The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 17 Desember 2018
Rabu, 01 Agustus 2012 12:49

Santren dan Pengrajin Kayu Di Kota Blitar*

Arif Agus Setiawan**. Mendengar istilah Santren telinga kita pasti tertuju pada sebuah nama Pondok Pesantren, tetapi yang satu ini bukanlah hal yang dimaksud diatas. Santren merupakan sebuah nama lingkungan, atau ada yang menyebut dengan perdukuhan. Lingkungan ini sendiri termasuk salah satu wilayah kelurahan Tanggung kota Blitar. Kelurahan Tanggung secara geografis terletak disebelah utara kota Blitar, atau yang tepatnya utara makam Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno.

Tanggung dibagi menjadi 3 lingkungan diantaranya ialah Santren, Tanggung dan Mbadut, yang walaupun secara tata administrasi pemerintahan pembagiannya lebih meliputi wilayah Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Pada tulisan ini, akan lebih fokus membahas lingkungan Santren dan para pengrajin kayunya. Sementara untuk lingkungan Tanggung dan Mbadut tidak akan menjadi prioritas pembahasan, walaupun saat ini sudah ada beberapa pengrajin kayunya. Maksud dan tujuan tulisan ini adalah memberikan gambaran sejarah lingkungan Santren dan pengrajin kayunya melalui sumber-sumber lisan. Dengan adanya kelemahan pada tulisan ini, kami berharap semoga mampu menjadi pengantar hadirnya tulisan-tulisan lain yang lebih sempurna. Hal ini mengingat, banyaknya sejarah perkampungan di wilayah kota Blitar yang sampai saat ini belum mampu terdokumentasikan secara tertulis dengan baik.

Lingkungan Santren dan Awal Mula Pengrajin Kayu

Santren merupakan lingkungan sederhana yang terletak paling ujung timur di kelurahan Tanggung. Nama lingkungan ini sempat mencuat diberbagai perbincangan, hal ini disebabkan para pengarajin kayunya yang telah menjadi kultur dari keseharian mereka. Nama Santren menurut cerita warga setempat bukanlah suatu kebetulan. Nama tersebut mempunyai makna santri atau sholeh, asal mulanya dikarenakan warga setempat mempunyai sifat-sifat yang taat terhadap Agama Islam walaupun pada perkembangannya saat ini tidak semua demikian. “lek nyantri tanggung-tanggung mbadut tho ae, yen wis mari mbadut ndang nang jedingo” (kalau menjadi santri setengah-setengah melawak saja, jika sudah selesai melawak segera ke kamar kecil untuk membersihkan diri). Nyantri dapat diartikan sebagai nama lingkungan Santren, sedangkan Tanggung dan Mbadut juga lingkungan yang terletak disebelah baratnya. Sementara untuk lingkungan Jeding bukan termasuk dalam wilayah kelurahan Tanggung, tetapi berada tepat disebelah barat lingkungan Mbadut. Pepatah tersebut diatas, memang sudah menjadi cerita umum yang berkembang di semua warga. Untuk sejarah tanggal, bulan dan tahun berdirinya lingkungan Santren memang sulit untuk ditelusuri, tetapi paling tidak siapa perintis awalnya dapat diungkap melalui penuturan lisan warga setempat. Perintis awal dalam istilah jawa sering disebut mbabat ialah Kyai Abdul Jamal atau sering dipanggil sebagai Mbah Jamal. Keluarga Mbah Jamal merupakan salah satu pengikut pangeran diponegoro, paska perang Jawa memang banyak para pengikut Diponegoro yang melarikan diri ketimur. Seperti penuturan Mbah Maun yang juga masih keturunan Mbah Jamal: “Soale sing mbabat mriki niku itungane kan tasik termasuk anak buah,e Diponegoro” (karena yang merintis daerah sini itu kan hitungannya   masih termasuk pengikutnya Diponegoro). Biasanya, dihalaman rumah sebelah kanan para pengikut Diponegoro yang melarikan diri ketimur selalu ditandai dengan pohon Sawo. Memang belum ada penjelesan yang benar mengenai makna adanya pohon Sawo tersebut. Untuk rumah Mbah Jamal sendiri saat ini sudah menjadi sebuah Masjid besar dilingkungan Santren. Di selatan Masjid, menurut cerita terdahulu ada sebuah Pondok Pesantren pimpinan Mbah Kyai Jamal. Pondok Pesantren tersebut berdirinya pun tidak ada keterangan tertulis, tetapi diperkirakan sekitar tahun 1830an lebih. Cerita tentang Pesantren tersebut memang tidak banyak diketahui warga saat ini, tetapi sebutan Kali Pondoklah yang masih sering terdengar. Makam Mbah Jamal yang terletak di selatan Masjid, sampai saat ini masih terawat dengan baik. Dari cerita diataslah, maka sampai saat ini nama lingkungan disebut dengan Santren.

Sedangkan, mengenai sejarah awal mula pengrajin kayu dan penemu mesin bubutnya juga masih sulit untuk diungkapkan. Walaupun begitu ada cerita yang dapat diambil dari penuturan warga setempat. Hubungan antara pengrajin kayu dan lingkungan Santren ini memang tidak dapat dipisahkan, karena mata pencaharian tersebut sudah dapat dikatakan menjadi kultur sehari-hari warganya. Keberadaan mesin bubut kayu saat ini juga menjadi salah satu modal warga dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Lingkungan Santren sendiri dibelah oleh sungai kecil yang mengalir dari utara keselatan, dan penemu awal mesin bubut kayu adalah warga barat sungai. Mbah Toirono merupakan sosok yang sering disebut sebagai penemunya, dan mengenai tahunnya berkisar diantara tahun 1830an lebih. Penemuan ini berawal ketika di jaman pemerintahan Hindia Belanda. Pada waktu tersebut ada orang Belanda yang memberi contoh barang bulat dari bahan besi, lalu memesan dengan bentuk bulat juga tetapi harus terbuat dari kayu. Setelah ada pemesanan tersebut Mbah Toirono sempat kebingungan, karena harus menggunakan alat apa untuk membuat barang tersebut. Di kemudian hari beliau menepi untuk mencari wangsit, tetapi ada cerita lain bahwa hal tersebut didapatnya dari bermimpi. Untuk mesin bubut awal tidak menggunakan teknologi seperti sekarang ini, tetapi terbuat dari bambu dan cara menggerakannya harus menggunakan kaki atau istilah jawanya dipancal. Sedangkan penggunaan teknologi mesin dimulai tahun 1980 keatas, itupun tidak semua para pengrajin kayu menggunakannya.Dari tahun ke tahun perkembangan mesin bubut sudah begitu canggih, dari menggunakan mesin selip sampai memakai dinamo listrik. Sementara untuk prodak awal yang diproduksi adalah bogem, bokoran, kinangan, cemplukan, berko dan spul. Prodak seperti bogem dan cemplukan memang merupakan barang yang sering dipesan orang Belanda saat itu untuk menyimpan perhiasan. Penjualan prodak saat itu dilakukan dengan berkeliling dengan cara memikul barang dagangannya. Dari jaman ke jaman dan banyaknya jenis pemesanan barang, maka prodak mulai berkembang dari kendang, yoyo, asbak, skak sampai mainan anak-anak lainnya. Awal mula prodak kendang sendiri dimulai sekitar permulaan tahun 1990 keatas ketika ada pemesanan. Saat itu ada orang Australia dan Bali yang memesan kendang dengan memberi contoh bentuknya, mulai saat itulah kendang merupakan prodak unggulan warga lingkungan Santren. Untuk prodak yoyo ketika paska tragedi tahun 1965 pernah sempat dilarang. Hal ini karenak yoyo dianggap sebagai mainan orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI), dan isu tersebut dihembuskan oleh para pedagang mainan Malaysia yang kalah bersaing dengan pedagang dari Santren. Prodak kerajinan kayu biasanya dibuat dari kayu mauni, tetapi juga tidak menutup kemungkinan dari kayu sawo, waru dan nangka.

Perkembangan dan semakin banyaknya para pengrajin kayu tentu membuat berbagai dinamika yang terjadi, baik itu kompetisi antar pengrajin yang tidak sehat seperti melakukan banting harga dan persaingan dalam bentuk lainnya. Maka pada tanggal 9 Juli 2003 atas kesepakatan dan kesadaran bersama terbentuklah Paguyupan Pengrajin Bubut Kayu Kelurahan Tanggung (P2BKKT) yang diresmikan oleh Walikota Blitar. Untuk visi dan misi paguyupan tersebut adalah mempererat hubungan antar pengrajin dan memediasi kepentingan bersama dengan pihak-pihak lainnya. Tidak begitu lama setelah peresmian paguyupan tersebut, kelengkapan legalitas seperti akta notaris pun dipenuhinya. Menurut penuturan Heri Sukanto para pengrajin yang tergabung dalam paguyupan juga diberi kartu anggota. “Dari paguyupan itulah kita koordiner, kemudian memiliki kartu anggota, kemudian kita mencari rumusan-rumusan kesepakatan”. Sedangkan reorganisasi pengurus dilakukan 3 tahun sekali dan tidak ada batasan periode waktu untuk jabatan sebagai ketua paguyupan. Pada saat ini paguyupan sudah berjalan 3 periode, ketua untuk periode pertama adalah Heri Sukanto, sedangkan untuk periode kedua dan ketiga bapak Romdhani. Sementara, untuk tahun ini jumlah anggota paguyupan berjumlah 125 pengarajin dan semua merupakan warga kelurahan Tanggung. Biasanya jadual pertemuan anggota paguyupan diagendakan minimal 1 kali dalam setahun, sedangkan untuk pengurus mengadakan pertemuan 3 bulan sekali. Selain itu paguyupan juga mendirikan koperasi bagi para pengrajin yang tergabung di dalamnya, koperasi tersebut diberi nama Taruaji dan tempat sementara berada di kios Bapak Heri Sukanto. Saat ini keberadaan koperasi dapat dikatakan kurang berkembang, hal ini disebabkan tidak ditanganinya secara serius. Tidak hanya sebagai wadah tali persaudaran para pengarajin, paguyupan juga berfungsi mengurusi hal-hal teknis seperti memberi surat jalan pengiriman barang, surat jalan ketika melakukan pembelian kayu dan juga memberikan pembinaaan dan pelatihan kepada para pengrajin.

Namun dengan adanya sebuah paguyupan tidak serta merta semua hal dan permasalahan dapat terselesaikan dalam wadah tersebut. Banyak dinamika yang tentu terjadi dalam lingkungan para pengrajin tersebut, baik itu kurang nyamannya bergabung dalam paguyupan maupun kondisi-kondisi lain yang mempengaruhinya. Memang untuk pemasaran, para pengrajin harus mencari order sendiri-sendiri, sedangkan stok kayupun pengarajin juga harus mencari pemasok sendiri. Persaingan dalam memperebutkan akses pemasaran merupakan permasalahan vital dalam urusan pengrajin, karena hal tersebut sangat mempengaruhi keberlangsungan sebuah usaha. Dari hal diataslah, akhirnya hadir dan munculnya para pengepul yang menjadi penyalur prodak-prodak pengrajin kecil yang secara akses pemasaran dan modal kesulitan. Memang pada tataran tertentu seperti masalah akses pemasaran, pengrajin yang mampu memperebutkan wilayah tersebutlah yang akan dapat terus bertahan. Dalam tingkatan struktur kelas pengrajin dapat dibedakan menjadi, pertama. Pengrajin buruh, yaitu mereka-mereka yang memiliki skill kemampuan dalam perkayuan tetapi tidak memiliki fasilitas dan modal dalam menjalankannya, akhirnya mereka harus bekerja dan menjual tenaganya kepada pengrajin besar yang secara fasilitas dan modal sudah cukup mapan. Kedua, pengrajin buruh yang mandiri, yaitu mereka-mereka yang memiliki fasilitas dan modal cukup terbatas, walaupun mereka memproduksi prodak sendiri terkadang harus memasarkan barangnya lewat pengepul. Selain itu, mereka juga mengerjakan pemesanan prodak-prodak dari pengrajin besar. Ketiga, pengrajin besar, yaitu mereka-mereka yang secara fasilitas dan modal sudah cukup mapan serta mampu untuk mengembangkan usahanya sendiri. Dari permasalahan dan dinamika yang terjadi diataslah, seharusnya paguyupan mampu menjadi wadah dalam memediasi kepentingan pengrajin kayu dalam mengembangkan usahanya. Setiap pengrajinpun juga harus menjadi pribadi-pribadi yang kritis dalam mengawal berjalannya paguyupan, dan tidak hanya menyimpan kekesalannya semata. Pemerintah yang sudah terlanjur memberikan label kelurahan Tanggung menjadi kampung wisata, seharusnya pun lebih memberikan perhatian dan mengetahui gambaran sejarah serta dinamika yang terjadi didalamnya, mengingat kampung ini sudah menjadi icon kearifan lokal wilayah kota Blitar. Keunikan dari cerita sejarah lingkungan Santren beserta pengrajin kayunya, merupakan potensi-potensi lokal yang terus perlu untuk dijaga dan dilestarikan.

*Pernah dimuat di Etnohistori.org 05 Agustus 2012