The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Selasa, 21 Agustus 2018
Selasa, 16 April 2013 15:13

Pendekar Ayu Sabrang Lor

Kaki-kaki kecil ini terus membuatku ingin tetap melangkah menuju ke luar dari hutan lembab dan dingin ini. Hanya masih kubawa ditangan kananku sebilah golok yang menemani. Hutan terlihat sangat lebat. Apabila semakin menuju gelap, suara-suara hewan buas mulai melengking dan menunjukkan diri mereka. Tubuhku yang kecil tak pernah berpengaruh dengan mental kuatku. Ribuan kali Ibuku yang merupakan seorang pendekar selalu melatih untuk membentukku menjadi seorang ksatria tangguh. Pendekar ayu sabrang lor adalah julukan Ibuku dalam dunia persilatan. Kini Ibuku melakukan pertapaan di sebuah bukit di balik gunung raksasa ini. Aku masih mengitari gunung ini untuk menuju ke bukit dimana ibuku berada. Sebuah berita tentang tentang Gerombolan Maling Abang yang telah melakukan perampokan besar-besaran di desa harus didengar oleh Ibuku. 

Masih terus berjalan di antara pepohonan besar dan semak-semak. Terkaget aku dengan suara auman kucing besar. Benar. Tiba-tiba meloncat dari arah semak seekor harimau besar yang sedang kelaparan. Meloncat aku kebelakang. Aku amati tingkah polah hewan raksasa itu. Mencoba dia menerkamku. Kembali aku meloncat ke arah kiri. Kutangkupkan tangan di depan dada. Kurasakan aliran tenaga dalam mulai mengalir deras dalam tanganku. Begitu luar biasa besar. Tidak menunggu waktu lama harimau itu meloncat dan ingin menerkamku. Tanganku segera aku ubah menjadi dorongan ke depan. Tepat mengenai perat harimau itu. Seketika harimau itu terpelanting dan mati.

Sekelebat bayangan putih bertebangan di atas peohonan. Tak berapa lama muncul di depanku.

"Siapa kisanak" Tayaku

"Maaf denbagus, saya tidak bermaksud mengganggu denbagus. Saya melihat jelas perkelahian den bagus yang masih berusia sangat muda mampu menewaskan seekor harimau. Maaf saya lancang den bagus, Ada hubungan apa den bagus dengan Pangeran Warendrajati. Jurus yang kisanak keluarkan tadi adalah jurus beliau"

Aku termenung. Ayahku yang sejak kecil melatih jurus ini padaku. Ayahku adalah orang kampung biasa dan bernama suparmin. 

"Maaf kisanak saya tidak mengenal nama yang anda sebutkan. Ayahku yang mengajarkan ini padaku."

Kulihat irang dengan baju-baju putih dan terlihat kuat ini terdiam dan tersenyum. 

"Den bagus akan menuju kemana"

"Saya akan menuju ke bukit di balik gunung ini kisanak. Aku harus memberikan sebuah berita kepada ibuku yang sedang melakukan pertapaan"

"Siapakah nama ibumu den bagus"

"Pendekar Ayu Sabrang Lor"

Ku lihat raut wajah orang itu tersentak kaget. 

"Ada apa kisanak, apakah kisanak mengenalnya"

"Siapakah pendekar yangtidak mengenal nama itu. Sosok wanita yang memiliki kharisma luar biasa dan sakti. Seorang wanita yang mampu memberikan sebuah perngorbanan besar untuk orang yang membutuhkan. Dia adalah seorang wanita satu-satunya di dunia persilatan yang tak terlihat sebagai seorang pendekar. Namun beliau adalah seorang wanita yang meneteskan air-air penenang dalam panasnya dunia persilatan"

------CERPEN MENYAMBUT HARI KARTINI-------------- BERSAMBUNG.

Penulis adalah Erwin Sidatta Kontributor Kolom Sastra Post Institute tinggal di Kediri