The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Rabu, 17 Oktober 2018
Kamis, 14 Maret 2013 16:52

Beringin Kembar Di Hutan Yang Gersang (cerpen)

Laki-laki tua itu tanpa baju. Hanya celana hitam kumal yang menempel di badannya. Kumis dan brengos tumbuh tak terawat membuatnya terlihat garang. Dia duduk di bawah pohon beringin kembar yang tumbuh di tengah hutan yang gersang. Rambut hitam khas asia sudah tak terlihat lagi, tergantikan dengan warna putih mengiringi lamanya dia berada di alam nyata ini. Tangan kanannya memegang sabit sembari di asahnya pada batu besar yang ada tepat di bawah salah satu pohon beringin kembar itu. Aku mencoba berjalan dan mendekatinya. Semakin dekat dan dekat. Benar-benar terlihat kesederhanaan yang kuat. Kengerian itu kurasakan saat kulihat rambut-rambut yang memenuhi wajahnya. Kuhentikan langkah kakiku saat kulihat dia juga menghentikan mengasah sabit.
"Nak mas, kenapa berhenti. Apakah tampang saya sangat mengerikan. Apakah begitu menjijikan untuk didekati seorang anak manusia"
Sangat terkaget aku mendengar orang tua itu berbicara. Perkataanya begitu mengena. Belum sekalipun aku berbicara dia sudah dapat mengatakan apa yang aku fikirkan.
"Kenapa nakmas masih berdiri, silahkan kesini. Istirahat sebentar"
Segera kulangkahkan kaki kembali menuju arah orang tua itu. Tempat yang sejuk kurasa untuk istirahat.
"Nakmas dari mana, mau kemana"
"Saya Panji, dari Padepokan Kyai Bumi. Saya di utus guru saya untuk mencari ringin kembar. Setelah sampai ringin kembar nanti akan bertemu dengan seorang raja memakai mahkota kasat dan Jubah Indah. Tapi yang saya temui anda disini dan tidak ada orang lain"
Kulihat orang itu tersenyum manis. Matanya memperlihatkan ketenangan dan kedamaian, dan tidak berkata apapun.
“Apa yang ingin kamu cari setalah bertemu dengannya”
“Saya ingin belajar darinya”
“Baiklah nakmas. Saya tahu dimana dia berada.”
Tak lama kemudian orang tua itu berdiri. Meminta izin untuk meminjam udeng yang aku pakai. Kemudian melipat-lipatnya hingga berbentuk panjang dan pas dengan mataku.
“Nuwun sewu nakmas, biarkan orang tua ini untuk menutup mata nakmas dengan ini ya”
Aku mengangguk begitu saja sebagai pertanda aku mau. Sebelum mataku tertutup, di tuntunnya aku menuju ke arah selatan tepat 100 meter dari arah jalan menuju di antara beringin kembar tersebut. Dengan segera orang tua itu menutup mataku. Dia menyuruhku untuk segera melangkah menuju ke antara beringin dan melewatinya. Semua tak terlihat sama sekali. Gelap. Tak ada cahaya satupun.
“Silahkan berjalan nakmas, dan temui sang raja”
Aku mencoba melangkahkan kaki perlahan tapi pasti untuk melewati di antara beringin kembar tersebut. Tak kuduga, tiba-tiba suara-suara aneh bermunculan. Aku seperti berada di tengah pasar. Aku terdiam. Bagaimana mungkin dalam fikirku. Suara keras, tangisan anak-anak, dan beragam suaran lainnya muncul disini. Aku terus melangkahkan kaki mencoba menenangkan diri dan terus melihat ke dalam ketengan diri. Suara itu tiba-tiba tak terdengar. Sungguh ajaib. Terus aku langkahkan kaki dengan tenang.
“Sudah nakmas berhenti”
Tangan tua itu mengelus bahuku, kemudian membuka kain yang menutup mataku. Begitu terkejut aku. Sama sekali aku tidak berpindah dari tempatku. Sejak tadi perasaan aku sudah melangkah melewati pohon itu. Apakah penglihatan batinku salah. Baru kali ini batinku salah. Orang tua itu kembali terlihat tersenyum.
“Apa yang nakmas rasakan”
“Saya merasa tadi saya sudah berjalan. Mendengar beragam hal. Mengikuti hati. Dan terus berjalan. Kenapa saya masih berada pada tempat saya”
“Mahkota kasat adalah apa yang ada dalam fikiranmu pertama kali saat kamu mencoba untuk melewati pohon beringin kembar. Kamu akan menggerakkan tubuhmu untuk mencoba melewati beringin itu hanya dari fikiranmu yang belum tentu itu akan kau dapatkan. Sedangkan Jubah Indah adalah apa yang kamu lihat saat aku menutup matamu. Semua begitu gelap. Tapi terasa indah saat kamu dapat melihat cahaya, gambar, menuju ketenangan hatimu. Tak mudah terpengaruh dengan apapun untuk menuju tujuanmu. Itulah sang raja dengan mahkota kasat dan jubah Indah”
Angin tiba-tiba bertiup kencang. Mataku berkedip. Orang tua itu hilang seperti terbawa angin. Aku seperti orang linglung. Pelajaran yang singkat nan dalam dari seorang tua yang sederhana namun terlihat sangar dari penampilannya tapi mampu memberikan pelajaran yang dalam. Tak ku ketahui nama beiau. Apakah beliau wali, Auliya’, Pendekar, atau apa. Beliau telah memberikan pelajaran hebat.

Penulis adalah Erwin Sidatta Mahasiswa STAIN Kediri Jurusan Ilmu komunikasi pernah PKM di Post Institute