The Postinstitute

"Empowering People, Fighting For Justice & Democracy"

Senin, 21 Mei 2018
Selasa, 10 Juli 2012 12:02

Tata Ruang, Sebuah Pertanyaan Tentang Managemen Lahan

Suatu ketika saya pernah terganggu oleh berisik anak-anak tetangga bermain gundu. Selain suara sorakan mereka, bunyi kelereng beradu menimbulkan rasa risih. Sangat berbeda jika kita mendengar suara pandai besi bekerja yang berirama (kebetulan rumah saya waktu kecil dekat dengan pandai besi). Suara kelereng beradu tidaklah teratur. Pada awalnya ingin saya usir saja anak-anak itu. Tapi kemudian saya sadar, bukankah mereka bermain di dekat rumah saya karena tak ada pilihan tempat lain? Bukankah sekarang ini halaman dan pekarangan yang luas sangatlah jarang? Ini membawa saya ke perenungan tentang tata ruang lingkungan yang makin amburadul saja hari ini.

Ketika saya masih kecil, ada banyak tempat untuk bermain. Ada banyak ladang, sawah, kebun, tegalan, pekarangan, halaman, lapangan, jalan kampung yang masih sangat luas untuk bermain. Permainan kami pun banyak ragam seperti bentengan, benthik, gobak sodor, jamuran, perang-perangan, main gundu, petak umpet atau jumpritan dan lain-lain. Yang jelas permainan tersebut selalu bersifat massal. Kami saling kenal baik dengan anak-anak sebaya bahkan sampai ke RT tetangga. Dan yang jelas waktu itu kebanyakan lahan bermain masih berupa tanah yang baunya sangat khas sehabis hujan.

Jika dilihat sekarang, semua lahan tempat kami bermain telah hilang. Bangunan baru telah merampas kehadiran mereka. Dari pekarangan rumah hingga sebagian tanah sawah telah ditanami beton. Kalaupun ada sisa ruang atau jalan bisa dipastikan telah tertutup plester semen dan aspal. Dulu anak-anak bermain telanjang kaki, sekarang semua pakai sandal. Maka kita menjadi asing dengan bau-bau humus. Kita tak bisa lagi mencabuti rumput-rumput liar yang akarnya menyimpan istana semut. Tak ada lagi gobak sodor, petak umpet dan sebangsanya. Adapun permainan gundu yang mengusik saya tadi sebenarnya adalah fenomena langka.

Yang saya cemaskan sebenarnya bukan sekadar sisa kenangan masa kecil yang terampok, melainkan lebih besar lagi yaitu masalah Tata Ruang. Semakin menyempitnya ruang untuk bergerak menimbulkan banyak kesulitan dan sejumlah ancaman.

Saat ini kebanyakan di pekarangan rumah dipaksakan untuk didirikan bangunan baru. Ada saja alasannya antara lain untuk tempat tinggal baru, disewakan sebagai rumah kontrakan atau kost, untuk tempat usaha dan atau sekadar ingin memperluas rumah utama saja. Dampak paling kecil adalah ketiadaan tempat untuk menjemur pakaian, anak bermain dan juga untuk menanam beberapa pohon peneduh. Itu sajakah? Mari kita cermati lebih dalam.

Ketiadaan ruang semacam pekarangan akan menyulitkan jika terjadi bencana. Kita tahu bahwa Indonesia adalah tanah rawan bencana gempa. Bayangkan, ketika terjadi goncangan dan setiap penghuni rumah panik, mau lari kemana? Jika lari ke jalan tentu kita akan bertumbukan dengan para pengguna jalan dan juga para penghuni rumah sepanjang jalan itu. Jalan akan menjadi sesak dan menyulitkan evakuasi. Bagi warga yang tinggal di gang-gang sempit dikelilingi tembok tebal lebih mencemaskan lagi. Tembok yang runtuh di gang tentu akan menutup jalur utama menyelamatkan diri. Itu belum terhitung jika interior rumah begitu sesak hingga penghuninya susah keluar. Yang memprihatinkan, masalah bencana mungkin akan lebih banyak tak dihiraukan karena sifatnya yang insidentil. Kedatangannya tak teramalkan. Begitu datang langsung makan sebanyak mungkin korban. Bandingkan jika kita masih punya ruang. Yang memungkinkan kita bebas bergerak. Jika terjadi gempa, mendadak kita bisa melompat di area yang aman dari jatuhan benda.

Mari kita lihat pengaruh yang lain lagi dari ketiadaan ruang. Dampak ini paling signifikan pada anak-anak. Anak-anak kampung tak lagi bisa bermain dengan gerakan yang bebas. Tak bisa lagi main layang-layang sambil lari ke sana ke mari. Mau main di mana lagi? lapangan cuma ada satu itupun buat latihan klub sepak bola. Akibatnya mereka main di jalan-jalan tempat motor lewat. Pengendara motor terganggu dan ngerinya, ada juga yang tewas karena terjerat benang layang-layang. Dulu lapangan ada banyak. Ada yang memang lapangan resmi (yang buat latihan klub itu) ada juga lapangan jadi-jadian alias tanah kosong. Selain aktivitas massal warga kampung seperti main bola, bulutangkis, bola voli dan hajatan 17 Agustusan, lapangan menjadi tempat favorit bagi anak-anak. Di situ mereka mengalirkan kelebihan energi sekaligus ajang bersosialisasi. Sejak lapangan-lapangan itu digusur tak ada lagi permainan yang melibatkan interaksi dengan banyak anak. Tak ada yang berkeringat karena berlari, melompat atau berguling-guling. Kini mereka lebih asyik dengan permainan soliter semacam Play Station. Kalau pun ingin main sepak bola ya main sepak bola virtual yang ada di game. Mereka berjam-jam menghabis waktu memelototi monitor dan terasing dengan lingkungan alam. Anak-anak jadi tak lagi kenal nama-nama tanaman lokal. Mereka tak sadar pentingnya tanah dan tumbuhan. Pantas saja jika nanti dewasa mereka tak peka dengan masalah lingkungan dan cenderung merusaknya.

Sempitnya ruang juga menjadi masalah lingkungan dan kesehatan. Tanah makin sempit, rumah berjejal-jejal. Limbah bergumpal-gumpal. Air tanah seperti ibu kelaparan kehabisan air susu. Kering sehingga tak ada buat meneteki anak-anaknya. Itulah ibu pertiwi yang daripadanya kita timba airnya. Semakin keruh dan cemar saja. Dulu di pekarangan kita bisa membuat sumur. Airnya jernih dan segar. Sekarang kita terpaksa membeli air. Perhatikan betapa kata "tanah air" semakin pudar maknanya, bagai corak batik yang tak dirawat. Di pekarangan yang sama, dulu masih tersisa buat tumbuhan untuk bercengkerama. Tetumbuhan yang mensuplai banyak oksigen sehingga kita tak merasa pengap. Kalau misalkan ada bau busuk akan segera diserap oleh tanah yang berhumus. Segenap karbon yang dibuang akan cepat dihirup pepohonan sehingga bayi-bayi bisa bernafas dengan udara bersih, yang tak merusak sel otak mereka, yang tak mengakibatkan gangguan fungsi organ di kemudian hari.

Dahulu kita juga bisa berolahraga sebebas mungkin di halaman. Dekat dengan tanah dan pohon. Lengan dan kaki kita bebas menggapai dan merentang-rentang. Kita bebas melompat dan meroda. Betapa sehat badan kita karena ruang memungkinkan banyak gerak ke segala arah. Ketika terik kita diteduhi pohon dan ketika hujan kita merasa sejuk oleh embunnya. Kita tahu, tempat hinggap terbaik untuk embun adalah dahan dan rerumputan. Ada banyak pohon, bunga dan perdu indah yang bisa kita tanam. Kita bisa membuat kolam agar bisa ditinggali ikan-ikan untuk menghibur mata yang melihatnya. Maka refreshing bisa dilakukan di rumah. Gratis atau setidaknya murah.

Namun kini, setiap siang kita kepanasan dan menyalakan AC. Sejumlah listrik kita konsumsi lebih besar dari sebelumnya setiap hari. Badan jadi penat namun untuk istirahat kita kurang tempat. Pikiran cepat tegang karena tak ada ruang untuk membuang pandang. Kalau mau olahraga dan menghibur diri harus bayar. Kita jadi tergantung pada gym, rumah sakit dan klab malam. Kalaupun tak sempat keluar rumah masih ada TV, video game dan internet sebagai pereda stress. Namun kembali lagi kita mengkonsumsi listrik berlebih dan lagi-lagi kurang gerak. Maka jadilah kita manusia rentan yang mudah jatuh sakit. Tentu saja saya tak hendak menafikan manfaat praktis listrik, TV, internet dan bahkan video game. Benda-benda ini jika digunakan secara berimbang tentu tak ada masalah.

O tanahku yang melahirkan ruang...
Betapa jarak yang sempit akan mengunci gerak
Dan gerak yang terkunci akan menghambat nafas
Mana lagi yang lebih dekat dari nafas terhambat selain kematian?

Saya sadar bahwa kekacauan tata ruang ini bukannya sekadar keteledoran personal. Ada carut-marut sistemik yang melingkupinya. Tata ruang selalu berhubungan dengan kondisi perekonomian dan pertambahan jumlah penghuni tanah. Pertambahan manusia memerlukan tempat tinggal baru dan perkembangan usaha memerlukan tempat dagang baru. Karena tanah bernilai ekonomis maka ia diperah agar menghasilkan. Dibangunlah bangunan-bangunan baru mengorbankan sisa-sisa ruang. Bangunan itu disewakan untuk mendapatkan modal baru yang akan diputar terus. Adanya keuntungan membuat penataan ruang berganti haluan dari privat ke profit.

Keuntungan seringkali membuat kita abai pada beberapa dampak. Dampak kesehatan bisa diabaikan. Toh kita bisa pergi ke stadion atau gym. Mungkin pohon jadi tak terlalu penting. Toh bisa kita tanam dalam pot. Membeli tanaman, pot, tanah dan pupuk malahan akan memberi keuntungan bagi toko tanaman. Susah bersosialisasi dengan tetangga juga bisa diatasi dengan internet dan HP. Kalau pun anak-anak kurang bermain toh bisa diajak ke mall. Soal bencana? Toh tak datang setiap hari.

Kita belum menghitung aspek-aspek politis dan religius yang meliputi ruang (baca: tanah). Jika itu ikut kita masukkan dalam neraca ukur, terlihatlah betapa rumitnya masalah tata ruang. Kita bisa melihat contoh betapa keadaan akan menjadi semakin runyam ketika faktor politik dan agama terlibat. Kita tahu sampai hari ini Israel-Palestina masih bersengketa masalah tanah. Kita juga sering membaca tentang rebutan tanah adat dan pihak pengusaha. Juga para pribumi dengan penambang bermodal asing. Jika dicermati secara menyeluruh, tanah meliputi segala aspek hidup manusia. Suatu hal yang logis karena ia adalah tempat kita berpijak dari lahir hingga mati. Karena itulah tanah juga disebut ibu pertiwi, a mother earth. Bunda yang menghidupi anak-anak kandungnya. Dan dalam konteks tata ruang, tanah identik dengan ruang itu sendiri.

Maka, teman-teman dan saudara-saudara yang pandai, kaya dan terhormat. Sejauh manakah kita memaknai tanah dan ruang? Apakah ia adalah sekadar faktor modal yang berpeluang memberi untung finansial? Ataukah ia masih kita muliakan sebagai bagian dari kehidupan kita? Bahwa tanah selain merupakan asal, ia juga tempat hidup dan tempat kita mati. Seberapa banyak kita menghargai tempat kita lahir, tumbuh dan berpijak? Seberapa banyak kita menghargai pohon, rumput dan bunga yang bersama mereka kita saling bertukar nafas? Seberapa banyak kita mencemari air yang kita minum dan buat mencuci muka kotor kita? Seberapa lebar ruang yang kita sisakan dari tanah yang kita kuasai? Dan bagi anda yang cendekia, saya tentu sangat mengharapkan solusi adil. Bagaimanakah kita bisa hidup bersama tanah, ruang dan segenap penghuninya dengan tidak saling merampas?

Penulis: Gugun Arief Gunawan adalah Alumni Sastra Jepang UGM tinggal di Blitar