarakat dengan mudah gampang bisa diajak main bunuh. Perkara salah sasaran itu lain lagi.
Kalau ada yang menggugat kenapa kok tidak diserahin polisi, masyarakat akan jawab...emangnya itu bakal menjamin nggak akan ada begal lagi? Apakah membakar begal juga akan menjamin rakyat aman dari begal? Ya nggak tahu...pokoknya puas aja bisa bakar begal.
Masyarakat bukan hanya butuh keadilan, mereka juga butuh pelampiasan akan kegeraman. Geram ketika aparat sibuk bertikai dan mereka serasa tak ada harapan untuk berlindung. Siapa yang akan melindungi masyarakat dari monster yang lahir karena ketimpangan-ketimpangan? Tak semua bisa melampiaskan kegeraman dengan menulis, menggambar, membuat musik. Lho kok?....
Hey...jangan tudang-tuding saya! Saya tidak hendak membela pembakaran begal. Saya cuma mencoba memahami fenomena yang timbul ketika kami...iya kamiiiii....kami yang kehilangan kepercayaan pada aparat dan institusi yang harusnya menjadi pelindung kami.
Sekarang ini jujur aja kami terus waswas ketika keluar malam. Di pinggang terselip kerambit. Buat jaga-jaga meskipun kami juga belum tentu bisa menggunakannya. Nanti kalau dibegal, kalau kami berhasil membeladiri, apa jaminan kami tetap selamat dari perkara? Gimana kalau kami malah dituduh jadi pembunuh? Gimana kalau kami malah diperkarakan?
Kami butuh kepercayaan bahwa kami baik-baik saja dengan aparat yang itu-itu dan itu. Di POLRI maupun KPK.
Mbuh lah...wis mbuh obong wae begalmu...tapi jangan di depan mataku.

Tentang bakar begal itu saya tidak memahaminya dari kacamata norma sosial maupun nilai-nilai keluhuran budi perilaku, melainkan dari sudut pandang holistik saya tentang konsep "energi" smile emotikon (cieee ndasku amoh...) belum nemu istilah yang lebih spesifik jadi saya pinjam istilah umum...energi.

Energi yang tertahan dan tidak termanifestasikan, akan mencari jalan sebanding dengan besarnya upaya menahannya. (catet tuh!...cieee)

Sudah berapa lama "energi" primitif dalam diri bangsa ini tidak termanifestasikan sehingga menjelma menjadi tindakan yang terkesan barbar dalam peradaban post modern?

Kita dicekoki dengan mitos sebagai bangsa yang menjunjung kesantunan, keramahan, kealusan blah blah...tapi di lapangan?

Kejahatan kerah putih kita maafkan, kejahatan kampung insidental kita sikapi secara ganas. Tapi kalo dipikir dan dirasakan secara primitif...ncen luwih kroso ngajar begal ngiahahahaha...

Sementara itu tak sadar kesempatan hidup kita yang sulit sebenarnya karena dikeroposi ama begal-begal cerdas di ruang sana. Mereka masih menikmati AC di kantor-kantor, hotel dan kafe.

Ya gitu lah...karena dampak yang mereka timbulkan itu lebih sistemik alias nggak keroso secara langsung.

Energi kita ditekan terus dalam mitos-mitos kesantunan sementara jika terjadi pelanggaran, rasa adil kita masih belum dipenuhi. Nggak salah juga ada yang bilang begal masuk penjara itu justru untuk bermutasi jadi lebih ultra begal lagi.

Konon kalo di negara maju, energi primal tadi itu dikelola oleh institusi dalam wujud tanggungjawab profesional.

Kriminal diadili, ada yang harus kerja sosial buat penebusan, ada hak-hak yang dilindungi tanpa membayar di luar pajak. Yaaa bukan berarti nggak ada penyimpangan loh...namanya juga manungsa kan...

Setidaknya masyarakat terayomi...energi mereka tidak akan mudah dipancing untuk mengamuk. Nah kan biasanya hal-hal gini merambat berbarengan dengan isu-isu tertentu. Abis ini jangan kaget kalo energinya mrambat ke beberapa tempat, lalu berhenti dengan sendiri....kayak monster yang keluar musiman.

So guys...ini bukan soal benar dan salah grin emotikon this is about the energy! Kuwi rumangsaku dhewe loh yo.

Paling tidak untuk perbandingan enteng-entengan....Coba tanyakan pada Senpai saya Jack Idrus, soal peristiwa pengejaran maling celana dalam di Jepang kemarin. Tidak ada bakar-bakaran kan? Padahal celana dalam adalah kehormatan hakiki. Bayangin aja naik motor tanpa celana dalam....dan tanpa SIM. (Ckkk ngawur wae mbandingke begal motor karo begal sempak...rumangsanya itu loh)

Once more kaping pisan maning...bukan soal salah dan benar. Ini siklus energi.

Penulis: Gugun Arief Gunawan alumni sastra jepang UGM